Senegal Pecat Pape Thiaw Usai Tersingkir di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Pape Thiaw dipecat Federasi Sepak Bola Senegal setelah tim nasional tersingkir di babak 32 besar Piala Dunia 2026.
- Keputusan ini memperpanjang krisis di tubuh skuad 'Singa Teranga', yang sebelumnya kehilangan gelar Piala Afrika karena insiden walk-out.
- Gelandang Pape Gueye mengumumkan mundur sementara dari tim nasional selama staf pelatih belum diganti.

Federasi Sepak Bola Senegal (FSF) resmi memecat pelatih kepala Pape Thiaw pada Selasa (30/6) waktu setempat, menyusul kegagalan tim nasional melaju ke babak 16 besar Piala Dunia 2026. Keputusan ini diumumkan hanya beberapa jam setelah Senegal tersingkir secara dramatis dari turnamen yang berlangsung di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada.
Dalam pernyataan resmi, FSF menyebut pemecatan Thiaw dilakukan demi kepentingan terbaik sepak bola Senegal setelah evaluasi menyeluruh terhadap hasil dan prospek tim. Thiaw, yang mulai menukangi Senegal pada Desember 2024, hanya mampu membawa tim meraih satu kemenangan di fase grup sebelum akhirnya kandas di tangan Belgia pada babak 32 besar.
Senegal memulai turnamen dengan kekalahan beruntun dari Prancis dan Norwegia. Namun, mereka bangkit dengan menghancurkan Irak 5-0 untuk lolos sebagai salah satu peringkat ketiga terbaik. Di babak knockout, Senegal sempat unggul 2-0 atas Belgia, tetapi kebobolan dua gol di menit akhir dan akhirnya kalah 3-2 setelah gol penalti Youri Tielemans di perpanjangan waktu.
Kekalahan ini memperparah situasi yang sudah genting di tubuh skuad 'Singa Teranga'. Sebelumnya, Senegal terlibat kontroversi besar di final Piala Afrika 2025 melawan Maroko. Saat itu, Thiaw memerintahkan pemainnya meninggalkan lapangan setelah wasit memberikan penalti kontroversial untuk Maroko di masa injury time. Setelah jeda 17 menit, pemain Senegal kembali dan akhirnya menang berkat gol Pape Gueye. Namun, Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) kemudian membatalkan hasil pertandingan dan menganugerahkan gelar juara kepada Maroko, dengan alasan Senegal melakukan walk-off yang melanggar regulasi.
Keputusan CAF itu memicu kemarahan publik Senegal. Federasi setempat mengajukan banding ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) dan berharap bisa mendapatkan kembali gelar tersebut. Namun, hingga kini proses hukum masih berlangsung. Kegagalan di Piala Dunia 2026 menambah daftar panjang kekecewaan bagi penggemar sepak bola Senegal.
"Setelah evaluasi menyeluruh terhadap hasil olahraga dan prospek tim nasional, kami memutuskan untuk memberhentikan Pape Thiaw demi kepentingan terbaik sepak bola Senegal," demikian pernyataan resmi FSF.
Bagi Indonesia, dinamika sepak bola Afrika seperti ini bisa menjadi pelajaran berharga. Sepak bola Indonesia juga kerap dihadapkan pada pergantian pelatih yang mendadak dan kontroversi federasi. Kasus Senegal menunjukkan betapa pentingnya stabilitas manajemen dan kepemimpinan yang kuat, terutama saat tim menghadapi tekanan besar di turnamen multi-nasional. Dengan Piala Dunia 2026 yang baru saja bergulir, kegagalan Senegal menjadi pengingat bahwa prestasi di level tertinggi membutuhkan lebih dari sekadar bakat pemain.
Ke depan, FSF harus segera mencari pengganti Thiaw yang mampu menyatukan kembali skuad yang terpecah. Sementara itu, masa depan Pape Gueye di tim nasional masih belum jelas. Pertanyaan besarnya: mampukah Senegal bangkit dari keterpurukan ini, atau justru akan semakin terperosok ke dalam 'neraka sepak bola' yang mereka alami saat ini?



