Piala Dunia 2026 Berakhir Pahit: Yordania Depak Jamal Sellami Usai Tiga Kekalahan
Baca dalam 60 detik
- Jamal Sellami dipecat dari kursi pelatih Yordania setelah timnas gagal meraih satu poin pun di Piala Dunia 2026.
- Meski membawa Yordania lolos ke putaran final untuk pertama kalinya, tiga kekalahan beruntun di Grup J memaksa Federasi mengambil keputusan tegas.
- Kepergian Sellami membuka babak baru bagi Yordania yang harus bersiap menghadapi Piala Asia 2027 tanpa nahkoda yang membawa mereka ke panggung dunia.

Federasi Sepak Bola Yordania (JFA) resmi memutuskan untuk tidak memperpanjang kerja sama dengan pelatih kepala Jamal Sellami, menyusul kegagalan timnas di Piala Dunia 2026. Keputusan itu diumumkan langsung oleh Presiden JFA, Pangeran Ali bin Al Hussein, pada Minggu (5/7) melalui unggahan di media sosial X.
Sellami, yang diangkat pada Juni 2024, mencatat sejarah sebagai arsitek di balik lolosnya Yordania ke Piala Dunia untuk pertama kalinya. Namun, debut di turnamen empat tahunan itu berakhir antiklimaks. Yordania harus menelan tiga kekalahan beruntun di Grup J—masing-masing dari Austria, Irak, dan Argentina—tanpa mampu mencetak satu gol pun. Kinerja buruk tersebut menjadi alasan utama pemutusan kontrak, meskipun sang pelatih baru saja dianugerahi kewarganegaraan Yordania atas jasanya.
Pangeran Ali memberikan penghormatan atas dedikasi Sellami dalam pernyataan resminya. "Perjalanan Anda bersama Al-Nashama benar-benar luar biasa, dan Anda akan selalu menjadi putra Yordania yang kami banggakan," tulisnya. Namun, nada apresiatif itu tak mampu menutupi kenyataan pahit: Yordania pulang lebih awal dari Amerika Serikat tanpa satu poin pun. Bagi pengamat sepak bola Asia, pemecatan ini mencerminkan tekanan besar yang dihadapi pelatih di negara yang baru pertama kali merasakan atmosfer Piala Dunia.
Keputusan JFA juga dipengaruhi oleh jadwal padat yang menanti. Yordania, yang menjadi finalis Piala Asia 2025, harus segera bersiap menghadapi Piala Asia 2027. Di Grup B, mereka akan berhadapan dengan Uzbekistan, Bahrain, dan Korea Utara—lawan-lawan yang tidak bisa dianggap remeh. Tanpa Sellami, JFA harus bergerak cepat mencari pengganti yang mampu mempertahankan momentum positif pasca-kualifikasi Piala Dunia.
Bagi Indonesia, dinamika di Yordania ini relevan. Kedua negara sama-sama berjuang untuk naik level di pentas Asia. Keberhasilan Yordania lolos ke Piala Dunia—meski diikuti kegagalan—menjadi bukti bahwa tim non-unggulan bisa menembus batas. Namun, pemecatan Sellami juga menjadi pengingat bahwa prestasi historis tidak selalu melindungi pelatih dari risiko kehilangan pekerjaan jika hasil di turnamen utama tidak memuaskan. Timnas Indonesia, yang tengah membangun fondasi menuju Piala Dunia 2030 atau 2034, dapat memetik pelajaran dari kasus ini: konsistensi jangka panjang lebih penting daripada sekadar satu momen gemilang.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah siapa yang akan menggantikan Sellami. JFA diperkirakan akan mempertimbangkan pelatih lokal atau asing yang memiliki pengalaman di turnamen besar. Dengan Piala Asia 2027 hanya tinggal dua tahun lagi, waktu menjadi musuh utama. Apakah Yordania mampu bangkit kembali, atau justru akan mengalami kemunduran seperti yang kerap dialami tim debutan Piala Dunia? Jawabannya akan ditentukan dalam beberapa bulan ke depan.



