Como Bersih-bersih Skuad: Tiga Pemain Incaran Klub Eropa
Baca dalam 60 detik
- Como mulai melepas pemain yang tak masuk rencana setelah belanja besar-besaran.
- Southampton mengincar Ivan Azon dengan banderol €9-10 juta, sementara Club Brugge dan Freiburg berebut Yannik Engelhardt.
- Langkah ini jadi ujian strategi Como yang musim depan akan tampil di Liga Champions.

Setelah musim yang gemilang dengan finis keempat Serie A dan lolos ke semifinal Coppa Italia, Como kini memasuki fase baru: memangkas skuad yang membengkak akibat belanja pemain agresif. Klub asuhan Cesc Fabregas itu mulai melepas sejumlah pemain yang tak masuk rencana, dengan tiga nama—Felipe Jack, Ivan Azon, dan Yannik Engelhardt—dikabarkan akan segera hengkang.
Langkah ini tak terhindarkan. Como telah mendatangkan tiga pemain anyar: Luis Milla dari Getafe, Kaiki dari Cruzeiro, dan Andres Cuenca dari Barcelona. Dengan kuota skuad yang terbatas, terutama untuk kompetisi Eropa, Fabregas harus memilih pemain yang benar-benar siap bersaing di level tertinggi. Keputusan ini juga menjadi sinyal bahwa Como tak main-main dalam membangun tim yang kompetitif di Liga Champions musim depan.
Dari tiga nama tersebut, kasus Ivan Azon paling menarik. Striker Spanyol berusia 23 tahun itu dibeli Como dari Real Zaragoza seharga €2 juta pada Februari 2025, namun tak pernah sekalipun tampil untuk klub. Ia malah dipinjamkan ke Ipswich Town musim lalu. Kini, Southampton siap membayar hingga €10 juta—keuntungan bersih €8 juta dalam waktu kurang dari setahun. Ini menunjukkan bahwa Como tak hanya jeli di bursa transfer, tetapi juga pandai memutar aset pemain.
Sementara itu, perebutan Yannik Engelhardt melibatkan dua klub Eropa: Club Brugge dan SC Freiburg. Gelandang Jerman berusia 24 tahun itu juga tak pernah bermain untuk Como setelah dibeli dari Fortuna Dusseldorf seharga €8 juta pada 2024. Musim lalu ia dipinjamkan ke Borussia Monchengladbach. Kini, Club Brugge unggul dengan tawaran €10 juta, namun keputusan akhir ada di tangan pemain. Persaingan ini menunjukkan bahwa pemain yang tak masuk rencana tetap memiliki nilai jual tinggi di pasar Eropa.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, langkah Como ini bisa menjadi pelajaran berharga. Klub-klub Liga 1 yang kerap boros belanja pemain asing tanpa perencanaan matang bisa meniru strategi Como: membeli pemain muda potensial, meminjamkannya untuk mengasah kemampuan, lalu menjualnya dengan harga lebih tinggi. Model bisnis seperti ini tidak hanya menguntungkan secara finansial, tetapi juga menjaga keseimbangan skuad.
Pertanyaan besarnya: apakah Como mampu mempertahankan performa impresif mereka di Serie A sambil merombak skuad? Dengan jadwal padat Liga Champions dan persaingan domestik yang ketat, Fabregas harus pintar mengatur rotasi. Jika sukses, Como bisa menjadi contoh klub yang bertransformasi dari tim medioker menjadi kekuatan baru di Eropa. Jika gagal, musim depan bisa menjadi mimpi buruk bagi para pendukung setianya.



