Dari Semifinalis Piala Dunia ke Kekuatan Global: Bagaimana Maroko Membangun Hegemoni Sepak Bola
Baca dalam 60 detik
- Maroko, yang kini menempati peringkat keenam FIFA, tengah bertransformasi menjadi raksasa sepak bola berkat investasi besar-besaran dari Raja Mohammed VI.
- Keberhasilan tim nasional, yang sebagian besar pemainnya lahir di diaspora, didorong oleh sistem pemantauan bakat global dan fasilitas kelas dunia.
- Dengan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2030, Maroko berpotensi menggeser peta kekuatan sepak bola Afrika dan global, meski tantangan domestik masih ada.

Maroko tidak lagi sekadar tim kejutan di Piala Dunia. Dengan peringkat keenam FIFA, skuad termuda ketiga di turnamen saat ini, dan status sebagai tuan rumah bersama Piala Dunia 2030, Negeri Singa Atlas sedang membangun fondasi untuk menjadi kekuatan abadi dalam sepak bola global. Namun, di balik kilau prestasi, terdapat strategi jangka panjang yang melibatkan investasi infrastruktur, perburuan bakat diaspora, dan tekanan untuk menyeimbangkan ambisi dengan pembangunan sosial.
Kisah kebangkitan Maroko tidak lepas dari dukungan penuh Raja Mohammed VI. Sejak 2022, ketika Maroko menjadi negara Afrika pertama yang menembus semifinal Piala Dunia, kerajaan telah mengucurkan dana besar untuk pusat pelatihan modern, akademi nasional, pusat regional, renovasi stadion, dan ribuan lapangan amatir. Neil Ward, mantan direktur operasi teknis Federasi Sepak Bola Kerajaan Maroko (RMFF), menyebut fasilitas itu setara dengan standar Eropa. "Ketika Anda melihat fasilitas sekelas ini, Anda tahu mereka serius dan ingin sukses," ujarnya.
Investasi ini bukannya tanpa kritik. Kelompok pemuda sempat memprotes alokasi dana yang dianggap lebih baik digunakan untuk pendidikan, kesehatan, dan perumahan. Menanggapi hal itu, istana kerajaan berjanji mengalokasikan setara 11,2 miliar pound sterling dalam anggaran 2026 untuk sektor kesehatan dan pendidikan—naik 16 persen dari tahun sebelumnya. Langkah ini menunjukkan bahwa ambisi sepak bola Maroko tidak mengabaikan kebutuhan dasar rakyat.
Kunci lain dari kesuksesan Maroko adalah kemampuannya memanfaatkan diaspora. Dengan lebih dari lima juta warga Maroko di luar negeri, federasi menempatkan pemantau bakat tetap di Prancis, Belanda, Spanyol, Jerman, Norwegia, Swedia, dan Denmark. Hasilnya, 19 dari 26 pemain skuad Piala Dunia saat ini lahir di luar Maroko. Simon Jennings, mantan pengembang pemain muda Maroko, menekankan bahwa para pemain diaspora "dirangkul sebagai orang Maroko" dan memiliki ikatan kuat dengan budaya asal mereka. "Mereka benar-benar ingin menjadi orang Maroko. Itu adalah passion dan kebanggaan," katanya.
Strategi ini juga mencakup perburuan bakat sejak dini. Federasi bahkan telah mendekati Lamine Yamal, bintang muda Spanyol yang memiliki ayah Maroko, saat usianya baru 12-13 tahun. Meski Yamal akhirnya memilih Spanyol, pendekatan itu menunjukkan keseriusan Maroko. "Tidak ada batu yang tidak dijungkirbalikkan," kata Ward.
Namun, transformasi ini belum selesai. Chris van Puyvelde, mantan direktur teknis RMFF, mengungkapkan target ambisius: pada Piala Dunia 2030, komposisi pemain harus seimbang antara yang lahir di dalam dan luar negeri. Ia juga memperingatkan bahwa "organisasi total di dalam negeri perlu lebih baik." Tekanan untuk meraih hasil instan kadang mengancam pengembangan bakat teknis jangka panjang. Pelatih tim utama Mohamed Ouahbi, yang sebelumnya menangani tim U-20, pernah nyaris dipecat setelah gagal lolos ke Piala Afrika U-20 2023. Berkat dukungan federasi dan kesabaran, ia justru membawa tim U-20 juara Piala Dunia U-20 2025.
Bagi Indonesia, kisah Maroko menawarkan pelajaran berharga. Negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia ini memiliki potensi diaspora yang besar, namun belum dimanfaatkan secara sistematis. Investasi infrastruktur sepak bola Indonesia masih timpang, dan pembinaan usia muda kerap terhambat birokrasi. Maroko membuktikan bahwa dengan kemauan politik, pendanaan terarah, dan sistem pemantauan bakat global, sebuah negara bisa melompat ke papan atas sepak bola dunia dalam satu dekade.
Menjelang Piala Dunia 2030 yang akan digelar bersama Portugal dan Spanyol, Maroko tidak hanya membangun stadion, tetapi juga struktur dari bawah ke atas. Van Puyvelde mengibaratkannya seperti oksigen: "Begitu Anda mendapat sedikit oksigen, seperti yang terjadi di Qatar 2022, oksigen itu menyebar sangat cepat." Pertanyaannya, akankah Indonesia mampu meniru resep Maroko—atau justru terus tertinggal karena gagal memanfaatkan momentum serupa?



