Polemik Pelatih Anyar Italia: Pirlo Jadi Kandidat Terdepan, Publik Terbelah
Baca dalam 60 detik
- Andrea Pirlo disebut-sebut sebagai calon utama pelatih timnas Italia, namun minimnya pengalaman kepelatihan memicu perdebatan.
- FIGC dihadapkan pada pilihan sulit: memilih legenda berisiko atau pelatih berpengalaman yang lebih aman.
- Keputusan ini akan menentukan arah sepak bola Italia ke depan, termasuk peluang bersaing di level internasional.

Andrea Pirlo, maestro lini tengah yang membawa Italia juara dunia 2006, kini menjadi kandidat terdepan untuk menukangi Gli Azzurri. Namun, langkah Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) untuk menunjuk pria 45 tahun itu justru memicu perdebatan sengit di kalangan penggemar dan pengamat. Minimnya jam terbang Pirlo sebagai pelatih—hanya menangani Juventus dan Fatih Karagümrük—menjadi batu sandungan utama.
Dalam episode terbaru Football Italia Summer Show, jurnalis Lorenzo Bettoni dan Alasdair Mackenzie mengupas tuntas pro-kontra pencalonan Pirlo. Di satu sisi, reputasi Pirlo sebagai ikon sepak bola dunia tak terbantahkan. Namun, di sisi lain, FIGC membutuhkan figur yang mampu membangkitkan kembali kejayaan Italia setelah gagal lolos ke Piala Dunia 2022 dan tersingkir dini di Euro 2024.
Beberapa nama alternatif juga mencuat, seperti Luciano Spalletti yang baru saja sukses membawa Napoli juara Serie A, atau Roberto Mancini yang sudah pernah menangani timnas. Masing-masing menawarkan kelebihan berbeda: Spalletti dengan taktik ofensifnya, Mancini dengan pengalaman internasional, dan Pirlo dengan aura legenda yang bisa memotivasi pemain.
Bagi Indonesia, dinamika ini menarik dicermati. Sepak bola Italia masih menjadi salah satu liga favorit di Tanah Air, dan keputusan FIGC akan berdampak pada gaya bermain timnas yang kerap dijadikan referensi. Jika Pirlo terpilih, pendekatan taktisnya yang berbasis penguasaan bola bisa menjadi inspirasi bagi pelatih lokal. Sebaliknya, jika FIGC memilih figur pragmatis, hal itu juga akan memengaruhi persepsi publik Indonesia terhadap sepak bola Italia.
Menurut analis sepak bola Italia, Gianluca Di Marzio, Pirlo memiliki visi permainan yang brilian tetapi belum terbukti mampu membangun tim dari nol. “Dia butuh asisten yang kuat untuk menutupi kekurangannya di sisi manajerial,” ujarnya. Sementara itu, pendukung Pirlo berargumen bahwa kesuksesan sebagai pemain tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan melatih, namun karisma dan pemahaman taktiknya bisa menjadi nilai jual.
Pertanyaan besarnya: apakah FIGC berani mengambil risiko dengan Pirlo, atau memilih opsi yang lebih aman? Dengan persaingan di level internasional yang semakin ketat—terutama kehadiran pelatih-pelatih top seperti Luis Enrique, Didier Deschamps, dan Gareth Southgate—Italia tidak boleh salah langkah. Keputusan ini akan menjadi penentu apakah Azzurri bisa kembali berjaya atau justru tenggelam dalam bayang-bayang masa lalu.



