FIFA Batalkan Skorsing Balogun Usai Trump Telepon Infantino, Belgia Protes
Baca dalam 60 detik
- Striker AS Folarin Balogun diizinkan tampil lawan Belgia di 16 besar Piala Dunia setelah FIFA menangguhkan sanksi kartu merahnya selama satu tahun masa percobaan.
- Keputusan ini dipicu oleh telepon Presiden AS Donald Trump kepada Presiden FIFA Gianni Infantino, memicu kontroversi soal intervensi politik dalam olahraga.
- Federasi Sepak Bola Belgia (RBFA) mengecam langkah FIFA yang dinilai melanggar aturan turnamen dan menciptakan preseden berbahaya.

FIFA secara kontroversial membatalkan skorsing otomatis striker Amerika Serikat, Folarin Balogun, untuk laga 16 besar Piala Dunia 2026 melawan Belgia setelah Presiden AS Donald Trump menelepon langsung Presiden FIFA Gianni Infantino. Keputusan yang diumumkan pada Minggu (5/6) itu memicu kemarahan Federasi Sepak Bola Belgia (RBFA) dan kembali mempertanyakan independensi badan sepak bola dunia.
Balogun mendapat kartu merah langsung pada babak kedua saat AS mengalahkan Bosnia 2-0, setelah kakinya mengenai pergelangan kaki gelandang Bosnia, Tarik Muharemovic, yang kemudian dikonfirmasi melalui tinjauan VAR. Pelatih AS Mauricio Pochettino bersikeras bahwa pelanggaran tersebut tidak layak dihukum kartu merah. Trump, yang diketahui dekat dengan Infantino, segera menghubungi presiden FIFA untuk meminta peninjauan ulang.
Alih-alih mencabut kartu merah, FIFA menggunakan Pasal 27 Kode Disiplin untuk menangguhkan pelaksanaan skorsing satu pertandingan dengan masa percobaan satu tahun. Artinya, Balogun tetap dianggap melakukan pelanggaran, namun hukumannya ditunda. Jika dalam setahun ia melakukan pelanggaran serupa, skorsing akan diberlakukan. Langkah ini terbilang tak lazim karena aturan turnamen secara tegas menyebut kartu merah langsung otomatis menyebabkan skorsing laga berikutnya.
RBFA dengan tegas menolak keputusan tersebut. Dalam pernyataan resmi, federasi Belgia menyoroti kontradiksi antara Pasal 27 yang digunakan FIFA dengan Pasal 66.4 dan 10.5 peraturan turnamen yang mewajibkan skorsing otomatis. "Keputusan ini bertentangan langsung dengan regulasi turnamen," tulis RBFA. Mereka juga mempertanyakan konsistensi FIFA, mengingat kasus serupa seperti kartu merah Assim Madibo (Qatar) berujung skorsing lima pertandingan.
Keputusan ini bukan pertama kalinya FIFA menggunakan kewenangan diskresionernya. Pada 2025, Cristiano Ronaldo diizinkan tampil di laga pembuka Piala Dunia setelah skorsing tiga pertandingannya ditangguhkan. Namun, kasus Balogun berbeda karena melibatkan intervensi langsung kepala negara. Presiden Trump, yang dikenal dekat dengan Infantino, secara terbuka meminta FIFA meninjau keputusan wasit. Gedung Putih pun merayakan keputusan ini dengan unggahan "USA-USA-USA" di media sosial.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat betapa besarnya pengaruh politik dalam sepak bola global. Di tengah upaya FIFA membersihkan citra setelah skandal korupsi, langkah menangguhkan sanksi atas permintaan presiden negara adidaya justru memperkuat anggapan bahwa aturan bisa dibengkokkan demi kepentingan tertentu. Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, yang pernah menjabat sebagai anggota Dewan FIFA, diharapkan dapat menyuarakan pentingnya konsistensi regulasi di forum internasional.
Pertandingan AS vs Belgia dijadwalkan berlangsung di Seattle pada Senin (6/6) waktu setempat. Kehadiran Balogun jelas menguntungkan tuan rumah, namun meninggalkan pertanyaan besar: apakah FIFA akan menerapkan standar yang sama jika negara kecil yang meminta keringanan? Ataukah ini hanya hak istimewa bagi negara besar?



