Gasperini: Sistem Sepak Bola Italia Butuh Revolusi, Bukan Sekadar Ganti Pelatih
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Roma, Gian Piero Gasperini, menyerukan reformasi menyeluruh sistem sepak bola Italia, terutama di sektor pembinaan usia muda yang dinilai gagal menghasilkan pemain berkualitas.
- Menurut Gasperini, kuota pemain lokal di Serie A dan daftar UEFA sering tidak terpenuhi karena masalah kultural, bukan sekadar regulasi.
- Ia menilai kehadiran Paolo Maldini sebagai direktur teknis FIGC tidak akan cukup tanpa perubahan fundamental di seluruh ekosistem sepak bola Italia.

Pelatih AS Roma, Gian Piero Gasperini, melontarkan kritik tajam terhadap kondisi sepak bola Italia yang dinilai membutuhkan perombakan besar-besaran, dimulai dari sistem pembinaan usia muda yang mandul. Dalam wawancara dengan Radio Rai 1 pada Senin (14/7), Gasperini menegaskan bahwa kegagalan melahirkan pemain berkualitas bukan terletak pada anak-anak, melainkan pada struktur yang dijalankan oleh orang dewasa.
Menurut Gasperini, masalah ini bersifat sistemik dan tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengangkat figur legendaris seperti Paolo Maldini sebagai direktur teknis FIGC. โAkan ada kebangkitan, tetapi bukan karena satu atau dua individu, juga bukan karena pelatih baru. Ini harus menjadi sebuah sistem yang selama ini jelas tidak berfungsi,โ ujarnya. Ia menambahkan bahwa banyak anak berbakat di akademi, namun jika tidak ada yang menembus tim utama, maka yang salah adalah sistem pembinaannya.
Gasperini juga menyoroti aturan kuota pemain lokal di Serie A dan daftar UEFA, seperti aturan 4+4, yang nyaris tidak pernah dipenuhi klub-klub Italia, termasuk Roma. โIni soal budaya. Bahkan pemain dari akademi kami sendiri hampir tidak pernah menjadi bagian dari tim,โ keluhnya. Ia mendesak agar isu ini menjadi titik perhatian utama, meskipun mayoritas klub dihuni pemain asing.
Di luar kritik sistemik, Gasperini juga membahas bursa transfer yang berjalan lambat akibat Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat. Ia memperkirakan pergerakan nyata baru akan dimulai pekan ini. โBanyak tim ingin memperkuat diri di Juli, tapi kita lihat saja nanti,โ katanya. Ia menegaskan bahwa Roma harus fokus menstabilkan posisi di Liga Champions sebelum bermimpi meraih Scudetto.
Mengenai kondisi keuangan klub, Gasperini mengakui bahwa Roma harus menyeimbangkan anggaran, dan masuknya ke Liga Champions saja belum cukup. Ia juga memuji performa Manu Kone yang tampil gemilang di Piala Dunia, meski sempat cedera di paruh kedua musim lalu. Sementara itu, ia mengisyaratkan bahwa perpanjangan kontrak Paulo Dybala mungkin akan segera terwujud.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kritik Gasperini relevan mengingat tantangan serupa di Liga Indonesia: pembinaan usia muda yang belum optimal, ketergantungan pada pemain asing, dan minimnya pemain lokal yang tembus ke tim nasional. Reformasi sistemik yang diserukan Gasperini bisa menjadi pelajaran bagi PSSI dan klub-klub Tanah Air untuk mengevaluasi ekosistem sepak bola nasional.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: mampukah FIGC di bawah arahan Maldini melakukan reformasi struktural, atau hanya akan menjadi perubahan simbolis belaka? Gasperini sendiri optimistis Italia bisa kembali bersaing, asalkan ada kemauan untuk mengubah sistem secara fundamental.



