Argentina vs Inggris: Rivalitas Abadi yang Kembali Memanas di Semifinal Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Pertemuan Argentina dan Inggris di semifinal Piala Dunia 2022 merupakan puncak dari rivalitas panjang yang berakar pada sejarah kolonial dan konflik Malvinas.
- Momen ikonik seperti 'Tangan Tuhan' Maradona dan kartu merah Beckham masih membekas, namun pemain kini lebih fokus pada pertandingan daripada dendam masa lalu.
- Bagi Indonesia, rivalitas ini menjadi tontonan global yang mengingatkan bagaimana sepak bola bisa menjadi cermin hubungan politik dan budaya antarnegara.

Argentina dan Inggris akan kembali berhadapan di panggung Piala Dunia, kali ini di babak semifinal—sebuah pertemuan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah panjang rivalitas kedua negara. Laga yang akan digelar di Lusail Stadium pada Rabu (14/12) dini hari WIB ini tidak hanya mempertaruhkan tiket ke final, tetapi juga membawa beban sejarah yang telah terakumulasi selama puluhan tahun.
Rivalitas ini bukan sekadar soal sepak bola. Ia merekam luka kolonial, kebanggaan nasional, dan momen-momen kontroversial yang membekas di benak penggemar di kedua belahan dunia. Dari pengusiran Antonio Rattin pada 1966, 'Tangan Tuhan' Diego Maradona pada 1986, hingga kartu merah David Beckham pada 1998, setiap pertemuan selalu menyisakan cerita yang melampaui skor akhir.
Kematian Antonio Rattin pekan lalu kembali mengingatkan publik pada insiden di Piala Dunia 1966, saat kapten Argentina itu diusir keluar lapangan dalam laga perempat final. Saat meninggalkan lapangan, Rattin merobek sudut bendera yang memuat bendera Inggris dan duduk di karpet merah yang disediakan untuk Ratu Elizabeth. Pelatih Inggris saat itu, Alf Ramsey, bahkan menyebut pemain Argentina sebagai "binatang". Hinaan itu tak pernah dilupakan Argentina.
Dua puluh tahun kemudian, di Stadion Azteca, Maradona membalaskan dendam dengan dua gol yang legendaris: satu lewat tangan yang disebutnya 'Tangan Tuhan', dan satu lagi melalui dribel spektakuler yang melewati setengah tim Inggris. Bagi Maradona, itu bukan sekadar kemenangan olahraga, melainkan balas dendam atas Perang Malvinas yang menewaskan ratusan tentara Argentina pada 1982. Dalam otobiografinya, ia menulis, "Lebih dari mengalahkan tim sepak bola, kami mengalahkan sebuah negara."
Hubungan Inggris dan Argentina memang rumit. Sepak bola diperkenalkan oleh imigran Inggris pada abad ke-19, namun kemudian berkembang dengan karakteristik yang sangat berbeda. Jonathan Wilson, penulis buku sejarah sepak bola Argentina, mengatakan bahwa sejak 1920-an, sepak bola Argentina didefinisikan oleh virtuositas, kemandirian, dan kelicikan—berlawanan dengan fair play Inggris yang dianggap membosankan. Perbedaan filosofi ini terus mewarnai setiap pertemuan di lapangan.
Namun, para pemain saat ini tampaknya enggan terjebak dalam narasi masa lalu. Pelatih Argentina Lionel Scaloni dengan tegas menyatakan, "Ini pertandingan sepak bola. Titik. Tidak ada yang lebih dari itu." Gelandang Rodrigo De Paul juga mengakui signifikansi historisnya, tetapi menekankan bahwa prioritas utama adalah mencapai final. Meski demikian, di balik pernyataan resmi, nyanyian para pemain di ruang ganti setelah lolos ke semifinal menunjukkan bahwa semangat 'balas dendam' masih hidup—dengan lirik yang menyebut Malvinas, Maradona, dan Messi.
Bagi publik Indonesia, rivalitas Argentina vs Inggris adalah salah satu narasi paling menarik dalam sepak bola global. Seperti halnya derbi panas di Liga Indonesia yang kerap dibumbui sentimen kedaerahan, pertandingan ini mengingatkan bahwa sepak bola tidak pernah benar-benar lepas dari politik dan sejarah. Laga semifinal nanti akan menjadi ujian apakah dendam lama masih relevan, ataukah generasi baru pemain mampu menuliskan babak baru yang lebih sportif.
Pertanyaannya kini: mampukah Argentina mengulang kejayaan Maradona, atau justru Inggris yang akhirnya memutus kutukan semifinal? Satu hal yang pasti, dunia akan menyaksikan.



