Tuchel di Persimpangan: Kegagalan Taktik Inggris di Piala Dunia dan Pekerjaan Rumah Menuju Euro 2028
Baca dalam 60 detik
- Kekalahan dari Argentina di semifinal Piala Dunia memunculkan keraguan atas pendekatan defensif Thomas Tuchel, yang dianggap mengulang kesalahan era Southgate.
- Ketergantungan berlebihan pada Harry Kane dan minimnya rotasi pemain muda seperti Kobbie Mainoo menjadi sorotan utama setelah turnamen.
- Tuchel harus segera membangun kembali kepercayaan publik dan skuad, dengan agenda padat Nations League dan kualifikasi Euro 2028 yang sudah di depan mata.

Kekalahan Inggris dari Argentina di semifinal Piala Dunia menyisakan lebih dari sekadar kekecewaan. Keputusan taktis Thomas Tuchel yang memilih bertahan setelah unggul justru menjadi bumerang, membuat timnya kehilangan kendali dan akhirnya menyerah 2-1 di menit-menit akhir. Alih-alih membawa pulang tiket final, pelatih asal Jerman itu kini harus menghadapi rentetan pertanyaan tentang masa depan skuad Garuda Tiga.
Pertandingan di semifinal itu seolah menjadi antitesis dari janji awal Federasi Sepak Bola Inggris (FA) saat merekrut Tuchel. FA percaya bahwa pelatih berusia 52 tahun itu memiliki kecerdasan taktis untuk menghindari kesalahan naif yang kerap dilakukan pendahulunya, Gareth Southgate. Namun, kenyataan di lapangan berkata lain. Setelah unggul lebih dulu, Inggris justru menarik diri dan membiarkan Argentina mendominasi. Data mencatat, selama 18 menit 37 detik sebelum Argentina menyamakan kedudukan, Inggris hanya mampu melepaskan tiga operan sukses—semuanya di antara kiper Jordan Pickford dan bek John Stones. Penguasaan bola anjlok hingga 12 persen, sebuah angka yang mencerminkan kepanikan kolektif.
Bek tengah Marc Guehi, dalam wawancara dengan BBC Sport, mengakui adanya pergeseran mentalitas yang fatal. "Kami seharusnya terus menekan. Rasanya setelah mencetak gol, mentalitas kami berubah menjadi bertahan," ujarnya. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa arahan Tuchel—atau ketiadaan arahan yang jelas—gagal menjaga agresivitas tim. Padahal, di babak pertama melawan Kroasia, Tuchel sempat berpesan, "Bahkan jika kita kalah, lakukan dengan cara kita." Hasilnya, Inggris tampil memukau dengan serangan terbuka. Namun, pola itu lenyap saat menghadapi Argentina.
Ketergantungan pada Harry Kane menjadi isu lain yang tak kalah pelik. Kapten tim berusia 33 tahun itu tampil gemilang dengan enam gol, tetapi Tuchel nyaris tidak memberikan menit bermain bagi pelapisnya. Ollie Watkins, pencetak 16 gol Premier League musim lalu, hanya bermain enam menit saat melawan Panama. Ivan Toney baru masuk di masa injury time kontra Argentina. Sementara itu, Phil Foden yang dicoba sebagai false nine dalam laga uji coba melawan Uruguay pada Maret lalu justru tampil buruk hingga akhirnya didepak dari skuad Piala Dunia. Tuchel seolah tidak memiliki rencana cadangan yang matang, dan usia para penyerang alternatif—Watkins (30), Toney (30), Dominic Solanke (28), Dominic Calvert-Lewin (29)—semakin mendekati senja.
Di lini tengah, keputusan Tuchel untuk tidak memainkan Kobbie Mainoo sama sekali menimbulkan tanda tanya besar. Gelandang Manchester United berusia 21 tahun itu justru lebih sering digantikan oleh bek sayap seperti Reece James atau Nico O'Reilly yang ditempatkan sebagai gelandang bertahan. Padahal, Adam Wharton (22) dan Alex Scott (22) juga menanti kesempatan. Jika Tuchel tidak percaya pada Mainoo, mengapa ia dibawa ke turnamen? Pertanyaan ini mengemuka dan menjadi simbol kegagalan manajemen skuad.
Dalam konteks yang lebih luas, kekalahan ini mengingatkan pada pola lama Inggris yang kerap tampil dominan di babak grup namun patah di fase gugur. Sejak 1998, Inggris selalu kalah dalam tujuh pertemuan knockout Piala Dunia melawan tim peringkat 10 besar FIFA. Argentina, yang saat ini berada di puncak ranking, menjadi momok terbaru. FA sendiri telah memperpanjang kontrak Tuchel hingga 2028, menandakan kepercayaan penuh, tetapi dukungan publik mulai luntur. Jadwal padat menanti: laga Nations League melawan Spanyol di Wembley pada 26 September, lalu melawan Ceko dan Kroasia, disusul kualifikasi Euro 2028 yang akan diikuti Inggris meski menjadi tuan rumah bersama.
Tuchel kini berada di persimpangan. Ia harus membuktikan bahwa kegagalan di Piala Dunia bukanlah akhir, melainkan awal dari transformasi. Namun, dengan skuad yang menua, minimnya regenerasi striker, dan keraguan atas pendekatan taktisnya, akankah ia mampu membawa Inggris meraih gelar di Euro 2028? Atau justru sejarah akan kembali berulang, dengan gaya bermain pasif yang membuat tim ini kembali menuai kritik?



