Spanyol vs Argentina: Laporte Sesalkan Agresivitas Tim Tango, Wasit Jadi Sorotan
Baca dalam 60 detik
- Bek Spanyol Aymeric Laporte menuduh Argentina sengaja meninggalkan 'bekas' pada lawan lewat permainan kasar yang dibiarkan wasit.
- Dalam semifinal kontra Inggris, Argentina melakukan 15 pelanggaran dan lolos dari hukuman, termasuk tekel berbahaya Enzo Fernandez yang tidak diganjar kartu.
- Menjelang final Piala Dunia, pelatih Spanyol dan kapten Rodri memilih fokus pada permainan bersih, meski ada kekhawatiran soal pengadilan.

Menjelang final Piala Dunia yang mempertemukan Spanyol dan Argentina, gelombang kontroversi mewarnai persiapan kedua tim. Bek Spanyol Aymeric Laporte secara terbuka mengecam gaya bermain Argentina yang dinilainya terlalu agresif dan cenderung meninggalkan 'bekas' pada lawan. Dalam wawancara dengan Marca, pemain berusia 32 tahun itu menegaskan bahwa tindakan semacam itu seharusnya tidak ditoleransi dalam sepak bola, terutama di turnamen sebesar Piala Dunia.
Kritik Laporte merujuk pada performa Argentina di semifinal melawan Inggris, di mana mereka menang 2-1 berkat dua gol telat. Namun, yang menonjol adalah catatan 15 pelanggaran yang dilakukan Argentina sepanjang laga. Insiden paling mencolok terjadi pada menit ketiga, ketika Enzo Fernandez melakukan tekel keras dari belakang pada Elliot Anderson, mengenai bagian belakang leher pemain Inggris itu, tetapi wasit tidak memberikan kartu. Selain itu, gol kemenangan Argentina juga diprotes karena dianggap diawali pelanggaran Lionel Messi terhadap Djed Spence.
Laporte, yang pernah membela Manchester City, menekankan bahwa agresivitas dalam batas wajar tidak masalah, tetapi yang terjadi pada Argentina sudah melampaui batas. "Jika satu atau dua pemain dibiarkan bertindak seperti itu, pertandingan akan kacau," ujarnya. Ia juga menyoroti bahwa wasit memiliki peran krusial untuk mencegah situasi semakin buruk. Tuduhan ini bukan yang pertama kali dialamatkan pada Argentina; sebelumnya, Mesir juga mengeluhkan keberpihakan wasit terhadap tim asuhan Lionel Scaloni setelah kalah 2-3 di babak 16 besar, dengan gol kemenangan Argentina terjadi pada menit ke-92.
Menariknya, kubu Spanyol justru memilih pendekatan diplomatis. Pelatih Luis de la Fuente dan kapten Rodri dalam konferensi pers di New York menyatakan rasa hormat pada Argentina. De la Fuente bahkan mengaku memiliki kekaguman berlipat pada juara Amerika dan dunia itu. Rodri menambahkan bahwa ia percaya Argentina tidak akan sengaja memprovokasi, tetapi jika itu terjadi, Spanyol harus tetap fokus pada permainan sendiri. "Kami akan lihat bagaimana pertandingan berjalan," kata gelandang Manchester City itu.
Bagi Indonesia, pertandingan ini menyajikan tontonan kelas dunia yang langka. Meski tidak ada keterlibatan langsung, gaya bermain Argentina yang agresif bisa menjadi pelajaran bagi tim-tim Asia Tenggara yang kerap menghadapi lawan lebih fisik. Regulasi wasit yang tegas, seperti yang dituntut Laporte, juga relevan dengan upaya PSSI meningkatkan kualitas pengadilan di kompetisi domestik. Final Piala Dunia antara Spanyol dan Argentina, yang akan digelar di New York New Jersey Stadium, Minggu (20:00 BST), diprediksi berlangsung sengit. Spanyol mengincar gelar pertama sejak 2010, sementara Argentina ingin mengulang sukses Brasil di era 1950-60an dengan gelar beruntun.
Pelatih Argentina, Lionel Scaloni, tidak ditanya soal taktik timnya dalam konferensi pers, tetapi ia mengungkapkan persahabatannya dengan De la Fuente sejak 2017. "Kami berteman, tapi itu tidak berarti dia tahu apa yang saya pikirkan tentang sepak bola," ujar Scaloni. Ia berharap pertandingan final akan menjadi pertunjukan hebat. Pertanyaan besarnya: akankah wasit mampu mengendalikan emosi dan menjaga pertandingan tetap adil, atau justru kontroversi akan kembali mewarnai laga puncak?



