Fenomena 'Juju Man' di Piala Dunia 2026: Spiritualitas Olahraga Afrika yang Sulit Dipahami Barat
Baca dalam 60 detik
- Kailani Ibrahim Kpa dan Nana Kwaku Bonsam menjadi sorotan global saat Ghana berlaga di Piala Dunia 2026, memicu diskusi tentang peran spiritualitas dalam sepak bola Afrika.
- Praktik ritual seperti menaburkan bubuk atau 'kutukan' bukanlah sekadar takhayul, melainkan bagian dari sistem pengetahuan tradisional yang memadukan aspek fisik dan metafisik.
- Fenomena ini menantang pandangan Barat yang kerap merendahkan tradisi spiritual Afrika, sekaligus membuka ruang dialog tentang keberagaman pendekatan dalam olahraga.

Dua sosok asal Ghana, Kailani Ibrahim Kpa dan Nana Kwaku Bonsam, mencuri perhatian jutaan penggemar sepak bola dunia saat Piala Dunia 2026 bergulir. Kpa, yang dijuluki 'juju man', terlihat meniupkan bubuk putih ke udara saat pertandingan pertama Ghana, sementara Bonsam mengklaim telah 'mengutuk' kapten Inggris Harry Kane. Kane gagal mencetak gol dan laga berakhir imbang, memicu perbincangan hangat tentang kekuatan spiritual di balik lapangan hijau.
Bagi pengamat Barat, aksi-aksi semacam itu mungkin tampak aneh atau sekadar superstisi. Namun, di Afrika, sepak bola dan ritual esoteris telah lama berjalan beriringan. Sebuah video viral dari Rwanda memperlihatkan seorang striker gagal mencetak gol, lalu meraih 'jimat' dari dalam gawang lawan dan berhasil mencetak gol setelahnya. Mantan kapten Ghana, Andrรฉ Ayew, juga pernah menaburkan bubuk ritual di lapangan pada 2012, dan Bonsam sebelumnya mengaku mengutuk Cristiano Ronaldo pada Piala Dunia 2014.
Menurut para akademisi yang mempelajari sistem pengetahuan tradisional Afrika, praktik-praktik ini bukanlah sekadar takhayul. Sebaliknya, mereka merupakan bagian dari cara pandang holistik yang tidak memisahkan sains, agama, kedokteran, dan seni. Seorang pendeta tradisional yang menawarkan jasa kepada tim sepak bola dipandang setara dengan psikolog olahraga, ahli gizi, atau fisioterapis. Masing-masing memiliki tradisi eksperimentasi dan penerapan teknologi untuk mendukung hasil yang diinginkan.
Di Senegal, olahraga gulat tradisional Laamb mengintegrasikan marabout (ulama Muslim) dan jimat ke dalam kompetisi. Marabout berfungsi seperti pelatih tinju, namun dengan kekuatan atas hal-hal immaterial. Dalam sepak bola, intervensi spiritual awalnya tidak dianggap sebagai bagian integral, namun secara diam-diam telah diadopsi di Afrika. Prinsip dasarnya adalah bahwa semua materi memiliki realitas nonfisik yang dapat dimanfaatkan untuk perubahan pada level tersebut.
Bubuk yang ditaburkan Ayew atau Kpa biasanya mengandung bahan alami yang dikeringkan, digiling, atau dibakar, dengan karakteristik yang terkait dengan hasil yang diinginkan. Bahan-bahan ini bisa ditempatkan di tubuh atau di tempat-tempat penting seperti tiang gawang untuk mencegah sesuatu masuk. Itulah mengapa striker dalam video Rwanda mencabut jimat dari gawang lawan, sementara lawan berusaha keras mengambilnya kembali.
Sayangnya, praktik dan pengetahuan tradisional ini seringkali disalahartikan oleh orang Eropa sebagai 'sihir hitam', 'witchcraft', atau 'superstisi' untuk membenarkan superioritas rasial dan budaya. Istilah 'fetishism' dan 'witch doctor' masih kerap digunakan secara pejoratif. Sikap merendahkan ini mendorong praktisi spiritual ke bawah tanah, meskipun mereka tetap hadir di masyarakat Afrika. Bahkan kalangan modern seperti mahasiswa, pengusaha, dan politisi secara rutin mencari bantuan spiritual, yang mereka anggap sama pentingnya dengan bantuan profesional.
Atlet sangat sadar bahwa bakat dan kerja keras tidak selalu cukup untuk menjamin kemenangan. Baik Afrika maupun non-Afrika umumnya mengakui adanya kekuatan di luar kendali, yang kadang disebut 'keberuntungan'. Namun, jasa spiritual pun tidak menjamin kemenangan jika pihak lawan juga memiliki akses ke kekuatan serupa. Setelah pertandingan Ghana vs Inggris berakhir tanpa gol, Kane kemudian mencetak gol melawan Panama setelah Bonsam mengaku telah 'melepaskan' kutukannya.
Fenomena Kpa dan Bonsam bukan sekadar tontonan sesaat. Keduanya mewakili tradisi pengetahuan leluhur yang berusia ribuan tahun, dan merupakan bagian kasatmata dari dimensi spiritual yang tak terlihat dalam olahraga Afrika. Bagi Indonesia, yang juga kaya akan tradisi spiritual dan olahraga, fenomena ini bisa menjadi refleksi tentang bagaimana kearifan lokal dapat berjalan berdampingan dengan modernitas tanpa harus saling meniadakan. Pertanyaannya, mampukah kita melihat praktik serupa di tanah air tanpa prasangka?



