Trump Kritik Taktik Inggris di Semifinal Piala Dunia: Kane Jadi Pemain Bertahan?
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS Donald Trump mempertanyakan keputusan pelatih Thomas Tuchel yang menempatkan Harry Kane sebagai pemain bertahan di babak kedua semifinal Piala Dunia 2026.
- Komentar Trump muncul di tengah kontroversi campur tangan politik dalam keputusan FIFA yang membatalkan skorsing Folarin Balogun, memicu krisis kepercayaan terhadap integritas turnamen.
- FIFA mencatat pendapatan rekor 9 miliar dolar AS tahun ini, namun berbagai kontroversi seperti biaya tinggi bagi penggemar dan masalah visa mencoreng citra inklusivitas Piala Dunia.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, ikut menyoroti strategi Inggris saat takluk 1-2 dari Argentina di semifinal Piala Dunia 2026. Trump secara khusus mempertanyakan peran kapten Tim Tiga Singa, Harry Kane, yang lebih banyak beroperasi di area pertahanan pada babak kedua. Menurut Trump, langkah tersebut merupakan kesalahan yang tidak perlu dilakukan oleh pelatih Thomas Tuchel.
Komentar Trump disampaikan dalam sebuah resepsi di Trump Tower, Jumat (18/7/2026), sehari setelah Inggris gagal memanfaatkan keunggulan berkat gol Anthony Gordon. Argentina membalikkan keadaan lewat dua gol di menit akhir yang dipicu oleh aksi Lionel Messi. Tuchel, yang memilih formasi lima pemain belakang dan memasukkan sejumlah pemain bertahan, mendapat kritik tajam dari pengamat dan suporter. โMereka unggul, lalu mengambil pemain terbaiknya dan menempatkannya di pertahanan. Itu agak tidak biasa,โ ujar Trump, yang mengaku pernah bermain golf dengan Kane.
Tuchel menolak berkomentar panjang saat ditanya soal kritik Trump dalam konferensi pers. Namun, pernyataan presiden AS itu menambah daftar panjang tekanan yang dihadapi pelatih asal Jerman tersebut. BBC Sport sebelumnya melaporkan bahwa sejumlah pemain kunci kecewa dengan instruksi bertahan yang diberikan Tuchel setelah unggul.
Di luar kritik taktik, Trump juga membahas intervensinya dalam kasus kartu merah yang diterima penyerang AS, Folarin Balogun. Pemain berusia 25 tahun itu semestinya menjalani larangan bertanding satu laga setelah pelanggaran keras terhadap pemain Bosnia-Herzegovina. Namun, FIFA secara mengejutkan menunda hukuman tersebut selama 12 bulan, sehingga Balogun bisa tampil melawan Belgia di babak 16 besar. Trump mengaku telah menelepon Presiden FIFA Gianni Infantino untuk mengajukan keluhan. โSaya bilang, โGianni, saya ingin mengajukan rekomendasi. Biarkan pemain itu bermain!โโ kata Trump. Ia kemudian memuji Infantino karena keputusan itu dianggap tidak menimbulkan kontroversi, meskipun Belgia akhirnya menang.
Pernyataan Trump justru memperkuat dugaan bahwa FIFA membiarkan intervensi politik menggerogoti independensi kompetisi. Infantino sebelumnya membantah adanya tekanan dari Trump, dan menegaskan bahwa komite disiplin FIFA bersifat otonom. Namun, kedekatan keduanya yang terlihat saat saling memuji di Trump Tower tanpa menjawab pertanyaan media dinilai mengkhawatirkan. โIni bukan sekadar Piala Dunia terhebat, ini adalah peristiwa kemanusiaan, sosial, dan budaya terbesar yang pernah disaksikan umat manusia,โ ujar Infantino dengan penuh percaya diri.
Di satu sisi, turnamen yang digelar di AS, Meksiko, dan Kanada ini mencatatkan penjualan tiket dan jumlah penonton televisi yang memecahkan rekor. Infantino menyebut Piala Dunia 2026 melampaui ekspektasi. Namun, sejumlah masalah serius ikut mewarnai. Biaya tinggi yang harus ditanggung penggemar memicu pertanyaan tentang urgensi FIFA meraup keuntungan sebesar itu. Pengenalan jeda hidrasi, perpanjangan waktu istirahat babak pertama di final, serta wacana ekspansi menjadi 64 tim membuat kalangan tradisionalis kecewa. Mereka khawatir komersialisasi berlebihan akan menggerus esensi olahraga.
Kontroversi visa pada awal turnamen juga mencoreng klaim inklusivitas. Banyak penggemar, tim, dan ofisial terkena dampak kebijakan imigrasi AS. Infantino bahkan sempat meminta kritikus untuk โtenang dan santaiโ, yang justru menuai kecaman. Meski demikian, Infantino tampil percaya diri di hadapan Trump. Dengan pendapatan FIFA yang diproyeksikan mencapai 9 miliar dolar AS tahun ini, banyak negara bergantung pada dana tersebut untuk mengembangkan sepak bola nasional. Hal ini membuat Infantino hampir pasti terpilih kembali pada pemilihan tahun depan.
Bagi Indonesia, kontroversi ini menjadi pengingat akan pentingnya tata kelola yang bersih dalam organisasi olahraga global. Sebagai negara dengan basis penggemar sepak bola yang besar, Indonesia perlu mencermati bagaimana keputusan FIFA dapat dipengaruhi oleh kepentingan politik. Ke depannya, apakah FIFA mampu menjaga independensinya di tengah tekanan politik dan komersial? Ataukah Piala Dunia akan semakin menjadi ajang yang jauh dari nilai-nilai sportivitas?



