Pasca-Kane: Masa Depan Tanpa Penyerang Murni di Timnas Inggris
Baca dalam 60 detik
- Harry Kane, yang akan berusia 37 tahun pada Piala Dunia 2030, kemungkinan besar sudah tidak membela Inggris di ajang tersebut, memicu pertanyaan tentang suksesi lini depan.
- Ketergantungan berlebihan pada Kane di Piala Dunia 2026 terlihat dari minimnya menit bermain untuk striker cadangan seperti Ollie Watkins dan Ivan Toney, menunjukkan kurangnya kepercayaan pelatih Thomas Tuchel pada opsi lain.
- Dengan minimnya striker murni Inggris yang produktif di level tertinggi, opsi false nine seperti Anthony Gordon menjadi alternatif potensial, meski percobaan dengan Phil Foden sebelumnya gagal.

Harry Kane akan mendekati usia 37 tahun saat Piala Dunia 2030 digelar. Namun, setelah kekalahan semifinal yang pahit dari Argentina di Atlanta, kapten Inggris itu enggan memastikan apakah ia masih akan membela The Three Lions di turnamen mendatang. Pertanyaan itu bukan sekadar basa-basi: tanpa Kane, siapa yang akan menjadi ujung tombak Inggris?
Sepanjang Piala Dunia 2026 di Amerika Utara, ketergantungan Inggris pada Kane sangat terlihat. Ia bermain hampir setiap menit dalam tujuh pertandingan, hanya diganti dua kali โ enam menit melawan Panama dan satu menit di babak 16 besar melawan Meksiko. Akibatnya, produktivitasnya menurun drastis: setelah mencetak dua gol melawan DR Congo, ia gagal mencetak gol dari open play dalam tiga laga berikutnya. Sementara itu, Ollie Watkins hanya bermain enam menit sepanjang turnamen, dan Ivan Toney masuk di menit akhir injury time saat melawan Argentina. Pelatih Thomas Tuchel seolah tidak memiliki kepercayaan pada cadangan atau skema alternatif.
Masalah ini tidak bisa diabaikan. Kane akan berusia 33 tahun dalam sepuluh hari, dan 35 tahun saat Euro 2028 berakhir. Realistis, laga perebutan perunggu melawan Prancis di Miami bisa menjadi penampilan terakhirnya di Piala Dunia. Inggris butuh perencanaan suksesi, namun opsi yang ada terbatas. Toney dan Watkins sama-sama berusia 30 tahun; Dominic Solanke (28) dan Dominic Calvert-Lewin (29) adalah satu-satunya striker lain yang dipanggil dalam setahun terakhir. Di Premier League, jumlah pencetak gol Inggris yang mencapai dua digit sangat rendah โ hanya tiga pemain pada 2024-25 dan tiga lagi musim lalu, termasuk Danny Welbeck yang kini 35 tahun.
Harapan pada pemain muda juga belum meyakinkan. Liam Delap (23) gagal bersinar di Chelsea setelah pindah dari Ipswich. Shim Mheuka (18) tampil impresif di level U-19 dan akademi Chelsea, tapi belum terbukti di papan atas. Sementara itu, cerita tentang striker akademi yang gagal menembus tim utama โ seperti Charlie McNeill dan Eddie Nketiah โ menjadi pengingat bahwa bakat muda tidak selalu menjadi jaminan.
Inggris pernah beruntung saat Wayne Rooney mulai meredup, Kane muncul dan langsung mencetak gol dalam 80 detik pada debutnya. Kini, tidak ada penerus yang jelas. Sistem pembinaan di Inggris dinilai lebih banyak menghasilkan pemain sayap atau gelandang serang daripada striker murni. Arsenal memiliki Max Dowman, Liverpool punya Rio Ngumoha, tapi keduanya bukan nomor sembilan.
Salah satu solusi adalah menggunakan false nine, seperti yang sempat dicoba Tuchel dalam laga uji coba melawan Uruguay. Phil Foden diberi kesempatan, tetapi performanya buruk hingga ia tersingkir dari skuad Piala Dunia. Namun, ada kandidat lain: Anthony Gordon. Pemain sayap Newcastle itu pernah menjadi pemain terbaik Euro U-21 2023 saat dimainkan sebagai false nine, mencetak dua gol dan satu assist. Ia juga sempat bermain di posisi itu untuk Newcastle musim lalu. Gordon sendiri mengaku ingin lebih sering bermain di tengah.
Meski demikian, ada keengganan untuk meninggalkan formasi tradisional dengan striker murni. Jika tidak ada pemain muda yang muncul dalam beberapa tahun ke depan, false nine bisa menjadi kebutuhan, bukan sekadar opsi. Pertanyaannya, apakah Tuchel atau pelatih Inggris berikutnya berani mengambil risiko itu?



