Marotta: Inter Target Scudetto Beruntun, Wajib Bangkit di Liga Champions
Baca dalam 60 detik
- Presiden Inter Beppe Marotta menyebut mempertahankan Scudetto sebagai misi bersejarah, mengingat tak ada tim yang mampu juara Serie A dua kali beruntun sejak 2020.
- Kegagalan di Liga Champions musim lalu menjadi cambuk; Inter harus bersaing dengan raksasa finansial Eropa tanpa bisa mengimbangi belanja besar.
- Dengan keterbatasan dana, Inter mengandalkan proyek berkelanjutan, pembinaan akademi, dan investasi infrastruktur untuk tetap kompetitif di empat ajang.

Inter Milan memulai musim baru dengan status juara bertahan Serie A dan Coppa Italia, namun Presiden Beppe Marotta menegaskan bahwa target utama bukan hanya mempertahankan Scudetto, melainkan juga memperbaiki performa di Liga Champions. Dalam sesi konferensi pers di Appiano Gentile, Marotta mengingatkan bahwa sejak 2020, belum ada satu pun klub yang mampu meraih gelar liga dua musim beruntun—sebuah capaian yang ia sebut sebagai prestasi historis.
Marotta mengakui bahwa Inter menghadapi persaingan berat, terutama dari klub-klub Eropa dengan kekuatan finansial jauh di atas mereka. “Kami sadar akan kesulitan dan harus bersaing dengan raksasa Eropa dalam hal kemampuan investasi,” ujarnya. Namun, ia optimistis etos kerja dan proyek yang konsisten bisa menutup kesenjangan tersebut. “Bukan jaminan bahwa yang paling banyak mengeluarkan uang akan menang. Kami bisa mengganti uang dengan proyek kemenangan berkat konsistensi, kualitas pemain, dan banyak faktor lain.”
Perubahan besar terjadi di kursi pelatih, dari Simone Inzaghi ke Cristian Chivu, yang justru membawa kesuksesan tak terduga di dalam negeri. Namun, kegagalan di Eropa menjadi catatan tersendiri. “Kami harus lebih baik di Liga Champions,” tegas Marotta. “Musim lalu kami tersingkir oleh Bodo/Glimt, tapi itulah indahnya olahraga ini.” Pernyataan itu sekaligus menjadi pengingat bahwa Inter belum mampu bersaing di panggung tertinggi Eropa dalam beberapa tahun terakhir.
Di bursa transfer, Inter gagal dalam beberapa perburuan pemain, termasuk kehilangan Marco Palestra ke Chelsea. Marotta tak menampik keterbatasan finansial, namun menekankan pendekatan berkelanjutan sebagai kunci. “Kami keluar dari Settlement Agreement dengan UEFA, dan pemilik Oaktree telah berinvestasi serta menerima kebutuhan kami untuk meningkatkan infrastruktur. Keberlanjutan juga berarti memanfaatkan akademi muda. Kami memiliki empat pemain yang bisa digunakan di Eropa, sementara klub lain kesulitan memenuhi kriteria itu.”
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, pernyataan Marotta relevan dengan tantangan klub-klub Asia yang kerap menghadapi ketimpangan finansial. Model Inter yang mengedepankan pembinaan pemain muda dan efisiensi bisa menjadi pelajaran bagi klub-klub Liga 1 yang mulai berbenah. “Kami kekurangan sesuatu yang besar akhir-akhir ini, tapi kami akan berusaha meraihnya, sadar akan kemampuan kami, dan terus meninggikan standar,” tutup Marotta. Pertanyaan besarnya: mampukah Inter mempertahankan dominasi domestik dan sekaligus bersinar kembali di Eropa?



