Timnas Inggris yang Multikultural: Lebih dari Sekadar Sepak Bola
Baca dalam 60 detik
- Skuad Inggris di Piala Dunia 2026 menampilkan 20 dari 26 pemain yang memenuhi syarat membela negara lain, mencerminkan warisan imperial Inggris.
- Keberagaman tim ini kontras dengan politik identitas yang mengemuka di Inggris, di mana isu etnisitas dan kebangsaan menjadi perdebatan hangat.
- Tim ini menawarkan narasi baru tentang identitas Inggris yang inklusif, namun tantangan sosial-politik masih menghadang di dalam negeri.

Langkah Timnas Inggris yang terhenti di Piala Dunia 2026 mungkin mengecewakan para pendukungnya, namun di balik kekalahan itu tersimpan kisah yang lebih besar: sebuah potret bangsa yang tengah bergulat dengan identitasnya. Skuad asuhan Thomas Tuchel, yang mayoritas pemainnya memiliki latar belakang multietnis, tidak hanya tampil di lapangan hijau, tetapi juga menjadi cermin perubahan sosial yang sedang terjadi di Inggris.
Dari 26 pemain yang dibawa ke turnamen, 20 di antaranya memiliki opsi untuk membela negara lain seperti Jamaika, Nigeria, Ghana, Irlandia, atau Kenya. Fenomena ini bukanlah kebetulan. Aturan warisan FIFA memungkinkan pemain mewakili negara asal orang tua atau kakek-nenek mereka. Namun, lebih dari itu, daftar negara tersebut adalah jejak sejarah kolonial Inggris. Seperti kata novelis Sri Lanka A. Sivanandan, "Mereka di sini karena kalian dulu di sana."
Tim yang digawangi oleh Harry Kane—cucu imigran Irlandia—dan Jude Bellingham—putra imigran Kenya dan Irlandia—ini mendapat dukungan luar biasa dari publik. Data penonton menunjukkan rekor jumlah pemirsa, sementara euforia suporter membanjiri media sosial. Namun, keberhasilan tim ini seolah bertolak belakang dengan iklim politik domestik yang kian mengeras. Kebangkitan kelompok populis sayap kanan telah menempatkan isu warisan dan tempat kelahiran sebagai sorotan utama.
Paradoks ini mengemuka dalam jajak pendapat yang konsisten menunjukkan bahwa minoritas etnis di Inggris enggan mengidentifikasi diri sebagai 'English'. Mereka lebih memilih label 'British' yang dianggap lebih inklusif. Di sisi lain, kelompok konservatif cenderung menonjolkan identitas 'English' yang lebih eksklusif. Peneliti menyebut fenomena ini sebagai hierarki kepemilikan nasional, di mana kelompok tertentu merasa lebih berhak atas sumber daya dan pengakuan.
Ketegangan antarkelompok ini bukanlah hal baru, namun diperparah oleh ketimpangan ekonomi dan melemahnya institusi publik. Kebijakan nativis yang mengutamakan warga asli semakin mendapat tempat. Namun, timnas Inggris kali ini menawarkan secercah harapan. Di Wales dan Skotlandia, minoritas etnis lebih mudah mengidentifikasi diri sebagai Welsh atau Skotlandia karena identitas tersebut didefinisikan dalam oposisi terhadap dominasi Inggris. Pertanyaan tentang 'keinggrisan' pun masih menggantung.
Para analis berpendapat bahwa Inggris perlu menceritakan ulang narasi kebangsaannya—melampaui obsesi pada kejayaan masa lalu. Tim sepak bola ini, dengan segala keragaman dan dinamikanya, bisa menjadi salah satu cerita baru yang relevan. Meski gagal membawa pulang trofi, mereka telah menunjukkan wajah Inggris yang berbeda: lebih inklusif, lebih berwarna, dan lebih sesuai dengan realitas global. Pertanyaannya kini, akankah narasi ini bertahan lama di luar lapangan?



