Infantino Buka Peluang Piala Dunia 64 Tim: Sepak Bola untuk Semua atau Sekadar Bisnis?
Baca dalam 60 detik
- Presiden FIFA Gianni Infantino mengisyaratkan kajian serius untuk memperluas Piala Dunia putra menjadi 64 tim setelah turnamen 2026, merespons proposal dari Konfederasi Sepak Bola Amerika Selatan (Conmebol).
- Wacana ini menuai kontroversi: sejumlah petinggi sepak bola Eropa dan Asia menolak karena dianggap mengancam kualitas kompetisi dan ekosistem, sementara pihak AS menyatakan siap menjadi tuan rumah edisi 2038 dengan format tersebut.
- Jika terealisasi, hampir sepertiga dari 211 anggota FIFA akan lolos ke putaran final, meningkatkan pendapatan tetapi juga memperumit logistik penyelenggaraan, termasuk potensi dampak bagi persepakbolaan Indonesia.

Presiden FIFA Gianni Infantino secara terbuka menyatakan bahwa rencana memperluas Piala Dunia putra menjadi 64 tim akan dikaji secara mendalam setelah turnamen 2026 usai. Dalam wawancara dengan Blue Sport, ia menegaskan bahwa sepak bola harus menjadi milik seluruh dunia, bukan hanya Eropa dan Amerika Selatan. Pernyataan ini memicu perdebatan sengit di kalangan federasi sepak bola global.
Gagasan yang pertama kali dilontarkan oleh Konfederasi Sepak Bola Amerika Selatan (Conmebol) pada April 2025 itu kini mendapat angin segar dari pucuk pimpinan FIFA. Infantino menilai kesuksesan edisi perdana 48 timโyang baru pertama kali digelar tahun iniโmenjadi bukti bahwa format lebih besar mampu meningkatkan daya saing. Ia menyoroti sembilan dari sepuluh wakil Afrika yang lolos ke fase gugur sebagai indikator keberhasilan inklusivitas.
Namun, langkah ini tidak serta-merta diterima bulat-bulat. Presiden UEFA Aleksander Ceferin menyebutnya sebagai "ide buruk" yang dapat merusak kualitas turnamen dan proses kualifikasi. Senada dengannya, Presiden Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) Sheikh Salman bin Ibrahim Al Khalifa memperingatkan bahwa ekspansi lebih lanjut hanya akan membawa "kekacauan". Sementara itu, Presiden Concacaf Victor Montagliani menilai usulan tersebut "terasa tidak tepat" dan berpotensi mengganggu ekosistem sepak bola secara keseluruhan.
Di sisi lain, Andrew Giuliani, direktur eksekutif gugus tugas Piala Dunia Gedung Putih, menyatakan Amerika Serikat siap menjadi tuan rumah edisi 2038 dengan format 64 tim. Pernyataan ini menunjukkan bahwa secara politis, ekspansi justru mendapat dukungan dari negara-negara dengan infrastruktur besar. Infantino sendiri sejak terpilih pada 2016 konsisten mendorong perluasan: dari manifesto awal 40 tim, dalam waktu kurang dari setahun berubah menjadi 48, dan kini wacana 64 tim kembali mengemuka.
Bagi Indonesia, wacana ini memiliki implikasi ganda. Di satu sisi, peluang Timnas Indonesia untuk lolos ke Piala Dunia semakin terbuka lebar jika kuota Asia bertambah. Namun di sisi lain, kekhawatiran akan menurunnya kualitas pertandingan dan membengkaknya biaya penyelenggaraan juga perlu dicermati. Apalagi, Indonesia tengah giat membangun infrastruktur sepak bola dan berambisi menjadi tuan rumah turnamen internasional. Jika FIFA terus memperbesar format, standar penyelenggaraan yang dibutuhkan pun akan semakin tinggi.
Keputusan akhir berada di tangan Dewan FIFA, namun hingga saat ini belum ada tanda-tanda bahwa keputusan akan segera diambil. Infantino menekankan bahwa setiap usulan dari anggota dewan wajib dipertimbangkan. Pertanyaan besarnya: apakah perluasan ini benar-benar untuk demokratisasi sepak bola, atau sekadar strategi bisnis untuk menggandakan pendapatan? Dengan 128 pertandingan dalam satu turnamen, logistik, jadwal pemain, dan kualitas permainan pasti akan teruji. Dunia sepak bola kini menanti langkah selanjutnya dari badan tertinggi sepak bola dunia.



