Piala Dunia 2026: FIFA Raup Cuan, Hotel dan Fans Justru Gigit Jari
Baca dalam 60 detik
- Pendapatan FIFA dari Piala Dunia 2026 diproyeksikan menembus rekor baru, didorong ekspansi 48 tim dan penjualan hak siar serta sponsor.
- Di balik gemerlap turnamen, fan dan pelaku usaha lokal mengalami tekanan: tiket mahal, akomodasi sepi, dan tarif transportasi melonjak.
- Pasar taruhan olahraga AS diprediksi menjadi yang terbesar sepanjang masa, dengan taruhan in-play mendominasi dibanding taruhan pra-pertandingan.

Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko dipastikan menjadi edisi paling menguntungkan bagi FIFA, namun di sisi lain menyisakan kekecewaan bagi sebagian besar penggemar dan pelaku industri perhotelan. Turnamen dengan 48 peserta ini menghasilkan pendapatan miliaran dolar bagi badan sepak bola dunia, sementara tiket termahal final menembus angka yang sulit dijangkau masyarakat biasa.
Menurut Marion Laboure, strategis senior Deutsche Bank Research, pendapatan FIFA dalam siklus empat tahunan mendekati 13 miliar dolar AS. Sumber pemasukan utama berasal dari penjualan hak siar, lisensi, hak perhotelan, sponsor, dan tiket. FIFA juga memanfaatkan pasar sekunder melalui platform resmi jual-beli tiket dengan memungut komisi 15% dari pembeli dan penjual. Langkah ini dinilai sebagai strategi baru yang akan terus diterapkan di turnamen mendatang, apalagi FIFA berencana memperluas peserta menjadi 64 tim—membuka peluang masuknya China dan India yang memiliki basis penggemar raksasa.
Namun, di balik gemerlap pendapatan, para penggemar harus merogoh kocek dalam-dalam. Tiket pertandingan pembuka AS melawan Paraguay sempat diperkirakan mencapai 1.000 dolar AS, bahkan Presiden AS Donald Trump mengaku tidak akan membayar harga tersebut. Tiket final di Stadion MetLife, New Jersey, dijual resmi seharga 32.970 dolar AS, sementara di pasar gelap ada yang ditawarkan lebih dari 2 juta dolar AS. Presiden FIFA Gianni Infantino membela kebijakan harga dinamis dengan menyebutnya setara dengan acara olahraga besar lain di AS.
Fans juga dihadapkan pada lonjakan biaya transportasi dan akomodasi. Tarif kereta New Jersey Transit yang biasanya 12,90 dolar AS untuk perjalanan pulang-pergi 30 menit melonjak menjadi 150 dolar AS. Setelah protes keras, harga diturunkan namun tetap di atas normal. Sementara itu, okupansi hotel di kota-kota tuan rumah justru menurun. Asosiasi Hotel dan Penginapan AS menuduh FIFA memblokir terlalu banyak kamar untuk keperluannya sendiri sehingga menciptakan permintaan palsu. Di Vancouver, Kanada, pemesanan hotel pada Juni-Juli dilaporkan jauh di bawah tahun sebelumnya meski kota itu menjadi tuan rumah tujuh pertandingan.
FIFA memperkenalkan waktu istirahat hidrasi (hydration break) selama 90 detik, yang diklaim semata-mata untuk kepentingan atletik. Namun, momen ini dimanfaatkan Fox Sports—pemegang hak siar AS yang dilaporkan membayar 485 juta dolar AS—sebagai slot iklan bersponsor. Laboure menyebut jeda tersebut sebagai "inventaris iklan murni" dan memperkirakan pendapatan iklan dari hydration break bisa mencapai 250 juta dolar AS hanya di Amerika Serikat. Penonton di Inggris yang menonton lewat BBC atau ITV terbebas dari iklan tersebut karena regulasi periklanan yang ketat.
Dari sisi sponsor, Adidas dan Coca-Cola menjadi pemenang besar. Adidas menggelontorkan sekitar 50 juta poundsterling untuk kampanye "backyard legends" yang menampilkan Lamine Yamal, Jude Bellingham, dan Lionel Messi. Namun, merek non-sponsor seperti Levi's justru dirugikan karena logo mereka di luar Stadion Levi's, San Francisco, ditutup oleh FIFA. David Beckham, meski sudah pensiun lebih dari satu dekade, tetap menjadi ikon komersial sepak bola AS berkat kepemilikannya di Inter Miami yang bernilai 1,45 miliar dolar AS.
Piala Dunia 2026 juga diprediksi menjadi ajang taruhan terbesar sepanjang sejarah. Perusahaan jasa keuangan Macquarie memperkirakan total taruhan mencapai 50 miliar dolar AS, atau sekitar 500 juta dolar AS per pertandingan. Flutter Entertainment—induk Paddy Power, Betfair, dan Sky Bet—memproyeksikan jumlah taruhan dua kali lipat dibanding turnamen sebelumnya, didorong pertumbuhan pasar AS dan Brasil. Analis Macquarie Chad Beynon mencatat pergeseran dari taruhan pra-pertandingan ke taruhan langsung (in-play) yang memungkinkan penyesuaian berdasarkan aksi di lapangan. Meski taruhan olahraga telah legal di banyak negara bagian AS sejak 2018, California dan Texas masih melarangnya, sehingga prediksi pasar (prediction market) yang tidak diklasifikasikan sebagai judi menjadi alternatif populer.
Bagi Indonesia, Piala Dunia 2026 menjadi pengingat bahwa di balik kemeriahan turnamen global, selalu ada ketimpangan antara pemilik modal dan konsumen. Pengalaman fan AS yang harus membayar mahal untuk tiket dan akomodasi bisa menjadi pelajaran bagi penyelenggara event besar di Tanah Air, terutama dalam menentukan kebijakan harga yang berkeadilan. Pertanyaannya, mampukah FIFA mempertahankan momentum pertumbuhan tanpa mengorbankan esensi olahraga yang seharusnya inklusif?



