Tuchel Kecam Kualitas Wasit Piala Dunia Usai Kemenangan Dramatis Inggris atas Meksiko
Baca dalam 60 detik
- Thomas Tuchel secara terbuka mengkritik standar perwasitan Piala Dunia setelah laga Inggris vs Meksiko yang diwarnai kartu merah dan dua penalti kontroversial.
- Keputusan wasit Alireza Faghani, termasuk penalti untuk Meksiko dan kartu merah Jarell Quansah, menuai perdebatan meski dianggap benar oleh sejumlah pengamat.
- Kontroversi ini kembali menyoroti tantangan konsistensi VAR di turnamen besar, yang juga relevan bagi perkembangan sepak bola Indonesia.

Pelatih Timnas Inggris, Thomas Tuchel, melontarkan kritik tajam terhadap kualitas perwasitan di Piala Dunia setelah timnya menang dramatis 3-2 atas Meksiko pada babak 16 besar di Stadion Azteca, Selasa (20/6) waktu setempat. Dalam laga yang penuh emosi, Inggris harus bermain dengan sepuluh pemain dan kebobolan penalti kontroversial.
"Wasit-wasit di Piala Dunia ini tidak cukup baik. Wasit utama, asisten wasit, semuanya tidak memenuhi standar. Itu intinya," ujar Tuchel kepada BBC Sport seusai pertandingan. Ia mempertanyakan keputusan wasit asal Iran, Alireza Faghani, yang menganulir keputusan awal dan memberikan penalti untuk Meksiko setelah meninjau tayangan ulang.
"Apakah ini kesalahan yang jelas dan nyata untuk penalti? Jelas tidak. Mereka membalikkan situasi di mana wasit bahkan tidak memberikan pelanggaran," tambahnya. Namun, mantan kiper Inggris Joe Hart justru menilai semua keputusan wasit sudah tepat. "Saya pikir wasit mengambil keputusan yang benar untuk ketiga momen penting: kartu merah dan dua penalti," kata Hart.
Kartu merah Quansah menjadi sorotan. Darren Cann, asisten wasit final Piala Dunia 2010, menegaskan bahwa keputusan tersebut sudah benar. "Quansah memang menyentuh bola lebih dulu, tapi itu tidak relevan dalam hukum permainan. Ia menerjang dengan kancing sepatu mengenai tulang kering lawan. Wasit tidak punya pilihan selain mengusirnya. 100% kartu merah," jelas Cann.
Penalti untuk Meksiko terjadi setelah Kane dianggap menyentuh kaki Brian Gutierrez. Faghani awalnya tidak memberikan pelanggaran, tetapi setelah meninjau monitor, ia berubah pikiran. Tuchel menilai insiden itu mirip dengan penalti yang didapat Inggris saat melawan Kroasia di fase grup, di mana Luka Modric dianggap melanggar. "Kane tidak sengaja menyentuh kaki pemain Meksiko. Ia tidak sadar ada pemain di belakangnya," ujar Tuchel.
Kontroversi perwasitan ini menjadi pengingat bahwa meskipun VAR hadir untuk meminimalkan kesalahan, interpretasi wasit tetap menjadi titik rawan. Di Indonesia, penggunaan VAR baru mulai diterapkan di Liga 1 musim ini, dan kasus seperti ini bisa menjadi pelajaran penting bagi wasit dan pengelola liga. Konsistensi dan transparansi dalam pengambilan keputusan menjadi kunci agar teknologi benar-benar membantu, bukan malah memicu perdebatan.
Pertanyaan besarnya, akankah FIFA mengevaluasi kinerja wasit setelah turnamen ini? Atau justru akan ada perubahan protokol VAR untuk mengurangi ambiguitas? Yang jelas, kritik Tuchel bukanlah yang pertama kali dilontarkan pelatih top di Piala Dunia ini, dan mungkin bukan yang terakhir.



