Klopp Sepakat Jadi Pelatih Timnas Jerman? Negosiasi Masuki Tahap Kunci
Baca dalam 60 detik
- Asosiasi Sepak Bola Jerman (DFB) mengonfirmasi telah membahas kontrak pelatih kepala dengan Jurgen Klopp di New York, dengan kesepakatan awal pada poin-poin utama.
- Klopp, yang kini menjabat Kepala Sepak Bola Global Red Bull, menjadi kandidat utama setelah Julian Nagelsmann hengkang pasca tersingkirnya Jerman di babak 32 besar Piala Dunia 2026.
- Kesepakatan masih menunggu izin dari Red Bull dan persetujuan akhir dari dewan pengawas DFB, namun kedua pihak optimistis negosiasi berhasil.

Asosiasi Sepak Bola Jerman (DFB) mengumumkan telah menggelar pertemuan perdana dengan Jurgen Klopp di New York dan optimistis mampu mengikat pelatih asal Jerman itu untuk menukangi tim nasional. Dalam pernyataan resmi yang dirilis Sabtu, 11 Juli 2026, DFB menyebut diskusi berlangsung konstruktif dan kedua belah pihak telah mencapai pemahaman soal syarat-syarat utama kontrak.
Pertemuan antara Presiden DFB Bernd Neuendorf, Wakil Presiden Hans-Joachim Watzke, dan Klopp berlangsung sehari sebelumnya di New York, di mana Klopp tengah bertugas sebagai pundit untuk Magenta TV selama Piala Dunia 2026. Negosiasi akan dilanjutkan pekan depan, dengan target finalisasi yang melibatkan persetujuan dari Red Bull, tempat Klopp kini menjabat sebagai Global Head of Soccer.
Klopp menjadi kandidat utama menggantikan Julian Nagelsmann yang hengkang setelah Jerman secara mengejutkan tersingkir di babak 32 besar Piala Dunia 2026 oleh Paraguay. Kekalahan via adu penalti itu memperpanjang catatan buruk Jerman di tiga edisi Piala Dunia terakhir—tersingkir di fase grup pada 2018 dan 2022, serta hanya mampu menjadi juara pada 2014. Nagelsmann sebenarnya sempat menyatakan ingin bertahan hingga 2028, namun beberapa hari setelah tim pulang ke Jerman, kedua pihak sepakat berpisah.
Klopp, yang dianggap sebagai pilihan favorit publik Jerman, sebelumnya sempat menuai kritik karena secara terbuka mengisyaratkan bahwa masa jabatan Nagelsmann akan segera berakhir. Ia pun meminta maaf atas pernyataan tersebut. Meski demikian, reputasi Klopp sebagai salah satu pelatih klub tersukses Jerman—dengan gelar Bundesliga dan DFB-Pokal bersama Dortmund, serta trofi Liga Champions dan Premier League bersama Liverpool—membuatnya tetap menjadi figur yang diidamkan untuk membangkitkan kejayaan Die Mannschaft.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, perkembangan ini menarik karena menunjukkan bagaimana negara sepak bola besar seperti Jerman berupaya melakukan perubahan radikal setelah kegagalan beruntun. Jika Klopp resmi menangani Jerman, gaya permainan gegenpressing khasnya bisa menjadi inspirasi bagi tim-tim Asia, termasuk Indonesia, yang tengah membangun fondasi sepak bola modern. Selain itu, keberhasilan DFB merekrut Klopp dari Red Bull—perusahaan yang juga memiliki klub di berbagai negara—menunjukkan kompleksitas negosiasi kontrak di level tertinggi.
Ke depannya, publik menanti apakah DFB mampu menyelesaikan negosiasi dengan Red Bull dan mendapatkan persetujuan akhir dari dewan pengawas DFB GmbH & Co. KG. Jika terealisasi, Klopp akan menghadapi tugas berat: mengembalikan Jerman ke papan atas sepak bola dunia setelah tiga turnamen mengecewakan. Akankah ia menjadi penyelamat atau justru terbebani ekspektasi tinggi?



