ICC Kaji Pemangkasan Jumlah Tim Piala Dunia demi Raup Pendapatan Lebih Besar
Baca dalam 60 detik
- ICC berencana mengurangi peserta Piala Dunia 50-over dari 14 menjadi 12 tim dan menambah fase 'super seven' mulai edisi 2027.
- Turnamen T20 World Cup juga akan dirombak dengan fase 'super eight' diperluas menjadi 'super 10' untuk meningkatkan jumlah laga India vs Pakistan.
- Wacana penambahan babak semifinal pada World Test Championship mengemuka sebagai upaya menjaga relevansi kriket format panjang.

International Cricket Council (ICC) menggelar pertemuan tahunan di Edinburgh pekan lalu dengan membahas sejumlah perubahan besar pada struktur turnamen global, termasuk pemangkasan jumlah peserta Piala Dunia 50-over dan perluasan fase gugur T20 World Cup. Langkah ini dinilai sebagai strategi untuk meningkatkan nilai komersial kompetisi jelang negosiasi hak siar baru.
Dalam pertemuan yang melibatkan para pengambil keputusan paling berpengaruh di dunia kriket, muncul proposal untuk mengurangi jumlah tim pada Piala Dunia 50-over dari 14 menjadi 12, serta menambahkan fase 'super seven' setelah babak penyisihan. Jika disetujui, perubahan ini bisa mulai diterapkan pada edisi 2027 yang akan digelar bersama oleh Afrika Selatan, Namibia, dan Zimbabwe. Untuk merealisasikannya, ICC kemungkinan hanya akan meloloskan dua tim dari turnamen kualifikasi global, bukan empat seperti rencana awal.
Sementara itu, T20 World Cup juga akan mengalami penyesuaian dengan fase 'super eight' diperluas menjadi 'super 10'. Perubahan ini diyakini akan meningkatkan frekuensi pertandingan antara India dan Pakistan, yang selama ini hanya bertemu di turnamen besar. Laga kedua negara dianggap sebagai laga paling bernilai jual tinggi bagi stasiun televisi. Dengan format baru, jumlah pertemuan mereka di turnamen diproyeksikan bertambah, menguntungkan dari segi rating dan pendapatan iklan.
Di luar perubahan format, ICC juga menggodok penataan jadwal internasional. Inggris, India, dan Australia telah mengunci jadwal Future Tours Programme (FTP) 2027–2031, sementara anggota penuh lainnya masih menunggu penyelesaian jadwal pada pertemuan Agustus mendatang. Yang menarik, jumlah seri bilateral white-ball diprediksi akan berkurang drastis setelah siklus FTP berikutnya. Sebagai gantinya, ICC berencana menggelar serangkaian turnamen kuadrangular antarbenua mini yang melibatkan dua tim dari masing-masing kawasan anggota penuh.
Perkembangan lain yang mencuat adalah wacana penambahan babak semifinal pada World Test Championship (WTC). Selama ini WTC hanya mempertemukan dua tim teratas di final, sehingga tim di papan tengah kerap kehilangan motivasi. Dengan adanya semifinal, diharapkan persaingan semakin ketat dan minat terhadap kriket format panjang kembali meningkat. Namun, rencana perluasan WTC menjadi 12 tim—termasuk Afghanistan, Irlandia, dan Zimbabwe—masih mandek. Kelompok kerja yang dipimpin Roger Twose dari Selandia Baru belum mengajukan proposal konkret, dan kecil kemungkinan perubahan itu terealisasi pada siklus FTP berikutnya.
Bagi Indonesia, perkembangan ini patut dicermati meskipun kriket belum menjadi olahraga arus utama. Dengan makin berkurangnya jumlah tim di Piala Dunia, peluang bagi negara berkembang seperti Indonesia untuk lolos ke turnamen utama semakin sempit. Di sisi lain, rencana ICC untuk mendorong pertandingan antara tim 'A' negara penuh dengan anggota asosiasi bisa menjadi celah bagi pemain kriket Indonesia untuk mendapatkan pengalaman internasional. Selain itu, turnamen global waralaba T20 yang tengah dirancang ICC—mirip dengan Piala Dunia Antarklub FIFA—berpotensi membuka pasar baru bagi kriket di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, jika ada tim yang mampu bersaing di level profesional.
Ke depan, keputusan-keputusan yang diambil ICC dalam beberapa bulan mendatang akan menentukan arah perkembangan kriket global. Pertanyaannya, akankah perubahan ini benar-benar mampu menjaga relevansi kriket di tengah gempuran olahraga lain dan tuntutan komersialisasi yang semakin tinggi?



