Messi vs Inggris: Laga Final Piala Dunia yang Sarat Sejarah dan Kontroversi
Baca dalam 60 detik
- Lionel Messi akan menghadapi Inggris untuk pertama kalinya dalam kariernya di semifinal Piala Dunia 2026, menambah babak baru rivalitas klasik yang telah berlangsung sejak 1962.
- Rivalitas Argentina-Inggris tidak hanya soal sepak bola, tetapi juga dipenuhi ketegangan politik pasca-Perang Falklands, yang kerap muncul dalam nyanyian suporter dan narasi media.
- Pertemuan terakhir kedua tim di Piala Dunia terjadi pada 2002, saat David Beckham membalaskan dendamnya lewat penalti kemenangan yang kontroversial.

Lionel Messi akan merasakan untuk pertama kalinya atmosfer laga melawan Inggris di Piala Dunia, saat Argentina dan Inggris bertemu di semifinal turnamen 2026 di Atlanta. Pertandingan ini bukan sekadar perebutan tiket final, melainkan puncak dari rivalitas yang telah membentang lebih dari enam dekade, diwarnai gol-gol kontroversial, kartu merah, dan luka politik yang belum sepenuhnya sembuh.
Sejak pertemuan pertama pada 1962, Inggris dan Argentina telah saling berhadapan dalam lima laga Piala Dunia. Meski secara statistik Inggris unggul, kemenangan terakhir mereka dalam partai besar terjadi pada 2002. Bagi generasi muda, rivalitas ini mungkin hanya cerita lama, namun bagi para penggemar sepak bola, setiap pertemuan selalu menyisakan memori yang tak terlupakan.
Ketegangan politik, terutama terkait Perang Falklands 1982, kerap mewarnai pertemuan kedua tim. Suporter Argentina masih kerap menyanyikan lagu-lagu yang merujuk pada konflik tersebut, sementara media Inggris tak segan menggunakan narasi nasionalistik untuk membakar semangat. Pada 1986, pertandingan perempat final di Stadion Azteca menjadi ajang pelampiasan kebencian pasca-perang, seperti diakui Lourdes Heredia dari BBC World Service yang hadir saat itu.
Pertemuan 1986 juga melahirkan dua momen paling ikonik dalam sejarah Piala Dunia: "Tangan Tuhan" Diego Maradona yang kontroversial, dan gol solo brilian yang kemudian dianggap sebagai gol terbaik sepanjang masa. Maradona mengaku baru meminta maaf pada 2005, namun maaf itu ditolak kiper Peter Shilton. Argentina akhirnya menjadi juara dunia tahun itu, menambah perih bagi Inggris.
Empat tahun berselang, giliran David Beckham yang menjadi pusat kontroversi. Tendangan balasannya terhadap Diego Simeone berbuah kartu merah, dan Inggris kalah adu penalti. Simeone kemudian mengakui bahwa ia sengaja memperbesar drama untuk memastikan Beckham diusir. Namun, pada 2002, Beckham membalaskan dendam dengan gol penalti kemenangan yang juga kontroversial, setelah Michael Owen dijatuhkan Mauricio Pochettino.
Bagi Indonesia, rivalitas ini menawarkan tontonan yang sarat emosi dan pelajaran tentang bagaimana sepak bola bisa menjadi cermin hubungan antarbangsa. Pertandingan semifinal nanti tidak hanya akan menentukan lawan bagi Brasil atau Portugal, tetapi juga menguji apakah Messi mampu menaklukkan satu lagi rintangan besar dalam kariernya. Bisakah Inggris mengakhiri penantian 60 tahun tanpa gelar, atau Argentina akan mempertahankan mahkota juara dunia? Jawabannya akan ditulis di Atlanta.



