Kontrak Rudi Garcia Dipertanyakan Usai Keputusan Kontroversial Gantikan Courtois
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Belgia Rudi Garcia menjadi sorotan setelah menarik kiper utama Thibaut Courtois saat laga perempat final Piala Dunia 2026 melawan Spanyol, yang berujung pada kekalahan 2-1.
- Keputusan Garcia dinilai terlalu kaku oleh analis Belgia, meskipun ia beralasan hanya pemain 100 persen fit yang boleh bermain, sesuai prinsipnya sejak awal turnamen.
- Masa depan Garcia akan ditentukan dalam evaluasi kontrak akhir bulan ini, dengan catatan 12 kemenangan dari 20 laga dan target lolos ke perempat final yang sudah tercapai.

Keputusan kontroversial pelatih Belgia Rudi Garcia yang menarik kiper bintang Thibaut Courtois di tengah laga perempat final Piala Dunia 2026 melawan Spanyol berbuntut panjang. Kekalahan tipis 2-1 yang dialami Belgia Jumat lalu (10/7) tak hanya mengakhiri langkah mereka di turnamen, tetapi juga memicu perdebatan sengit mengenai masa depan pelatih asal Prancis tersebut.
Garcia memutuskan mengganti Courtois pada menit ke-71 setelah kiper Real Madrid itu mengeluhkan cedera ringan pada kakinya. Padahal, Courtois merasa masih bisa melanjutkan pertandingan. Penggantinya, Senne Lammens, justru melakukan kesalahan fatal dengan gagal menahan tembakan Pau Cubarsi, yang kemudian dimanfaatkan Mikel Merino untuk mencetak gol kemenangan Spanyol di menit ke-86.
Komentator sepak bola Belgia, Peter Vandenbempt, melontarkan kritik pedas. "Mengganti kiper terbaik dunia di perempat final Piala Dunia hanya karena ia tak bisa melakukan tendangan jauh? Sungguh mengejutkan! Saya benar-benar tak bisa memahaminya," ujarnya dalam siaran radio Belgia. Vandenbempt menilai Garcia terlalu kaku berpegang pada prinsip, tanpa mempertimbangkan penilaian pemain sendiri.
Garcia, bagaimanapun, membela keputusannya. Sejak awal turnamen, ia menegaskan hanya pemain yang benar-benar bugar 100 persen yang boleh dimainkan. "Kami membutuhkan umpan panjang Courtois untuk Charles (De Ketelaere) dan Romelu (Lukaku). Kami tidak ingin cederanya semakin parah. Jadi saya tidak menyesali keputusan ini," jelas Garcia.
Kontrak Garcia, yang diangkat pada awal 2025 untuk menggantikan Domenico Tedesco, akan berakhir dalam waktu dekat. Federasi Sepak Bola Belgia (RBFA) dijadwalkan mengevaluasi kinerjanya akhir bulan ini. Meskipun Garcia berhasil membawa Belgia lolos ke perempat final—sesuai target awal—performa tim yang inkonsisten dan keputusan taktisnya yang kontroversial menjadi catatan negatif.
Belgia memang tampil tidak meyakinkan sepanjang Piala Dunia. Mereka hanya mampu bermain imbang melawan Mesir dan Iran sebelum mengalahkan Selandia Baru untuk memuncaki grup. Di babak 32 besar, mereka nyaris tersingkir oleh Senegal setelah tertinggal 2-0, namun berhasil bangkit—meski kontribusi keputusan Garcia dalam kebangkitan itu masih diperdebatkan. Di sisi lain, Garcia juga menorehkan prestasi gemilang, seperti kemenangan telak 4-1 atas tuan rumah Amerika Serikat dan keberhasilan memunculkan pemain muda seperti Nathan Ngoy dan Nicolas Raskin.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisruh ini mengingatkan pada pentingnya manajemen pemain bintang di turnamen besar. Keputusan pelatih yang mengutamakan kebugaran fisik seringkali berbenturan dengan insting pemain kelas dunia. Pertanyaan besarnya: apakah RBFA akan mempertahankan Garcia untuk membangun tim menuju Piala Eropa 2028, atau justru mencari sosok baru yang lebih fleksibel?



