Maxime Estève: Bek Kidal Tangguh yang Diburu RB Leipzig
Baca dalam 60 detik
- RB Leipzig resmi mengontrak bek tengah asal Prancis Maxime Estève dengan durasi lima tahun hingga 2031.
- Estève mencuri perhatian setelah membawa Burnley promosi ke Premier League dengan rekor kebobolan hanya 16 gol di Championship.
- Kedatangan Estève diyakini akan memperkuat lini pertahanan Leipzig yang tengah merombak skuad.

RB Leipzig resmi mengamankan tanda tangan bek tengah asal Prancis, Maxime Estève, dengan kontrak berdurasi lima tahun hingga Juli 2031. Pemain berusia 24 tahun itu didatangkan dari Burnley setelah mencatatkan 100 penampilan di Turf Moor, termasuk 50 laga di Premier League.
Estève memulai karier profesionalnya di Montpellier, menembus tim utama pada usia 19 tahun saat melawan Marseille di pekan pembuka Ligue 1 2021/22. Selama membela Montpellier, ia tampil 62 kali dan mencetak satu gol sebelum dipinjamkan ke Burnley pada Januari 2024. Meski Burnley terdegradasi dari Premier League di musim yang sama, Estève memutuskan mempermanenkan masa baktinya dan menjadi pilar utama di lini belakang The Clarets. Ia turut berjasa membawa Burnley promosi kembali ke kasta tertinggi dengan hanya kebobolan 16 gol sepanjang musim Championship 2024/25, sekaligus masuk dalam Tim Terbaik divisi tersebut.
Direktur Olahraga Leipzig, Marcel Schäfer, memuji kualitas Estève yang dinilai sesuai dengan kebutuhan tim. “Dia memiliki postur tinggi, atletis, kaki kiri kuat, percaya diri dalam penguasaan bola, dan mampu keluar dari garis pertahanan secara proaktif. Maxime bermain positif, tekelnya keras, vokal, dan membawa energi besar ke lapangan,” ujar Schäfer. Mantan manajer Burnley, Vincent Kompany, yang membawa Estève ke Inggris, juga memberikan apresiasi. “Agresif, bermain di depan, ingin memenangi setiap duel, kaki kiri bagus, sangat cepat. Itu modal awal yang baik,” kata Kompany usai debut Estève.
Gaya bermain Estève kerap dibandingkan dengan bek Borussia Dortmund, Nico Schlotterbeck. Keduanya sama-sama bek tengah kidal dengan postur menjulang, meski Estève memiliki fisik yang lebih kekar. Schäfer menambahkan, “Ia adalah bek yang vokal dan suka memimpin, sesuatu yang kami butuhkan di lini belakang.”
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, pergerakan Estève menarik dicermati karena Leipzig kini menjadi salah satu klub yang gencar merekrut pemain muda potensial. Dengan pengalamannya di dua liga top Eropa—Ligue 1 dan Premier League—Estève diharapkan mampu bersaing di Bundesliga yang menuntut kecepatan dan duel fisik. Kehadirannya juga bisa menjadi tolok ukur bagi pemain Asia, termasuk Indonesia, yang bercita-cita menembus klub papan atas Eropa.
Leipzig sendiri tengah dalam masa transisi setelah ditinggal beberapa pemain kunci. Estève diharapkan menjadi fondasi pertahanan jangka panjang. Pertanyaannya, akankah ia mampu mengulang sukses seperti saat membawa Burnley promosi, atau justru tenggelam di kompetisi yang lebih ketat? Hanya waktu yang akan membuktikan.



