Patung Messi Raksasa Saksi Euforia Argentina ke Final Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Kemenangan dramatis atas Inggris membawa Argentina ke final Piala Dunia 2026, disambut euforia di kota kecil Patagonia yang memiliki patung Messi setinggi 26 meter.
- Perayaan di Cutral Co mencerminkan kebanggaan nasional yang dalam, diperkuat oleh rivalitas sejarah dan sentimen politik terkait Kepulauan Falkland.
- Argentina kini hanya berjarak satu laga dari gelar juara dunia beruntun, sebuah pencapaian yang terakhir diraih Brasil pada 1962.

Euforia pecah di sebuah kota kecil di Patagonia, Argentina, setelah tim nasional sepak bola negara itu memastikan tempat di final Piala Dunia 2026 dengan mengalahkan Inggris 2-1 di Atlanta. Di Cutral Co, Provinsi Neuquen, ribuan warga berkumpul di bawah bayang-bayang patung Lionel Messi setinggi 26 meter—monumen tertinggi untuk sang megabintang di dunia—untuk merayakan kemenangan yang terasa lebih dari sekadar pertandingan.
Pertandingan semi-final itu menyajikan drama comeback yang menegangkan. Inggris unggul lebih dulu, namun Argentina membalikkan keadaan dengan dua gol di menit-menit akhir. Peluit panjang wasit disambut teriakan histeris dan kembang api warna oranye serta merah yang meledak di sekitar kepala patung Messi. "Ini kemenangan yang penuh penderitaan," ujar Lucas Romero, warga setempat berusia 32 tahun, sambil menunjuk patung di depannya. "Ini pengakuan yang pantas atas semua yang telah dilakukan Messi."
Rivalitas Argentina vs Inggris bukan sekadar soal gengsi olahraga. Sejarah panjang—termasuk kekalahan Argentina di final 1966, perang Falkland/Malvinas 1982, dan gol "Tangan Tuhan" Diego Maradona—membuat laga ini sarat muatan emosional. Wakil Presiden Argentina Victoria Villarruel bahkan menulis di media sosial sebelum pertandingan: "Ini bukan sekadar laga lain. Melawan Inggris, selalu ada yang lebih. Ini soal Malvinas, Diego, dan yang terakhir untuk Leo."
Suasana di Cutral Co mencerminkan gelombang emosi yang melanda Argentina. Meski awal turnamen berjalan lebih tenang dibandingkan Piala Dunia 2022—karena banyak yang merasa sudah puas dengan gelar di Qatar—setiap kemenangan berikutnya memicu kerumunan besar di Buenos Aires. Koran-koran lokal bahkan mewawancarai ahli jantung untuk memperingatkan risiko serangan jantung akibat ketegangan pertandingan. "Saya diliputi emosi," kata Mariano Gecik, profesor universitas berusia 49 tahun. "Sekali lagi, ini soal kebangkitan, ketahanan, dan kegigihan; kami benar-benar pantas berada di final."
Bagi para veteran Perang Falkland, momen ini memiliki arti khusus. Di Quilmes, Provinsi Buenos Aires, Juan Carlos Salinas, 74 tahun, nyaris tak bisa bicara karena menahan tangis. "Ini bagi kami... sesuatu yang besar," ujarnya. Sentimen anti-Inggris yang muncul kembali dalam pertandingan ini mengingatkan pada luka lama, namun juga menjadi pelecut semangat nasional. Argentina kini tinggal selangkah lagi mengulang sukses 2022, sesuatu yang terakhir dilakukan Brasil pada 1962—menjuarai Piala Dunia dua kali berturut-turut.
Bagi Indonesia, euforia Argentina ini menjadi tontonan yang menarik. Meski Timnas Indonesia tidak berlaga, Piala Dunia tetap memiliki basis penggemar besar di Tanah Air. Pertandingan final melawan Spanyol diprediksi akan menyedot perhatian jutaan pasang mata, termasuk diaspora Argentina di Indonesia. Pertanyaannya, mampukah Messi dan kawan-kawan mengatasi tekanan sejarah dan membawa pulang trofi lagi? Atau justru Spanyol yang akan menjadi kuda hitam?



