Ujian Terakhir Ketahanan Inggris: Hadapi Argentina di Semifinal Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Inggris melaju ke semifinal Piala Dunia 2026 setelah menyingkirkan Norwegia 2-1 lewat perpanjangan waktu, memperpanjang tradisi bangkit dari keterpurukan.
- Duet Harry Kane dan Jude Bellingham, masing-masing dengan enam gol, menjadi motor serangan Inggris dan ancaman utama bagi juara bertahan Argentina.
- Pertemuan ini mengulang sejarah sengit kedua tim di Piala Dunia, termasuk momen kontroversial 'Tangan Tuhan' Maradona dan balas dendam Beckham.

Ketangguhan mental Inggris kembali diuji saat mereka bersiap menghadapi Argentina di semifinal Piala Dunia 2026, sebuah laga yang tidak hanya sarat sejarah tetapi juga menjadi batu loncatan untuk mengakhiri penantian gelar selama 60 tahun. Kemenangan dramatis 2-1 atas Norwegia di babak perpanjangan waktu menjadi bukti terbaru bahwa skuad asuhan Thomas Tuchel memiliki daya juang yang sulit ditandingi.
Pertandingan di Kansas City, Missouri, pada Sabtu (12/7) lalu menunjukkan sisi lain dari Inggris: mereka mampu bangkit dari ketertinggalan untuk kedua kalinya di fase gugur. Tuchel, yang sebelumnya sukses di level klub, mengakui bahwa atmosfer turnamen seperti Piala Dunia memberikan tekanan emosional yang berbeda. "Mereka tidak mau menyerah. Mereka menolak menerima kekalahan," ujar pelatih asal Jerman itu tentang anak asuhnya.
Namun, di balik euforia, Tuchel mengingatkan bahwa permainan Inggris masih perlu ditingkatkan. "Kami menemukan cara untuk menang, itu yang terpenting. Tapi saya yakin kami bisa dan harus bermain lebih baik lagi," katanya. Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa lini belakang dan penguasaan bola masih menjadi pekerjaan rumah menjelang duel melawan Lionel Scaloni dan pasukannya.
Ketergantungan Inggris pada duet Kane-Bellingham menjadi senjata utama sekaligus kerentanan. Keduanya telah menyumbang 12 dari 13 gol Inggris di turnamen ini. Bellingham, yang kini bersinar bersama Real Madrid, mendapat pujian dari rekan setimnya Noni Madueke. "Apa yang dia lakukan luar biasa, tapi itu sudah biasa baginya," ujar Madueke. Sementara itu, kondisi fisik pemain menjadi perhatian setelah beberapa pemain mengalami kram dan sakit akibat cuaca panas di Kansas.
Sejarah pertemuan kedua tim di Piala Dunia selalu menyajikan drama. Inggris unggul pada 1962 dan 1966, sebelum Argentina membalas lewat 'Tangan Tuhan' Maradona pada 1986. Adu penalti pada 1998 dan gol balas dendam Beckham pada 2002 melengkapi narasi rivalitas ini. Kini, dengan status Argentina sebagai juara bertahan, laga ini diprediksi berjalan sengit. Terakhir kali Inggris menang di semifinal turnamen besar adalah saat mengalahkan Belanda 2-1 di Euro 2024 berkat gol telat Ollie Watkins.
"Saya merasa sangat hidup di momen-momen seperti ini. Ini adalah tempat yang saya inginkan. Saya tidak ingin berada di tempat lain di dunia," kata Tuchel, menggambarkan intensitas laga semifinal.
Bagi Indonesia, pertandingan ini menjadi tontonan yang menarik karena gaya bermain Inggris yang pragmatis namun efektif bisa menjadi pelajaran bagi pengembangan sepak bola nasional. Ketahanan mental yang ditunjukkan Inggris, terutama saat tertinggal, adalah aspek yang sering menjadi kelemahan tim-tim Asia Tenggara. Sementara itu, Argentina dengan pengalaman dan kualitas individu pemainnya menjadi tolok ukur sejati bagi Inggris untuk membuktikan diri layak menjadi juara.
Pertanyaannya, akankah Inggris mampu mempertahankan konsistensi performa dan mengatasi tekanan sejarah? Atau justru Argentina yang akan kembali menunjukkan dominasinya di panggung terbesar sepak bola? Semua akan terjawab di Atlanta, tempat semifinal digelar.



