Wasit Italia Kembali Pimpin Final Piala Dunia 2026? Clattenburg: Itu Kontroversial
Baca dalam 60 detik
- Maurizio Mariani, wasit asal Italia, menjadi kandidat kuat memimpin final Piala Dunia 2026 meski Italia gagal lolos ke turnamen.
- Mark Clattenburg menilai dominasi Italia di posisi wasit elite FIFA bisa memicu ketidakpuasan dari konfederasi lain.
- Jika terpilih, Mariani akan menjadi wasit Italia keempat yang memimpin final Piala Dunia sejak 1978, memicu perdebatan tentang keberagaman.

Wasit asal Italia, Maurizio Mariani, disebut-sebut sebagai favorit untuk memimpin partai puncak Piala Dunia 2026. Namun, mantan wasit Premier League Mark Clattenburg menilai keputusan tersebut berpotensi memicu kontroversi besar di kalangan penggemar sepak bola global.
Mariani, 44 tahun, telah memimpin sejumlah laga bergengsi, termasuk final Liga Conference 2025-26 antara Crystal Palace dan Rayo Vallecano, serta final Piala Dunia U-20 2025 yang mempertemukan Maroko dan Argentina. Pada Piala Dunia edisi kali ini, ia bertugas dalam laga Arab Saudi versus Uruguay, kemenangan Kolombia atas DR Kongo, dan kemenangan Brasil atas Jepang di babak 32 besar.
Clattenburg, yang memimpin final Euro 2016, mengungkapkan dalam podcast Whistleblowers Daily Mail bahwa ia mendengar kabar wasit Italia akan kembali dipercaya. Ia menunjuk pada dominasi figur Italia di pucuk pimpinan perwasitan FIFA—Pierluigi Collina sebagai ketua komite wasit FIFA dan Roberto Rosetti di posisi serupa UEFA—sebagai bukti pengaruh kuat Negeri Pizza di dunia sepak bola.
“FIFA harus menjaga keseimbangan di antara enam konfederasi. Pada 2010 wasit Inggris, 2014 Italia, 2018 Argentina, 2022 Polandia. Jika Italia kembali, apa artinya tidak ada wasit lain yang layak?” ujar Clattenburg. Ia menambahkan, “Ini akan mengecewakan banyak orang jika wasit Italia kembali memimpin final.”
Fakta bahwa Italia gagal lolos ke Piala Dunia 2026 justru menjadi keuntungan bagi Mariani. Regulasi FIFA melarang wasit dari negara yang masih berkompetisi di turnamen untuk memimpin final, sehingga Italia yang sudah tersingkir menjadi pilihan logis. Namun, Clattenburg mengingatkan bahwa ada banyak wasit berbakat lain yang layak mendapat kesempatan.
Dominasi Italia di panggung perwasitan global bukan tanpa kritik. Meskipun wasit Italia sering dianggap sebagai yang terbaik, Clattenburg menekankan pentingnya rotasi dan keterwakilan dari berbagai konfederasi. “Saya tidak mengatakan wasit Italia tidak pantas, tapi ada banyak wasit berbakat yang bisa memimpin laga itu,” tegasnya.
Bagi Indonesia, isu ini relevan mengingat perkembangan sepak bola nasional yang mulai melahirkan wasit berlisensi FIFA. Keberagaman dalam penunjukan wasit di level tertinggi bisa menjadi inspirasi sekaligus pelajaran: bahwa kualitas dan integritas harus diimbangi dengan kesempatan yang merata. Jika FIFA terus mengistimewakan satu negara, hal itu bisa menimbulkan persepsi ketidakadilan yang merusak kredibilitas turnamen.
Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah FIFA mempertahankan tradisi Italia atau justru memilih wasit dari konfederasi lain untuk menjaga harmoni global? Keputusan akhir akan diumumkan FIFA beberapa hari sebelum final, dan dunia sepak bola akan menyaksikan apakah suara-suara kritis seperti Clattenburg didengar atau justru diabaikan.



