Jelang Semifinal Piala Dunia, Inggris Tempuh 14.000 Mil, Tujuh Kali Lipat dari Prancis
Baca dalam 60 detik
- Timnas Inggris telah menempuh perjalanan lebih dari 14.000 mil selama Piala Dunia 2026, tertinggi di antara semifinalis, sementara Prancis hanya mencatat kurang dari 2.000 mil.
- Format 48 tim dengan 16 kota tuan rumah di tiga negara memaksa tim melakukan perjalanan lintas benua, memicu kekhawatiran akan kelelahan pemain dan kesenjangan logistik.
- Bagi Indonesia yang berambisi menjadi tuan rumah Piala Dunia, pengalaman ini menjadi pelajaran penting dalam perencanaan venue dan akomodasi tim.

Piala Dunia 2026 yang digelar di tiga negara—Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko—menghadirkan tantangan logistik yang belum pernah terjadi sebelumnya. Timnas Inggris, misalnya, telah menempuh lebih dari 14.000 mil untuk mencapai babak semifinal, tujuh kali lipat dibandingkan favorit juara Prancis yang hanya mencatat kurang dari 2.000 mil. Perbedaan drastis ini memicu perdebatan: seberapa besar pengaruh jarak tempuh terhadap performa tim di panggung tertinggi sepak bola?
Berdasarkan data BBC Sport, Inggris bolak-balik dari markas mereka di Kansas City, Missouri, ke Atlanta, Boston, Mexico City, dan Miami. Sementara itu, Argentina yang juga bermarkas di Kansas City hanya menempuh sekitar 8.000 mil, dan Prancis hampir sepenuhnya berada di pesisir timur sebelum menuju Dallas untuk semifinal melawan Spanyol. Spanyol sendiri mencatat lebih dari 12.000 mil, dan Swiss melebihi 10.000 mil karena apa yang disebut Asosiasi Sepak Bola Swiss sebagai 'venue hopping'.
Format 48 tim dengan 16 kota tuan rumah memang dirancang untuk meratakan dampak ekonomi dan sosial, tetapi konsekuensinya adalah jarak tempuh yang tidak merata. Pelatih Norwegia, Stale Solbakken, mengakui bahwa tuntutan fisik turnamen mulai terasa. "Kami hanya punya Jorgen yang demam, tapi batuk-batuk dan suara serak tersebar di mana-mana. AC, penerbangan, ruang ganti—semua itu berpengaruh," ujarnya. Norwegia sendiri memilih untuk tidak kembali ke markas setelah fase grup, berbeda dengan Inggris yang terus pulang-pergi ke Kansas City.
Bagi Indonesia, yang tengah menjajaki kemungkinan menjadi tuan rumah Piala Dunia di masa depan, pengalaman ini menjadi pelajaran berharga. Perencanaan venue yang terpusat atau setidaknya dalam radius terbatas dapat mengurangi beban perjalanan tim. Selain itu, pemilihan markas yang strategis—seperti yang dilakukan Prancis dengan memusatkan aktivitas di pantai timur—bisa menjadi model efisiensi. Tanpa manajemen logistik yang matang, kesenjangan jarak tempuh berpotensi menciptakan ketidakadilan kompetitif yang tidak diinginkan.
Meski demikian, Inggris justru memanfaatkan situasi ini sebagai bagian dari pengalaman turnamen. Skuad asuhan Thomas Tuchel menikmati kehidupan di Prairie Village, berlatih di Swope Soccer Village, dan bahkan menyempatkan diri mengunjungi pertandingan bisbol Kansas City Royals. Setelah kemenangan dramatis 3-2 atas Meksiko, para pemain mendapat waktu libur 36 jam untuk menjelajahi kota. Pertanyaannya kini: akankah akumulasi mil tersebut menjadi faktor penentu di semifinal, atau justru mentalitas positif yang akan membawa Inggris melangkah lebih jauh?



