Piala Dunia 2026: Kedai Dimsum Tua di Hong Kong Raup Cuan Lewat Nobar Pagi
Baca dalam 60 detik
- Lin Heung Lau, restoran dimsum berusia seabad di Hong Kong, mencatat kenaikan omzet 20 persen berkat inovasi nonton bareng Piala Dunia dan pesta dimsum.
- Di tengah penurunan pendapatan restoran Tionghoa hingga 27,9 persen, strategi hiburan dan digital menjadi kunci bertahan melawan gempuran merek dari daratan Tiongkok.
- Para pengamat menilai tradisi kuliner Hong Kong harus beradaptasi dengan selera generasi muda dan teknologi pembayaran agar tidak punah.

Di tengah lesunya industri restoran Tionghoa di Hong Kong, Lin Heung Lau—salah satu kedai dimsum tertua yang berdiri lebih dari seabad—justru mencatatkan lonjakan bisnis hingga 20 persen. Rahasianya: menyulap jam sarapan pagi menjadi panggung nonton bareng (nobar) Piala Dunia 2026 yang digelar sejak dini hari.
Setiap pukul 04.00 waktu setempat, antrean panjang sudah mengular di depan restoran yang terletak di kawasan Central tersebut. Uap dari keranjang bambu berisi siomay dan bakpao berbaur dengan sorak-sorai pendukung tim nasional kesayangan mereka. “Sulit menemukan restoran Tionghoa di Hong Kong yang menggelar acara seperti ini, tempat kami bisa menonton sepak bola sambil minum teh pagi,” ujar seorang warga setempat yang datang bersama teman-temannya.
Lin Heung Lau tidak hanya mengandalkan Piala Dunia. Sejak beberapa bulan lalu, kedai ini juga mengadakan “dimsum rave”—sajian dimsum yang diiringi alunan musik Cantopop retro. Direktur pemasaran Wong Chi Yin mengatakan bahwa acara-acara tersebut berhasil memperluas basis pelanggan, tidak hanya dari kalangan penggemar bola tetapi juga berbagai kelompok usia dan kebangsaan. “Untuk pesta rave, kami memutar beragam musik sehingga menarik pelanggan dari segala usia,” jelasnya.
Namun, keberhasilan Lin Heung Lau merupakan pengecualian di tengah krisis yang melanda restoran tradisional Hong Kong. Data resmi menunjukkan bahwa pendapatan restoran Tionghoa pada kuartal pertama tahun ini merosot tajam. Banyak faktor yang menjadi biang keladi: perubahan kebiasaan konsumen yang lebih memilih menyebrang ke Shenzhen untuk mencari hidangan lebih murah, serta menjamurnya merek-merek dari daratan Tiongkok seperti Chagee dan Tai Er yang menawarkan harga kompetitif dan konsep segar.
Simon Wong, presiden Federasi Restoran dan Usaha Terkait Hong Kong, menilai persaingan kini tidak hanya datang dari sesama pelaku lokal, tetapi juga dari operator restoran asal daratan. “Mereka punya ide-ide baru dalam mempromosikan restoran dan makanan. Ini cukup menantang bagi restoran lokal yang sebagian besar masih kuno,” ujarnya.
Di sisi lain, regenerasi chef menjadi masalah pelik. Food influencer Kent Wong, yang dikenal dengan akun Instagram @UncleK, mengamati bahwa banyak restoran rumahan kesulitan mencari pengganti koki generasi tua. “Jika generasi muda tidak mengambil alih, merek-merek lama pada akhirnya akan lenyap,” katanya. Wong menambahkan bahwa industri makanan dan minuman menuntut fisik yang kuat, sehingga banyak koki sepuh memilih pensiun.
Untuk bertahan, para pakar menyarankan restoran tradisional tidak hanya mengandalkan warisan budaya, tetapi juga harus beradaptasi dengan preferensi konsumen modern—misalnya dengan meningkatkan layanan pelanggan, mengadopsi pembayaran elektronik, dan membangun kehadiran di media sosial. Beberapa kafe baru seperti Waso dan Red City, yang dikelola oleh mantan pegawai kedai kopi ala Hong Kong, sudah membuktikan bahwa pembaruan citra dan promosi daring mampu menarik minat anak muda.
Pertanyaannya kini: akankah restoran-restoran legendaris Hong Kong mampu meniru langkah Lin Heung Lau—memadukan tradisi dengan inovasi hiburan—sebelum tergerus zaman? Atau justru gelombang modernisasi akan menenggelamkan cita rasa otentik yang telah menjadi ikon kota tersebut?



