Fabregas Tolak Napoli Demi Proyek Ambisius Como
Baca dalam 60 detik
- Cesc Fabregas menolak pinangan Napoli dan dua klub Italia lain untuk tetap bersama Como yang baru promosi ke Liga Champions.
- Presiden Como Mirwan Suwarso mengungkapkan nilai skuad klub melonjak dari €60 juta ke €389 juta dalam dua musim.
- Loyalitas Fabregas menjadi kunci keberlanjutan proyek Como yang tumbuh 300% secara komersial setiap tahun.

Cesc Fabregas memilih setia pada proyek ambisius Como ketimbang pindah ke klub yang lebih mapan. Presiden Como, Mirwan Suwarso, mengungkapkan bahwa mantan gelandang Arsenal dan Barcelona itu menolak pendekatan dari tiga klub Italia, termasuk Napoli, dalam beberapa bulan terakhir.
“Beberapa klub sudah bertanya tentang dia, setidaknya tiga dalam beberapa bulan terakhir, tapi dia menolak,” kata Suwarso kepada La Stampa, seperti dikutip CalcioMercato. “Salah satunya Napoli, seperti yang sudah ditulis di beberapa koran lokal. Dua lainnya? Satu klub Italia, tapi saya tidak akan menyebut lebih lanjut.”
Fabregas, yang kini menjabat sebagai pelatih kepala, telah menjadi pusat transformasi Como dari tim kasta kedua menjadi peserta Liga Champions. Sebelumnya, ia juga dikaitkan dengan kursi pelatih Inter Milan pada 2025 sebelum akhirnya dijabat Cristian Chivu. Namun, pelatih asal Spanyol itu memilih melanjutkan pembangunan di Como.
Keberhasilan Como lolos ke Liga Champions di luar ekspektasi manajemen. “Kami ingin tampil lebih baik dari tahun sebelumnya, tapi tidak menyangka akan sampai sejauh ini,” ujar Suwarso. “Bermain di Liga Champions memungkinkan kami memperbaiki posisi keuangan. Pada saat yang sama, kami harus mempercepat segalanya karena target itu awalnya diharapkan tercapai dalam beberapa tahun.”
Bagi sepak bola Indonesia, kisah Como menjadi contoh bagaimana klub dengan sumber daya terbatas bisa bersaing di level tertinggi Eropa. Model pengembangan pemain dan pertumbuhan nilai skuad yang eksponensial bisa menjadi referensi bagi klub-klub Liga 1 yang mulai serius membangun akademi dan merekrut pemain muda potensial. Apalagi, Indonesia tengah gencar mendorong peningkatan kualitas kompetisi domestik.
Suwarso menegaskan bahwa Como tetap berpegang pada pendekatan berkelanjutan. “Kami adalah tim Italia dengan tingkat pertumbuhan nilai pemain tertinggi: dalam dua musim kami naik dari €60 juta ke €389 juta. Secara komersial kami tumbuh 300% setiap tahun. Kami masih pendatang baru, tapi saya ingin mencari klub lain yang tumbuh secepat kami,” katanya.
Dengan Fabregas sebagai nahkoda, Como kini bersiap menghadapi tantangan Liga Champions tanpa kehilangan identitas. Pertanyaannya, mampukah mereka mempertahankan laju pertumbuhan ini di tengah tekanan kompetisi Eropa yang jauh lebih ketat?



