Tuchel Sarankan Anak-Anak Begadang demi Piala Dunia: Antara Momen Bersejarah dan Risiko Sekolah
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Inggris Thomas Tuchel meminta orang tua mengizinkan anak-anak begadang untuk menonton laga Piala Dunia melawan Meksiko yang kick-off pukul 01.00 BST.
- Kepala sekolah dan serikat guru mendukung fleksibilitas jam masuk sekolah, sementara menteri keterampilan menentang karena khawatir mengganggu pendidikan.
- Pemerintah Inggris menyerahkan keputusan pada orang tua, namun menekankan pentingnya kehadiran di sekolah pada Senin pagi.

Pelatih timnas Inggris, Thomas Tuchel, secara terang-terangan mendorong para orang tua untuk mengizinkan anak-anak mereka begadang demi menyaksikan laga babak 16 besar Piala Dunia melawan Meksiko yang akan berlangsung pada Senin dini hari. Pertandingan yang dijadwalkan kick-off pukul 01.00 waktu Inggris itu diperkirakan baru berakhir sekitar pukul 04.00 jika harus ditentukan lewat adu penalti.
"Tulis surat izin untuk sekolah dan biarkan mereka menonton," ujar Tuchel sambil tersenyum kepada media usai kemenangan Inggris atas DR Kongo. "Masih banyak hari sekolah ke depan, tetapi Piala Dunia hanya setiap empat tahun sekali. Biarkan mereka menonton."
Pernyataan itu memicu perdebatan sengit di kalangan orang tua, guru, dan pejabat publik. Di satu sisi, momen Piala Dunia dianggap sebagai pengalaman langka yang mampu menyatukan bangsa. Namun di sisi lain, begadang hingga larut malam berpotensi mengganggu konsentrasi belajar anak di sekolah keesokan harinya.
Beberapa sekolah di Inggris justru mengambil langkah proaktif. Steve Heal, kepala sekolah Malmesbury Church of England Primary School di Wiltshire, berencana memutar ulang pertandingan pada pukul 07.00 pagi agar murid-muridnya bisa menikmati laga bersama tanpa harus begadang. "Saya meminta orang tua tidak memberi tahu hasil pertandingan sebelum anak tiba di sekolah, karena kami ingin semua merasakan suka dan duka bersama," jelas Heal. Ia memperkirakan hanya separuh dari 420 murid yang akan hadir, namun tetap menyiapkan tempat duduk dan makanan untuk semua.
Di sisi lain, Menteri Keterampilan Baroness Jacqui Smith menolak keras usulan Tuchel. "Saya tidak ingin menjadi perusak suasana, tapi perusak suasana terbesar adalah anak muda yang tidak memiliki bekal belajar untuk menjalani hidup," tegasnya. Smith mengaku akan tidur siang sebentar dan merayakan kemenangan keesokan paginya.
Serikat Guru Nasional (NEU) melalui sekretaris jenderal Daniel Kebede justru mendukung fleksibilitas jam masuk sekolah pada Senin pagi. Sementara itu, Perdana Menteri Keir Starmer mengumumkan bahwa pub di Inggris dan Wales boleh buka hingga pukul 05.00 pagi untuk mengakomodasi para penggemar.
Bagi pembaca di Indonesia, fenomena ini mengingatkan pada dilema serupa saat Piala Dunia 2022 lalu, ketika banyak pelajar Indonesia begadang untuk mendukung timnas Argentina atau Prancis. Perbedaan zona waktu yang ekstrem (Indonesia 6-7 jam lebih cepat dari Inggris) membuat pertandingan dini hari menjadi tantangan tersendiri. Namun, semangat kebersamaan dan euforia sepak bola seringkali mengalahkan kekhawatiran akan produktivitas belajar.
Pemerintah Inggris sendiri memilih sikap netral. Juru bicara Downing Street menyatakan, "Orang tua akan membuat keputusan sendiri... Kami ingin semua orang menikmati pertandingan, tetapi anak-anak harus tetap bersekolah pada Senin." Pertanyaan besarnya: apakah momen sepak bola sepadan dengan risiko menurunnya performa akademik anak? Atau justru pengalaman kolektif seperti inilah yang membentuk kenangan masa kecil yang tak ternilai?



