Bologna Bantah Klaim Transfer Bek Kiri Real Oviedo: Bandrol €4 Juta Jadi Batu Sandungan
Baca dalam 60 detik
- Klub Serie A Bologna disebut telah mencapai kesepakatan dengan Real Oviedo untuk Rahim Alhassane, namun pakar transfer Italia membantah klaim tersebut.
- Real Oviedo mematok harga €4 juta untuk pemain internasional Niger berusia 24 tahun itu, sementara Bologna ingin menawar lebih rendah.
- Alhassane, yang bisa bermain sebagai bek kiri dan bek tengah, masih terikat kontrak hingga 2028, membuat negosiasi berpotensi alot.

Kabar transfer pemain sepak bola kembali diwarnai perbedaan versi. Kali ini, nasib Rahim Alhassane, bek kiri Real Oviedo asal Niger, menjadi perdebatan antara media Spanyol dan Italia. Klub Serie A, Bologna, dikabarkan telah memasuki tahap lanjut negosiasi, namun pakar transfer asal Italia justru menyebut kesepakatan masih jauh dari kata final.
Media Spanyol La Voz de Asturias melaporkan bahwa pembicaraan antara Bologna dan Real Oviedo sudah berada di fase akhir. Bahkan, disebutkan bahwa transfer bisa rampung dalam waktu dekat. Namun, laporan tersebut langsung dibantah oleh Gianluca Di Marzio, pakar transfer ternama dari Sky Sport Italia. Menurut Di Marzio, meskipun negosiasi memang berlangsung, Bologna masih berupaya menekan harga yang diminta Real Oviedo, yakni €4 juta.
Alhassane, yang berusia 24 tahun, bergabung dengan Real Oviedo pada musim panas 2024. Selama satu musim, ia mencatatkan 28 penampilan di La Liga dan Copa del Rey, tanpa menyumbang gol atau assist. Meski statistik ofensifnya minim, fleksibilitas posisinya menjadi nilai jual. Selain bek kiri, ia juga bisa ditempatkan sebagai bek tengah, sebuah opsi yang mungkin menarik bagi Bologna yang ingin memperkuat lini pertahanan.
Perbedaan laporan ini menunjukkan betapa rumitnya negosiasi transfer di bursa musim panas. Real Oviedo, yang memegang kendali kontrak hingga 2028, berada dalam posisi kuat untuk mempertahankan harga. Sementara itu, Bologna, yang dikenal hati-hati dalam belanja pemain, kemungkinan akan mencoba memanfaatkan situasi untuk mendapatkan diskon.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kasus ini mengingatkan pada pola negosiasi klub-klub Eropa yang kerap berlarut-larut. Meski bukan nama besar, Alhassane bisa menjadi contoh bagaimana klub kasta kedua Spanyol memaksimalkan aset. Jika transfer jadi terjadi, ia akan menjadi pemain Niger pertama di Serie A, sebuah langkah yang bisa membuka pintu bagi talenta Afrika lainnya.
Pertanyaan kini mengarah pada langkah selanjutnya: akankah Bologna menaikkan tawaran atau Real Oviedo bersedia menurunkan harga? Atau justru klub lain muncul sebagai pesaing? Dengan bursa transfer yang masih panjang, saga Alhassane masih layak diikuti.



