Norway Tak Lagi Gentar Hadapi Inggris di Perempat Final Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Norwegia, Stale Solbakken, menyatakan timnya sudah tidak lagi merasa gentar saat berhadapan dengan tim besar seperti Inggris di perempat final Piala Dunia.
- Setelah mengalahkan Brasil di babak 16 besar, kepercayaan diri Norwegia meningkat drastis, meski mereka sadar harus tampil sempurna untuk melangkah lebih jauh.
- Cuaca ekstrem di Miami menjadi tantangan tambahan, dengan suhu mencapai 44 derajat Celsius, memaksa Norwegia mengatur ulang strategi latihan demi menjaga kebugaran pemain.

Norwegia memasuki babak perempat final Piala Dunia 2026 dengan kepercayaan diri yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pelatih Stale Solbakken menegaskan bahwa timnya kini tidak lagi gentar menghadapi lawan sekelas Inggris, yang akan mereka hadapi di Miami pada Sabtu (11/7) waktu setempat. Pertandingan ini menjadi laga terbesar dalam sejarah sepak bola Norwegia, mengingat ini adalah pertama kalinya mereka mencapai fase delapan besar turnamen paling bergengsi di dunia.
Solbakken mengakui bahwa awal turnamen timnya tidak mulus. Pada laga pembuka melawan Irak, para pemain Norwegia tampil gugup dan kesulitan membangun serangan selama 20 menit pertama. "Kami tidak mampu merangkai dua operan berturut-turut," ujarnya dalam konferensi pers di Miami, Jumat (10/7). Menurutnya, kegugupan itu wajar karena mayoritas pemain belum pernah merasakan atmosfer Piala Dunia sebelumnyaโterakhir kali Norwegia tampil di turnamen besar adalah 26 tahun lalu.
Namun, kemenangan meyakinkan 4-1 atas Irak menjadi titik balik. Norwegia kemudian menunjukkan peningkatan signifikan hingga mampu menyingkirkan Brasil di babak 16 besar. Kemenangan atas raksasa Amerika Selatan itu, menurut Solbakken, menjadi bukti bahwa timnya mampu bersaing dengan yang terbaik. "Para pemain, jauh di lubuk hati, merasa bisa mengalahkan Inggris. Tapi tentu kami harus tampil maksimal. Jika tidak, Inggris akan lolos," kata Solbakken.
Inggris sendiri datang dengan kekuatan penuh, diperkuat bintang-bintang seperti Jude Bellingham dan Harry Kane. Solbakken mengakui lini serang Inggris sangat berbahaya, dengan kemampuan mencetak gol dari berbagai posisi. Ia menekankan pentingnya duel di lini tengah dan pertahanan yang disiplin untuk meredam ancaman tersebut. "Kami harus berani bermain sesuai kekuatan sendiri, tidak terpengaruh lingkungan sekitar, dan fokus penuh di lapangan," tegasnya.
Cuaca ekstrem menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Miami sedang dilanda gelombang panas dengan indeks panas mencapai 111 derajat Fahrenheit (44 derajat Celsius). Otoritas setempat bahkan mengeluarkan peringatan panas. Solbakken mengungkapkan bahwa timnya telah menyesuaikan latihan dengan kondisi tersebut. "Kami berlatih sangat ringan, tidak banyak kerja keras. Hanya sesi taktis dengan tempo rendah dan durasi pendek. Semua demi menjaga kesegaran pemain besok," jelasnya.
Mentalitas skuad Norwegia juga mendapat pujian dari sang pelatih. Menurut Solbakken, para pemain mampu menjaga ketenangan meskipun tekanan semakin besar. "Mereka butuh satu hari ekstra setelah laga melawan Brasil untuk kembali ke mood yang tepat. Tapi kami punya lima hari istirahat, jadi itu tidak masalah. Tiga hari persiapan yang baik sudah cukup," ujarnya.
Bagi Indonesia, perjalanan Norwegia ini bisa menjadi inspirasi. Timnas Indonesia yang tengah berjuang meningkatkan prestasi di kancah internasional dapat belajar dari bagaimana Norwegia mengatasi kegugupan di turnamen besar dan membangun kepercayaan diri secara bertahap. Keberhasilan Norwegia menunjukkan bahwa mentalitas dan persiapan yang matang mampu mengimbangi ketimpangan pengalaman.
Ketika ditanya apa yang akan menjadi faktor utama jika Norwegia berhasil menyingkirkan Inggris, Solbakken hanya tersenyum dan menjawab, "Saya akan menjawabnya jika kami berhasil mengalahkan mereka." Pertandingan perempat final antara Norwegia dan Inggris akan menjadi ujian sejati bagi ambisi tim Skandinavia ini. Mampukah mereka melanjutkan kejutan atau Inggris yang akan melaju ke semifinal?



