Marco Di Bello: Wasit Italia yang Jadi Pengawas VAR di Laga Panas Inggris vs Argentina
Baca dalam 60 detik
- Wasit asal Italia, Marco Di Bello, ditunjuk sebagai video assistant referee (VAR) pada semifinal Piala Dunia antara Inggris dan Argentina.
- Di Bello memiliki reputasi tegas dengan rata-rata lebih dari empat kartu kuning per laga Serie A, serta pernah diskors sebulan usai memimpin laga kontroversial Lazio vs Milan.
- Semifinal ini menjadi ujian besar bagi sistem VAR mengingat tensi tinggi antara kedua tim dan sejarah pertemuan yang kerap memanas.

Wasit asal Italia, Marco Di Bello, akan duduk di ruang video assistant referee (VAR) pada laga semifinal Piala Dunia antara Inggris dan Argentina yang berlangsung di Atlanta, Kamis dini hari WIB. Pertandingan ini menjadi salah satu yang paling dinantikan, tidak hanya karena kualitas kedua tim, tetapi juga karena sejarah rivalitas yang kerap diwarnai insiden kontroversial.
Pemenang laga ini akan melaju ke final di New Jersey untuk menghadapi Spanyol, sementara yang kalah akan bertarung memperebutkan medali perunggu melawan Prancis. Dengan taruhan sebesar itu, tekanan terhadap perangkat pertandingan pun meningkat. Sebelumnya, pelatih Prancis Didier Deschamps mengkritik penunjukan wasit Ivan Barton asal El Salvador pada semifinal lain, menunjukkan betapa sensitifnya isu wasit di turnamen ini.
Untuk laga Inggris vs Argentina, wasit utama adalah Ismail Elfath, seorang naturalisasi Amerika Serikat kelahiran Maroko. Namun, perhatian juga tertuju pada Di Bello yang bertugas sebagai VAR. Ia dikenal sebagai pengadil yang keras: dalam 189 laga Serie A, ia mengeluarkan 822 kartu kuning, 31 kartu merah langsung, dan 17 kartu merah akibat akumulasi. Rata-rata, ia memberikan lebih dari empat kartu kuning per pertandingan.
Di Bello baru genap berusia 45 tahun pada hari pertandingan. Karier internasionalnya dimulai pada 2018, dan ia pernah menjadi VAR di EURO 2020. Sejak Januari 2021, ia resmi menjadi Video Match Official FIFA. Namun, reputasinya sempat tercoreng pada 2024 ketika ia diskors selama sebulan setelah memimpin laga kacau antara Lazio dan Milan yang berakhir dengan tiga kartu merah.
Bagi Indonesia, pertandingan ini menjadi tontonan yang sarat pelajaran. Sistem VAR yang kini mulai diterapkan di Liga Indonesia masih menghadapi banyak kritik, terutama soal konsistensi keputusan. Kiprah Di Bello sebagai VAR di panggung tertinggi bisa menjadi referensi bagaimana teknologi seharusnya digunakan—tidak hanya untuk membenarkan keputusan, tetapi juga untuk meredam emosi di lapangan. Namun, catatan disiplinnya yang tinggi justru menimbulkan pertanyaan: apakah VAR akan membuat laga semakin ketat atau justru memicu lebih banyak kontroversi?
Pertandingan ini juga menjadi ajang pembuktian bagi wasit Italia yang sempat terpuruk akibat skandal. Dengan pengalaman menangani laga-laga panas di Serie A, Di Bello diharapkan mampu menjaga ketenangan di tengah tekanan. Namun, sejarah pertemuan Inggris dan Argentina—termasuk insiden tangan Tuhan Maradona dan kartu merah Beckham—mengingatkan bahwa satu keputusan VAR bisa mengubah segalanya.
Ke depan, jika Di Bello sukses menjalankan tugasnya, ia berpeluang menjadi kandidat kuat untuk memimpin partai puncak. Sebaliknya, jika terjadi blunder, kariernya bisa kembali terpuruk. Pertanyaannya, akankah VAR menjadi pahlawan atau penghianat di laga yang sudah sarat emosi ini?



