Legasi Kiper Mesir: Ahmed Shobeir Berharap Sang Putra Lampaui Prestasinya di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Ahmed Shobeir, kiper legendaris Mesir di Piala Dunia 1990, kini menyaksikan putranya Mostafa bersinar di Piala Dunia 2026 dan membawa Mesir lolos ke fase gugur untuk pertama kalinya.
- Mostafa Shobeir tampil gemilang dengan penyelamatan krusial, termasuk penalti, dan berpeluang menjadi kiper Mesir dengan penampilan terbanyak di Piala Dunia jika turun melawan Australia.
- Ahmed mengakui sepak bola modern sangat berbeda dan menilai Mostafa jauh lebih baik darinya, namun ia hanya berpesan satu kata: 'Nikmati'.

Kisah keluarga Shobeir kembali menghiasi Piala Dunia. Tiga puluh enam tahun setelah Ahmed Shobeir menjadi pahlawan di bawah mistar gawang Mesir pada Italia 1990, putranya, Mostafa Shobeir, kini mengikuti jejak sang ayah dan justru melampaui pencapaian sang legenda dengan membawa Mesir lolos ke babak gugur untuk pertama kalinya dalam sejarah keikutsertaan mereka di Piala Dunia 2026.
Mostafa, kiper berusia 26 tahun, tampil impresif sejak laga pembuka melawan Belgia, kemudian bersinar saat menghadapi Selandia Baru dan Iran. Penampilannya yang paling dikenang adalah penyelamatan penalti krusial saat melawan Iran, yang menjadi kunci sukses Mesir melaju ke babak 32 besar. Kini, Mesir bersiap menghadapi Australia di Dallas Stadium pada Jumat mendatang, dan Mostafa berpeluang mencatatkan namanya sebagai kiper Mesir dengan penampilan terbanyak di Piala Dunia jika ia kembali dipercaya bermain.
Ahmed Shobeir, yang kini menyaksikan dari tribun sebagai seorang ayah yang bangga sekaligus cemas, mengakui bahwa perasaannya campur aduk. “Sejujurnya, saya tidak pernah membayangkan nama Shobeir akan kembali disebut di Piala Dunia setelah sekian lama, dan di posisi yang sama,” ujarnya. “Saya tahu Mostafa adalah kiper yang sangat baik dengan potensi luar biasa, tapi tidak pernah terbayang akan seperti ini.”
Bagi Ahmed, kenangan Piala Dunia 1990 tetap membekas, terutama laga melawan Inggris yang dianggapnya sebagai pertandingan terbaik dalam kariernya. Namun, ia masih merasa sedih mengingat kesalahan saat mengantisipasi umpan silang yang berujung gol bunuh diri rekannya. Meski demikian, ia bangga karena namanya masuk dalam jajaran kiper terbaik fase grup versi sejumlah surat kabar kala itu.
Menariknya, Ahmed enggan membandingkan dirinya dengan sang putra. “Sepak bola telah berubah drastis antara 1990 dan 2026. Ilmu pengetahuan dan teknologi telah masuk ke dalam permainan, dan tuntutan terhadap kiper kini sangat berbeda. Saya yakin Mostafa jauh lebih baik dari saya. Dia kiper kelas atas dengan visi yang luar biasa, lebih baik dalam menguasai bola, dan sangat percaya diri,” tegasnya.
Meski demikian, nasihat Ahmed kepada Mostafa sederhana saja: “Nikmati.” Kata itu terus ia ulang, baik sebelum pertandingan liga maupun di Piala Dunia. “Saya selalu berdoa untuknya dan mengatakan agar dia menikmati sepak bola, karena saya percaya ketika seorang pemain menikmati apa yang dilakukannya di lapangan, dia akan menghasilkan yang terbaik.”
Menjelang laga melawan Australia, Ahmed berharap Mostafa dapat menjaga gawangnya tetap perawan dan pertandingan tidak berlanjut ke adu penalti yang menurutnya melelahkan. Ia juga optimistis Mesir dapat melanjutkan perjalanan mereka, meskipun ia mengakui Australia memiliki keunggulan fisik yang akan menjadi tantangan tersendiri. “Saya yakin para pemain kami mampu tampil baik dan melaju lebih jauh,” pungkasnya.
Pertanyaan besarnya kini: mampukah Mostafa Shobeir membawa Mesir melangkah lebih jauh dari yang pernah dicapai ayahnya, dan mengukir nama dalam sejarah sepak bola Afrika?



