Dan Burn, Bek Berusia 34 Tahun yang Jadi Pahlawan Tak Terduga Inggris di Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Dan Burn, bek tengah berusia 34 tahun, menjadi pahlawan tak terduga Inggris di Piala Dunia 2026 dengan penampilan gemilang saat melawan Meksiko dan Norwegia.
- Karier Burn penuh liku: dibuang Newcastle United saat kecil, bermain di divisi bawah, hingga akhirnya kembali ke Newcastle dan debut Piala Dunia di usia senja.
- Kisah Burn memberikan inspirasi bahwa kesuksesan tidak selalu linear, relevan bagi pemain muda Indonesia yang kerap menghadapi jalan berliku.

Dan Burn, bek tengah Inggris berusia 34 tahun, menjelma menjadi pahlawan tak terduga di Piala Dunia 2026. Dalam dua laga krusial, ia tampil gemilang saat Inggris menang dramatis 3-2 atas Meksiko dan menaklukkan Norwegia 2-1 di perpanjangan waktu. Dengan postur menjulang 2,01 meter, Burn menjadi tembok kokoh yang menggagalkan serangan udara lawan.
Burn masuk sebagai pemain pengganti saat Inggris bermain dengan 10 orang setelah kartu merah Jarell Quansah. Dalam tekanan puluhan ribu suporter Meksiko di Azteca, ia memenangi duel udara dan melakukan blok krusial. Enam hari kemudian, ia kembali menjadi andalan saat melawan Norwegia, termasuk duel fisik dengan Leo Ostigard. Statistik mencatat sembilan sapuan dan dua blok dalam dua pertandingan.
Kisah Burn bukanlah tipikal pemain Piala Dunia yang penuh gemerlap. Ia pernah dibuang oleh Newcastle United saat masih bocah. Kariernya dimulai dari divisi bawah bersama Darlington, lalu merangkak naik ke Fulham, Wigan Athletic, dan Brighton & Hove Albion. Baru pada 2022 ia kembali ke Newcastle, dan tak ada yang menyangka panggilan timnas Inggris akan tiba di usia 34 tahun. "Jika Anda bertanya saat saya di Darlington, saya mungkin akan bilang tidak," ujar Burn.
Di tengah obsesi sepak bola terhadap pemain muda, Burn menjadi simbol ketahanan dan kerja keras. Ia mengingat Piala Dunia 2002 sebagai kenangan pertama, dan mengaku masih merasa surreal menjadi bagian skuad Inggris. Setelah kemenangan atas Kroasia, ia ikut bernyanyi "Wonderwall" bersama suporter. Sikap rendah hati dan permainan kerasnya membuatnya menjadi idola media sosial; seorang penggemar bahkan bercanda agar Burn punya lagu masuk sendiri dengan pertunjukan cahaya.
Bagi Indonesia, kisah Burn relevan. Banyak pemain muda Indonesia harus menempuh jalan panjang dari kompetisi lokal ke level nasional. Burn membuktikan bahwa usia bukan halangan, dan kegagalan di masa muda bukan akhir segalanya. "Tidak ada garis lurus menuju kesuksesan," kata Burn. "Semoga ini memberi inspirasi bagi anak-anak."
Ke depan, Burn akan menghadapi ujian berat melawan Erling Haaland di semifinal. Namun, dengan kepercayaan diri yang tenang, ia siap berduel. Pertanyaannya, mampukah Burn terus menjadi tembok kokoh Inggris dan membawa pulang trofi? Ataukah kisah dongeng ini akan berakhir di tangan raksasa Norwegia?



