Pasca-Tumbangkan Australia dan Argentina, Pelatih Mesir Dapat Perpanjangan Kontrak Hingga 2030
Baca dalam 60 detik
- PSSI Mesir resmi memperpanjang kontrak Hossam Hassan hingga 2030 setelah timnas mencapai 16 besar Piala Dunia 2026.
- Hassan yang sebelumnya bekerja tanpa kontrak sejak Februari 2026 berhasil membawa Mesir meraih kemenangan pertama di Piala Dunia.
- Perpanjangan kontrak ini mengamankan proyek jangka panjang Mesir menjelang Piala Dunia 2030 yang kemungkinan digelar di Afrika.

Asosiasi Sepak Bola Mesir (EFA) resmi memperpanjang kontrak pelatih kepala tim nasional, Hossam Hassan, hingga 2030. Keputusan ini diumumkan sehari setelah Mesir tersingkir dari Piala Dunia 2026 oleh Argentina, juara bertahan, dengan skor 3-2 di babak 16 besar. Langkah ini menunjukkan kepercayaan penuh EFA terhadap Hassan yang dinilai berhasil membawa perubahan signifikan dalam performa tim.
Hassan, 59 tahun, ditunjuk sebagai pelatih pada Februari 2024. Dalam waktu singkat, ia membawa Mesir ke semifinal Piala Afrika 2025. Namun, pencapaian paling gemilang terjadi di Piala Dunia 2026. Di bawah asuhannya, Mesir untuk pertama kalinya meraih kemenangan di ajang tersebut, mengalahkan Selandia Baru 3-1 di fase grup. Mereka kemudian melaju ke babak gugur setelah menyingkirkan Australia melalui adu penalti di babak 32 besar, sebelum akhirnya takluk dari Argentina.
Yang menarik, Hassan sebelumnya mengaku telah menangani tim tanpa kontrak sejak Februari 2026. Situasi ini menimbulkan ketidakpastian, namun EFA akhirnya memutuskan untuk mengikatnya dengan kontrak jangka panjang. Presiden EFA, Hany Abo Rida, menyatakan bahwa dewan asosiasi menyetujui perpanjangan kontrak untuk Hassan dan direktur tim, Ibrahim Hassan.
Keputusan ini memiliki implikasi menarik bagi sepak bola Afrika. Mesir, yang merupakan salah satu kekuatan sepak bola benua itu, kini memiliki proyek jangka panjang yang stabil. Dengan kontrak hingga 2030, Hassan diharapkan dapat membangun tim yang kompetitif untuk Piala Dunia 2030, yang kemungkinan besar akan digelar di Afrika (Maroko, bersama Spanyol dan Portugal). Hal ini sejalan dengan ambisi Mesir untuk menjadi kekuatan global, bukan hanya regional.
Bagi Indonesia, prestasi Mesir ini bisa menjadi pelajaran. Timnas Indonesia yang tengah dalam proses pembangunan jangka panjang di bawah PSSI dapat melihat bagaimana stabilitas pelatih dan kepercayaan terhadap visi jangka panjang mampu membuahkan hasil. Mesir, yang sebelumnya kesulitan di Piala Dunia, kini mampu bersaing dengan tim-tim besar. Indonesia, yang juga memiliki basis penggemar besar, dapat mengambil inspirasi dari kesabaran EFA dalam membangun tim.
Ke depan, tantangan Hassan adalah mempertahankan performa dan mempersiapkan regenerasi pemain. Dengan Piala Afrika 2027 dan Piala Dunia 2030 di depan mata, tekanan akan semakin besar. Namun, dengan dukungan penuh federasi, Hassan memiliki modal kuat untuk membawa Mesir ke level berikutnya. Pertanyaan besarnya: akankah Mesir mampu melampaui capaian 16 besar dan menembus perempat final untuk pertama kalinya?



