Alexia Putellas ke London City: Sang Ratu Tinggalkan Barcelona Demi Ambisi Kang
Baca dalam 60 detik
- Pemain terbaik dunia Alexia Putellas bergabung dengan klub promosi London City Lionesses, meninggalkan Barcelona setelah 14 tahun.
- Kepindahan ini didorong oleh visi pemilik Michele Kang untuk membangun klub independen yang ambisius, dengan potensi kemitraan bisnis di luar lapangan.
- Transfer ini memicu perdebatan baru tentang kesenjangan finansial di WSL dan masa depan regulasi batas gaji liga.

Alexia Putellas, yang dijuluki 'La Reina' di Spanyol, secara resmi meninggalkan Barcelona setelah 14 tahun untuk bergabung dengan London City Lionesses, klub promosi yang baru setahun bermain di Women's Super League (WSL). Keputusan ini mengejutkan banyak pihak, mengingat statusnya sebagai salah satu pesepak bola wanita terhebat sepanjang masa dengan koleksi 38 trofi utama bersama Barcelona, termasuk empat Liga Champions.
Putellas, yang meraih Ballon d'Or dua kali berturut-turut pada 2021 dan 2022, memutuskan hengkang setelah merasa telah memenangkan segalanya di level klub. Sumber internal menyebutkan ia menginginkan tantangan baru dan selalu tertarik bermain di WSL. Meskipun menerima tawaran dari klub-klub top dunia, termasuk Boston Legacy dari Amerika Serikat, ia memilih London City karena kekagumannya pada ambisi pemilik klub, miliarder Amerika Michele Kang.
Kang, yang juga memiliki klub Prancis Lyon, telah membangun proyek ambisius di London City. Putellas mengungkapkan bahwa ia pertama kali bertemu Kang empat tahun lalu di Miami dan sejak saat itu mereka sering berdiskusi tentang visi pengembangan sepak bola wanita. Faktor inilah yang menjadi daya tarik utama, bukan semata-mata faktor finansial. Meskipun gaji pokok Putellas dilaporkan di bawah ยฃ1 juta per tahun, dengan tambahan bonus dan tanpa hak gambar, ia menolak tawaran yang lebih menggiurkan dari klub lain.
Keputusan Putellas untuk bergabung dengan klub yang baru promosi ke WSL dan tidak berlaga di Liga Champions musim ini menunjukkan prioritasnya pada dampak jangka panjang. Ia ingin membangun warisan, baik di dalam maupun di luar lapangan, dan membantu pertumbuhan klub yang sedang membangun basis penggemar dari nol. Kehadirannya diperkirakan akan menjadi katalis bagi pemain top lain untuk bergabung, dan London City sudah menerima sejumlah pertanyaan terkait hal tersebut.
Transfer ini tidak hanya mengguncang peta kekuatan WSL, tetapi juga memicu perdebatan tentang kesenjangan finansial di liga. Kemampuan klub seperti London City, yang didanai oleh investor kaya, untuk merekrut pemain bintang dengan gaji tinggi menimbulkan kekhawatiran bagi klub-klub kecil yang tidak memiliki kapasitas finansial serupa. Hal ini kembali membuka diskusi tentang efektivitas batas gaji (salary cap) WSL yang membatasi pengeluaran klub hingga 80% dari total pendapatan, ditambah investasi tambahan maksimal ยฃ4 juta.
Selain itu, keputusan Putellas untuk bergabung dengan klub milik Kang juga menimbulkan pertanyaan tentang aturan UEFA yang melarang kepemilikan multi-klub untuk berpartisipasi di Liga Champions. Jika London City berhasil lolos ke kompetisi Eropa, Kang harus memilih antara Lyon atau London City. Ini menjadi skenario yang menarik untuk dicermati ke depannya.
Bagi sepak bola wanita Indonesia, langkah Putellas ini bisa menjadi inspirasi. Meskipun belum ada pemain Indonesia yang bermain di level setinggi itu, kepindahan bintang global ke klub yang relatif kecil menunjukkan bahwa proyek ambisius dan visi jangka panjang bisa menarik talenta terbaik. Hal ini juga menegaskan bahwa WSL semakin menjadi tujuan utama pemain top dunia, menggeser dominasi liga Amerika Serikat. Pertanyaannya, apakah langkah berani Putellas ini akan membawa London City ke papan atas Eropa, atau justru menjadi bumerang bagi kariernya?



