Messi Cetak Gol ke-20 di Piala Dunia, Miami Larut dalam Euforia
Baca dalam 60 detik
- Lionel Messi mencetak gol ketujuhnya di Piala Dunia 2026 saat Argentina mengalahkan Cape Verde 3-2 di Miami, sekaligus menjadi pemain pertama dengan 20 gol sepanjang karier turnamen.
- Euforia penggemar Argentina di Miami mencapai puncak, dengan mural, bendera, dan hidangan khas Argentina yang dinamai Messi menghiasi kota.
- Di usia 39 tahun, kemampuan membaca ruang dan timing Messi tetap menjadi pembeda, meski intensitas larinya berkurang.

Lionel Messi kembali menorehkan sejarah di Piala Dunia. Gol pembuka Argentina dalam kemenangan dramatis 3-2 atas Cape Verde di Miami tidak hanya mengamankan tiket ke babak 16 besar, tetapi juga menjadikannya pemain pertama—pria maupun wanita—yang mengoleksi 20 gol sepanjang karier di turnamen akbar ini. Pada usia 39 tahun, megabintang Inter Miami itu masih menjadi pusat perhatian, baik di dalam lapangan maupun di luar stadion.
Pertandingan di Hard Rock Stadium itu berlangsung sengit. Cape Verde, yang berada di peringkat 60-an dunia, tampil percaya diri dan berkali-kali merepotkan lini belakang Argentina yang bertengger di peringkat kedua. Namun, Messi kembali membuktikan bahwa satu momen saja sudah cukup. Memanfaatkan umpan terukur Lisandro Martinez, ia berlari menembus garis pertahanan, mengontrol bola dengan sentuhan pertama yang sempurna, lalu mencungkilnya melewati kiper lawan. Mantan penyerang Skotlandia James McFadden, yang berkomentar untuk BBC Radio 5 Live, menyebut penyelesaian itu "luar biasa"—kombinasi timing lari, umpan, dan sentuhan yang eksplisit.
Gol tersebut adalah yang ketujuh bagi Messi di Piala Dunia 2026. Catatan ini akan cukup untuk menjadi pencetak gol terbanyak di lima dari enam edisi Piala Dunia sebelumnya. Ia juga menjadi pemain pertama yang mencetak tujuh gol atau lebih di dua Piala Dunia berbeda, setelah sebelumnya melakukannya pada 2022. Tak hanya itu, Messi kini telah mencetak gol dalam delapan penampilan beruntun di Piala Dunia—sebuah rekor yang belum pernah dicapai siapa pun.
Yang membuat Messi tetap istimewa bukanlah kecepatan atau pressing tanpa henti, melainkan pemahaman luar biasa terhadap ruang dan waktu. Ia memindai lapangan sebelum menerima bola, menunggu momen yang tepat, dan menghemat energi hingga saat krusial tiba. McFadden menambahkan bahwa Messi kini lebih sering turun ke belakang untuk merebut bola dan memimpin pressing, meski tidak dengan intensitas tinggi. "Sepanjang tahun, Messi kadang berjalan di lapangan untuk menilai situasi. Tapi di sini ia memimpin pressing," ujarnya.
Euforia Messi tidak hanya terasa di lapangan. Miami, yang memiliki komunitas Argentina besar, berubah menjadi lautan biru-putih. Sejak kedatangannya di Inter Miami pada 2023, pengaruhnya meluas ke berbagai aspek kehidupan kota. Mural raksasa bergambar dirinya menghiasi dinding-dinding bangunan, bendera Argentina berkibar di setiap sudut, dan anak-anak mengenakan kostum nomor 10 bermain sepak bola di pantai. Bahkan kuliner pun ikut terpengaruh: sejumlah restoran Argentina menyajikan milanesa—hidangan daging sapi atau ayam tepung yang konon menjadi favorit Messi—dengan nama yang diambil dari sang bintang.
Di zona pers setelah pertandingan, hiruk-pikuk mencapai level lain. Wartawan berdesakan, mikrofon diacungkan, dan kamera berusaha menangkap sekilas sosok Messi sebelum ia menghilang di koridor. Beberapa platform digital di seluruh dunia bahkan didedikasikan khusus untuk mengikuti setiap langkahnya, mendokumentasikan babak terbaru dari karier yang terus memukau.
Fenomena ini menunjukkan bahwa Piala Dunia 2026 bukan sekadar perburuan gelar bagi Argentina. Bagi banyak penggemar global, ini adalah kesempatan lain untuk menyaksikan salah satu pemain terbesar dalam sejarah sepak bola terus menorehkan rekor. Pertanyaannya kini: mampukah Messi membawa Argentina mempertahankan gelar juara dunia, atau akankah usia dan tekanan lawan seperti Cape Verde menjadi batu sandungan? Satu hal pasti, setiap langkahnya akan terus menjadi tontonan yang tak boleh dilewatkan.



