Just Fontaine, Pencetak 13 Gol Piala Dunia yang Bermain dengan Sepatu Pinjaman
Baca dalam 60 detik
- Just Fontaine mencetak 13 gol di Piala Dunia 1958, rekor yang belum terpecahkan hingga kini, meski ia bukan starter utama dan meminjam sepatu dari rekan setim.
- Rekor tersebut bertahan 68 tahun, dengan hanya Gerd Müller (1970) yang mampu mencetak dua digit gol (10) dalam satu edisi Piala Dunia pria.
- Di Piala Dunia 2026 dengan format 48 tim, pemain seperti Mbappe, Messi, dan Haaland berpotensi mendekati rekor Fontaine, namun tekanan modern justru bisa menjadi penghalang.

Just Fontaine, penyerang asal Prancis, mencetak 13 gol dalam satu edisi Piala Dunia—rekor yang belum terpecahkan sejak 1958—dengan sepatu pinjaman dan status sebagai pemain pengganti yang tidak direncanakan. Prestasi ini semakin luar biasa karena ia baru memiliki lima caps internasional saat turnamen dimulai, dan sepatu yang ia pakai pada laga perdana adalah milik rekan setimnya, Stephane Bruey, karena sepatunya sendiri tidak muat.
Fontaine lahir di Marrakesh, Maroko, pada 1933, saat negara itu masih menjadi protektorat Prancis. Setelah Maroko merdeka pada 1956, Fontaine yang sudah bermain di liga Prancis memilih membela Les Bleus. Ironisnya, ia bukan pilihan utama pelatih Albert Batteux. Rene Bliard, striker utama Prancis, mengalami cedera dalam laga pemanasan, membuka jalan bagi Fontaine untuk tampil. Menurut sejarawan olahraga Philip Barker, Fontaine juga baru pulih dari operasi meniskus, sehingga ia datang ke turnamen dalam kondisi segar dibanding pemain lain yang kelelahan setelah musim panjang.
Ketidakterdugaan itu justru menjadi berkah. Tanpa tekanan media—hanya dua wartawan yang meliput tim Prancis saat itu—Fontaine bermain lepas. Ia mencetak hat-trick pada debutnya melawan Paraguay (7-3), lalu terus mencetak gol di setiap pertandingan, termasuk empat gol ke gawang Jerman Barat pada perebutan tempat ketiga (6-3). Total 13 gol itu dicetak hanya dalam enam laga, dengan rata-rata 2,17 gol per pertandingan—efisiensi yang sulit ditandingi.
Meski rekor ini bertahan 68 tahun, nama Fontaine jarang disebut dalam diskusi pemain terbaik sepanjang masa. Sejarawan Barker menilai hal itu wajar karena karier internasionalnya singkat—hanya 21 caps—akibat cedera parah pada 1960. Ia patah tulang kaki saat membela Reims di liga Prancis, dan setelah beberapa kali mencoba comeback, ia pensiun pada 1962. Tanpa cedera, mungkin Prancis bisa lebih kompetitif di Piala Dunia 1962 dan 1966. Namun, setelah gantung sepatu, Fontaine tetap aktif: ia mendirikan serikat pemain UNFP, melatih timnas Prancis (dua laga pada 1967), PSG, Toulouse, dan Maroko.
Menjelang Piala Dunia 2026 yang akan diikuti 48 tim—dengan tambahan satu babak gugur—rekor Fontaine mulai terancam. Kylian Mbappe telah mengoleksi 8 gol Piala Dunia, Lionel Messi dan Erling Haaland 7 gol, sementara Harry Kane dan Jude Bellingham masing-masing 6 gol. Namun, Barker mengingatkan bahwa tekanan psikologis justru bisa menjadi bumerang. "Begitu seorang striker mulai memikirkan rekor, ia selesai. Rahasianya adalah mengabaikannya," kata Fontaine dalam wawancara 2002. Ia sendiri menolak mengambil penalti di laga perebutan tempat ketiga karena tidak ingin terganggu oleh urusan individu.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Fontaine mengingatkan bahwa rekor sering lahir dari situasi yang tidak terduga. Di era ketika pemain top seperti Mbappe atau Haaland mendapat sorotan media dan tekanan publik yang luar biasa, pencapaian Fontaine justru lahir dari ketenangan dan ketidakterdugaan. Apakah format 48 tim akan memudahkan pemecahan rekor, atau justru menambah beban? Yang jelas, angka 13 masih menjadi gunung yang sulit didaki—setidaknya hingga Piala Dunia 2026 bergulir.



