Mimpi Cape Verde di Piala Dunia: Mengapa Sulit Ditiru Singapura?
Baca dalam 60 detik
- Cape Verde melaju ke babak gugur Piala Dunia 2026 dengan populasi hanya 500.000, memicu perdebatan tentang potensi Singapura.
- Para ahli menilai perbandingan tidak adil karena Cape Verde mengandalkan diaspora besar, sementara Singapura terbatas pada pemain naturalisasi.
- Model pengembangan sepak bola kedua negara sangat berbeda: Cape Verde memanfaatkan pemain diaspora, Singapura fokus pada pembinaan lokal.

Keberhasilan Cape Verde menembus babak gugur Piala Dunia 2026 dengan populasi hanya setengah juta jiwa memicu pertanyaan di kalangan penggemar sepak bola Singapura: mengapa negara kota dengan jumlah penduduk serupa tidak bisa mengulangi prestasi serupa? Namun, para pengamat sepak bola menegaskan bahwa perbandingan tersebut tidaklah tepat mengingat perbedaan fundamental antara kedua negara.
Konsultan sepak bola Khairul Asyraf menilai bahwa jumlah penduduk bukanlah indikator langsung kesuksesan di level tertinggi. "Perbandingannya bagaikan siang dan malam. Tidak adil untuk menyamakan keduanya," ujarnya. Fakta menunjukkan bahwa negara berpenduduk besar seperti India dan Pakistan belum pernah lolos ke Piala Dunia, sementara China hanya sekali tampil pada 2002. Sebaliknya, Uruguay dengan populasi 3,5 juta justru dua kali menjadi juara dunia.
Cape Verde, yang merdeka dari Portugal pada 1975, mengandalkan diaspora besar yang diperkirakan melebihi jumlah penduduk di dalam negeri. Lebih dari setengah skuad Piala Dunia 2026 mereka berasal dari komunitas Cape Verde di Belanda, Portugal, dan Prancis. Bek tengah Roberto Lopes, misalnya, direkrut melalui LinkedInโia lahir di Irlandia dari ayah Cape Verde dan bermain untuk Shamrock Rovers. Model ini sangat berbeda dengan Singapura yang tidak memiliki diaspora sepak bola yang signifikan.
Perbedaan lainnya terletak pada sikap terhadap sepak bola sebagai profesi. Jurnalis Cape Verde Victor Hugo Fortes menggambarkan bahwa di negaranya, sepak bola sering menjadi jalan keluar dari kemiskinan. "Kami adalah negara miskin, tetapi kami memiliki orang-orang yang percaya dan bekerja keras," katanya. Pemain Sidny Lopes Cabral bahkan pernah berjanji pada ibunya akan menjadi pemain profesional agar ia tidak perlu bekerja lagi. Sebaliknya, mantan pemain profesional Singapura Emmeric Ong mengakui bahwa lingkungan yang aman dan nyaman membuat pemain muda enggan mengambil risiko. "Terkadang untuk mengeluarkan kemampuan terbaik, Anda harus keluar dari zona nyaman," ujarnya.
Dari segi kebijakan, Cape Verde mengizinkan kewarganegaraan ganda, memudahkan perekrutan pemain diaspora. Singapura, meskipun telah menaturalisasi beberapa pemain, belum pernah memiliki pemain dengan garis keturunan langsung yang membela tim nasional. Situasi ini mungkin berubah jika bek Cardiff City, Perry Ng, yang telah menjadi penduduk tetap Singapura pada Maret 2025, berhasil mendapatkan kewarganegaraan melalui Skema Bakat Olahraga Asing. "Keinginan saya (untuk bermain untuk Singapura) lebih kuat dari sebelumnya," kata Ng.
Pakar olahraga dari Deloitte, James Walton, menekankan bahwa model pengembangan Singapura berbeda total. "Cape Verde tidak melatih pemainnya di dalam negeri; mereka tumbuh di sistem Prancis atau Portugal. Singapura justru mengidentifikasi bakat lokal dan mengembangkannya di dalam negeri atau mengirim mereka belajar ke luar negeri," jelasnya. Pendiri The Monitor Singapore, Jose Raymond, menambahkan bahwa setiap negara harus memiliki tujuan akhir yang jelas. "Kadang apa yang berhasil di tempat lain belum tentu cocok di sini," katanya.
Ke depan, Singapura perlu mempertanyakan apakah model pembinaan lokal yang selama ini dijalankan sudah cukup ambisius. Tanpa diaspora yang kuat dan dengan proses naturalisasi yang panjang, jalan menuju Piala Dunia mungkin masih panjang. Namun, seperti kata Raymond, "Harus ada tujuan akhir." Pertanyaannya, apakah Singapura berani menetapkan target setinggi Cape Verde?



