Foto Messi dan Yamal Kecil: Pertemuan Takdir yang Kini Berseteru di Final Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Lionel Messi dan Lamine Yamal, yang pernah difoto bersama saat Yamal masih bayi, kini akan berhadapan di final Piala Dunia 2026.
- Tom Brady menyebut foto itu 'profetik', sementara Messi mengaku 'gila' karena harus menghadapi Yamal yang kini menjadi bintang global.
- Pertandingan ini menjadi simbol regenerasi sepak bola Spanyol dan Argentina, dengan Yamal berpeluang menjadi pemain termuda yang memenangi Euro dan Piala Dunia.

Sebuah foto yang diabadikan pada 2007 di Barcelona kini menjadi simbol takdir yang tak terduga. Lionel Messi, yang saat itu masih berusia 20 tahun dan mulai bersinar di Barcelona, menggendong bayi berusia lima bulan bernama Lamine Yamal. Delapan belas tahun kemudian, keduanya akan berhadapan di final Piala Dunia 2026 di New York, Minggu (14/6). Bagi Messi, momen ini terasa 'gila'โsebuah perjalanan waktu yang mempertemukan dua generasi berbeda dalam satu panggung terbesar sepak bola.
Foto tersebut muncul saat orang tua Yamal memenangkan undian sesi pemotretan amal di klub Barcelona. Kini, Yamal yang telah mewarisi nomor punggung 10 dari Messi di Barcelona, menjadi salah satu pemain kunci Spanyol. Ia membantu La Roja menjuarai Euro 2024, dan jika menang di final nanti, ia akan menjadi pemain termuda yang meraih gelar ganda Euro dan Piala Dunia pada usia 19 tahun. Messi, yang kini berusia 39 tahun, mengakui kualitas Yamal: "Dia adalah salah satu yang terbaik di dunia saat ini. Saya berharap yang terbaik untuknya, tetapi kami akan berusaha keras agar ia tidak menjadi juara kali ini."
Pernyataan Messi disampaikan dalam konferensi pers di New York yang juga dihadiri legenda NFL Tom Brady. Brady, yang pensiun pada 2023, menyebut foto Messi dan Yamal sebagai "sangat profetik". "Melihat foto itu dan sekarang mereka bermain di final Piala Dunia, itu luar biasa," ujar Brady. Konferensi pers yang dipandu mantan bek Inggris Rio Ferdinand dan aktor Kevin Hart itu juga dihadiri petenis Novak Djokovic dan bintang NBA Kevin Durant. Suasana sempat memanas saat Brady terlibat adu mulut dengan YouTuber Logan Paul, yang berujung pada tamparan ringan dari Brady sebelum dipisahkan oleh pemain New York Knicks, Karl-Anthony Towns.
Bagi Indonesia, pertandingan ini menyoroti pentingnya pembinaan usia dini. Kisah Yamal yang difoto bersama Messi lalu tumbuh menjadi bintang global mengingatkan pada potensi pemain muda Indonesia jika mendapat kesempatan serupa. Klub-klub Eropa seperti Barcelona telah lama menjadi kiblat pengembangan bakat, dan momen ini bisa menjadi inspirasi bagi akademi sepak bola di Tanah Air untuk lebih serius menjaring bibit unggul sejak dini.
Di sisi teknis, Argentina datang dengan status juara bertahan setelah menjuarai Piala Dunia 2022. Messi masih menjadi motor permainan, meski usianya tak lagi muda. Sementara Spanyol mengandalkan permainan kolektif dan kecepatan Yamal di sayap. Pelatih Argentina Lionel Scaloni dan pelatih Spanyol Luis de la Fuente memiliki hubungan khusus: de la Fuente pernah menjadi instruktur saat Scaloni mengambil lisensi kepelatihan UEFA Pro di Spanyol. Pertemuan mereka di final menjadi semacam reuni guru dan murid.
Pertandingan final ini bukan hanya soal takdir dua pemain, tetapi juga pertaruhan gaya sepak bola. Akankah pengalaman Messi dan Argentina mampu meredam ambisi muda Yamal dan Spanyol? Atau justru regenerasi yang akan berbicara? Satu hal pasti: foto yang diambil 18 tahun lalu telah menjadi saksi bisu perjalanan luar biasa dua bintang yang kini saling berhadapan untuk memperebutkan mahkota juara dunia.



