Tuchel dan Inggris di Ambang Final Piala Dunia: Ujian Sejarah Lawan Argentina
Baca dalam 60 detik
- Inggris berpeluang menembus final Piala Dunia putra pertama sejak 1966 jika mampu menaklukkan Argentina di semifinal.
- Laga ini sarat muatan sejarah, mulai dari insiden 'Hand of God' hingga sengketa politik, menjadikannya lebih dari sekadar pertandingan biasa.
- Ketergantungan Inggris pada Jude Bellingham dan Harry Kane diuji, sementara Argentina masih mengandalkan Lionel Messi yang meski berusia 39 tahun tetap mematikan.

Laga semifinal Piala Dunia antara Inggris dan Argentina di Atlanta Stadium, Rabu (20:00 BST), bukan sekadar perebutan tiket ke partai puncak. Bagi skuad asuhan Thomas Tuchel, ini adalah kesempatan untuk mengakhiri puasa gelar bergengsi yang sudah berlangsung enam dekade—sejak Sir Alf Ramsey mengangkat trofi Jules Rimet pada 1966. Namun, lawan yang dihadapi bukan sembarang tim: Argentina, juara bertahan, datang dengan beban sejarah rivalitas yang penuh emosi dan kontroversi.
Inggris memang telah dua kali mencapai semifinal Piala Dunia dalam 60 tahun terakhir—pada 1990 dan 2018—namun keduanya berujung kekalahan. Kegagalan di final Euro 2020 dan 2024 menambah daftar panjang 'hampir tapi tidak cukup'. Tuchel, yang membawa Chelsea juara Liga Champions 2021, sadar bahwa trofi adalah satu-satunya ukuran kesuksesan di level elite. "Kami ingin memeras habis kemampuan yang ada. Kami ingin mengambil langkah berikutnya," ujarnya dalam konferensi pers yang penuh sesak, menandakan besarnya perhatian global pada laga ini.
Rivalitas kedua negara sudah mengakar sejak perempat final 1966, ketika kapten Argentina Antonio Rattin diusir keluar lapangan dan manajer Inggris Ramsey menyebut pemain lawan sebagai "binatang". Insiden 'Hand of God' Maradona pada 1986, kartu merah Beckham di Prancis 1998, hingga kontroversi penalti di 2002—semua menjadi bumbu yang membuat laga ini terasa istimewa. Pelatih Argentina Lionel Scaloni mengakui, "Kami semua punya cerita dari masa lalu dan sejarah, itu membuatnya sangat emosional."
Di sisi teknis, Inggris mengandalkan duet Bellingham dan Kane yang telah mencetak 12 dari 13 gol tim. Namun, ketergantungan ini bisa menjadi bumerang jika Argentina berhasil mematikan pergerakan mereka. Sebaliknya, Argentina yang sempat tertinggal 0-2 melawan Mesir di babak 16 besar menunjukkan mental baja. Messi, meski usianya 39 tahun dan banyak berjalan, tetap menjadi ancaman utama. "Tidak ada kata-kata yang tersisa untuk pencapaiannya," puji Tuchel.
Bagi publik Indonesia, laga ini menarik karena keduanya memiliki basis penggemar yang besar di tanah air. Rivalitas Inggris-Argentina kerap menjadi topik hangat di forum sepak bola lokal, dan hasil pertandingan ini akan memengaruhi peta kekuatan di komunitas sepak bola Indonesia. Selain itu, performa Messi—yang pernah dianggap sebagai idola banyak pemain muda Indonesia—menjadi sorotan tersendiri.
Pertanyaan besarnya: akankah Inggris akhirnya memecahkan kutukan semifinal, atau Argentina kembali menjadi mimpi buruk? Satu hal pasti, laga ini akan meninggalkan jejak sejarah, apa pun hasilnya.



