Presiden Como Akui Hubungi Inter Demi Hindari Perang Harga Bek Chelsea
Baca dalam 60 detik
- Presiden Como, Mirwan Suwarso, mengonfirmasi bahwa ia menghubungi Inter Milan untuk membuat kesepakatan non-agresi terkait transfer Trevoh Chalobah dari Chelsea.
- Langkah ini diambil untuk mencegah kedua klub Serie A saling menaikkan harga, yang bisa merugikan keduanya di hadapan Chelsea yang mematok โฌ35 juta.
- Suwarso menyebut pendekatan ini sebagai 'win-win' dan membuka peluang kerja sama lain, termasuk potensi kolaborasi merek pakaian klub.

Presiden Como, Mirwan Suwarso, secara mengejutkan mengakui bahwa ia menelepon presiden Inter Milan untuk menawarkan pakta non-agresi dalam perburuan bek Chelsea, Trevoh Chalobah. Langkah ini diambil untuk mencegah kedua klub Serie A terlibat perang harga yang hanya menguntungkan klub London tersebut.
Dalam wawancara dengan podcast Business of Sport, Suwarso mengonfirmasi laporan La Gazzetta dello Sport yang menyebutkan bahwa Como dan Inter nyaris bersaing ketat untuk mendapatkan pemain internasional Inggris itu. Chelsea dikabarkan mematok harga โฌ35 juta. Suwarso kemudian menghubungi presiden Inter untuk menawarkan kesepakatan: jika Inter benar-benar menginginkan Chalobah, Como akan mundur, dengan imbalan pemain lain dari Inter.
โAda berita di media bahwa kami bersaing dengan klub Italia lain untuk pemain Inggris. Mereka bilang kami mungkin ingin membelinya. Jadi saya pikir, kenapa tidak saya telepon presiden klub lain itu dan tanya, apa kamu menginginkannya? Jika kamu mau, silakan, kami akan mundur. Tapi jika kamu membelinya, beri kami satu pemainmu,โ ujar Suwarso.
Menurut Suwarso, presiden Inter menyambut baik tawaran itu dan berjanji akan memberi kabar. Como bahkan bersedia berbagi daftar target lain yang mereka incar. โBagi saya ini hubungan win-win dengan klub lain. Kami terbuka, ini membantu semua tumbuh,โ tambahnya.
Suwarso juga mengungkapkan bahwa ia akan makan siang dengan ketua klub lain pekan depan untuk membahas potensi kerja sama mengelola merek pakaian klub. Beberapa klub Serie A seperti Napoli dan Venezia sudah memproduksi kostum dan produk gaya hidup sendiri, sehingga kemungkinan salah satunya menjadi mitra.
Pendekatan bisnis Como yang tidak biasa ini, menurut Suwarso, lahir dari sejarah klub yang kecil sebelum ia membawanya dari Serie C ke ambang Liga Champions. Ia mengakui telah mengeluarkan dana besar, tetapi optimistis klub bisa mandiri secara finansial dalam waktu dekat. โKami yakin bisa mencapai titik impas dan tidak lagi membutuhkan suntikan dana pemilik pada akhir musim depan,โ tegasnya.
Dalam pertemuannya dengan UEFA, Suwarso menyadari bahwa tidak ada preseden untuk pertumbuhan secepat Como. UEFA biasanya melihat kinerja beberapa tahun terakhir, dan perbandingan dengan Juventus atau Aston Villa tidak sepadan. โBahkan mereka mengatakan harus mengevaluasi kembali cara mereka memandang Financial Fair Play. Kami ingin menjadi anggota asosiasi yang baik. Jika harus didenda, denda saja. Itu target yang harus kami capai. Kami tidak ingin diperlakukan berbeda,โ ujarnya.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, langkah Suwarso menunjukkan pendekatan bisnis yang cerdas dan berbeda dari tipikal pemilik klub. Alih-alih terlibat perang harga yang boros, ia memilih kolaborasi yang saling menguntungkan. Ini bisa menjadi model bagi klub-klub Indonesia yang kerap terjebak dalam persaingan transfer yang tidak sehat. Pertanyaannya, apakah pendekatan seperti ini akan bertahan lama di tengah gempuran klub-klub besar Eropa yang agresif?



