Jalan Norwegia ke Perempat Final: Cetak Biru yang Bisa Ditiru Skotlandia?
Baca dalam 60 detik
- Norwegia menembus perempat final Piala Dunia untuk pertama kalinya setelah menumbangkan Brasil 2-0, berkat duet gol Erling Haaland.
- Keberhasilan ini dipicu reformasi akar rumput sejak 2013: investasi besar-besaran pada pelatih, lapangan sintetis, dan National Team School.
- Skotlandia, yang gagal lolos dari fase grup, kini dihadapkan pada pertanyaan perlunya perubahan sistemik serupa setelah mundurnya Steve Clarke.

Kemenangan mengejutkan Norwegia atas Brasil di babak 16 besar Piala Dunia 2026 bukan sekadar kejutan sesaat. Ini adalah puncak dari transformasi sepak bola yang dirancang selama lebih dari satu dekade, dan menjadi tamparan keras bagi Skotlandia โ negara dengan jumlah penduduk hampir identik yang justru pulang lebih awal setelah penantian 28 tahun.
Dua gol Erling Haaland di New Jersey memastikan tiket perempat final perdana bagi Norwegia sejak 1938. Namun di balik gemilang sang megabintang, terdapat fondasi yang dibangun dari kesadaran akan kebuntuan. Setelah nyaris satu dekade gagal lolos ke turnamen besar pasca-Euro 2000, otoritas sepak bola Norwegia menekan tombol reset. Mereka menggelontorkan dana besar untuk kursus kepelatihan, pembangunan lapangan sintetis, dan pendirian National Team School (NTS) pada 2013.
Hasilnya terlihat nyata. Antara 2016 hingga 2025, sebanyak 539 lapangan sintetis baru dibangun dan 586 lainnya direnovasi. Dari 26 pemain yang dibawa pelatih Stale Solbakken ke Amerika Serikat, 17 di antaranya bermain di empat liga top Eropa musim lalu. Yang lebih penting, 25 dari 26 pemain menjalani masa pembinaan di Norwegia โ hanya Haaland dan gelandang Rangers Thelo Aasgaard yang lahir di luar negeri. Haaland dan kapten Arsenal Martin Odegaard adalah produk NTS.
Perbandingan dengan Skotlandia sangat kontras. Dari 26 pemain yang dibawa Steve Clarke, tujuh di antaranya tidak menghabiskan masa muda di Skotlandia. Asosiasi Sepak Bola Skotlandia (SFA) justru mengumumkan penutupan sekolah-sekolah pembinaan mereka โ yang beroperasi sejak 2012 โ pada November lalu, dengan alasan minimnya bakat yang lahir dari sistem tersebut. Mantan striker Inggris Ian Wright menuding ada pihak yang "gagal besar" dalam mengelola potensi sepak bola Skotlandia dan menyerukan visi yang lebih berani.
Kisah sukses Norwegia tidak hanya bergantung pada Haaland. Klub Bodo/Glimt, yang bangkit dari degradasi pada 2016, kini menjadi mesin pencetak talenta. Tiga dari empat pemain Norwegia yang masih bermain di liga domestik adalah produk klub dari Lingkaran Arktik tersebut. Bodo/Glimt bahkan menjadi tim Norwegia pertama yang menembus semifinal kompetisi Eropa musim lalu. Model pengembangan pemain dari bawah ke atas inilah yang membuat Norwegia mampu bersaing di panggung terbesar.
Bagi Indonesia, pelajaran dari Norwegia sangat relevan. Dengan jumlah penduduk yang juga sebanding โ sekitar 5,5 juta jiwa โ Norwegia membuktikan bahwa investasi jangka panjang pada infrastruktur dan pembinaan usia muda bisa mengalahkan keterbatasan demografis. Program NTS yang memetakan bakat dari seluruh pelosok negeri, ditambah dukungan lapangan sintetis yang memungkinkan latihan sepanjang tahun, menjadi kunci yang patut ditiru oleh PSSI dan pemerintah.
Kini, setelah Clarke mengundurkan diri, Skotlandia berada di persimpangan jalan. Apakah mereka akan terus menyalahkan individu, atau justru meniru cetak biru Norwegia yang telah terbukti? Jawabannya mungkin akan menentukan apakah Skotlandia akan kembali menjadi penonton atau akhirnya tampil sebagai pesaing di Piala Dunia mendatang.



