Duel Familiar di Vancouver: Swiss vs Algeria, Petkovic Jadi Momok
Baca dalam 60 detik
- Swiss berhadapan dengan Algeria di babak 32 besar Piala Dunia, dengan pelatih Algeria Vladimir Petkovic yang pernah menukangi Swiss selama tujuh tahun.
- Pertemuan ini mempertemukan dua pelatih yang saling kenal, Murat Yakin dan Petkovic, yang sebelumnya berduel di Liga Swiss.
- Laga di BC Place Stadium diprediksi ketat, tanpa unggulan jelas, dengan kedua tim ingin menorehkan sejarah.

Swiss harus menghadapi lawan yang sangat mengenal mereka ketika berjumpa Algeria pada babak 32 besar Piala Dunia, Kamis (1/7) di Vancouver. Algeria kini diasuh Vladimir Petkovic, arsitek yang membesarkan tim Swiss selama tujuh tahun dan membawa mereka ke level baru.
Petkovic memulai karier di Swiss bersama klub amatir Chur 97 pada 1987, lalu menjadi pemain dan pelatih di beberapa klub sebelum menangani tim nasional Swiss pada 2014-2021. Di bawah arahannya, Swiss melesat ke perempat final Piala Dunia 2014 dan lolos ke Piala Eropa. Ia juga yang membesarkan nama kapten Swiss Granit Xhaka dan striker Breel Embolo.
Embolo, yang kini menjadi andalan lini depan Swiss, mengakui perubahan besar sejak Petkovic pergi. "Saya terlihat berbeda dibanding enam tahun lalu. Ada perbedaan besar," ujarnya bercanda. "Kedua tim ingin menang, kami ingin menulis sejarah. Petkovic benar-benar menaikkan standar tim Swiss. Kini kami ingin melangkah lebih jauh. Kami punya pelatih baru. Sulit membandingkan pelatih, tetapi satu kesamaan: mereka ingin menulis sejarah."
Pertemuan ini bukan kali pertama bagi pelatih Swiss Murat Yakin dan Petkovic. Keduanya pernah beradu taktik di Liga Swiss saat Yakin menangani Thun dan Petkovic melatih Young Boys. "Setiap kali bertemu sangat spesial. Saya pelatih Thun, dia pelatih Young Boys, seperti kakak beradik. Selalu positif," kenang Yakin. "Pendekatan taktis sangat kental, dan besok akan sama. Tapi yang menentukan adalah para pemain."
Yakin menepis anggapan Swiss lebih diunggulkan. "Di babak knockout, tak ada unggulan. Pertandingan seimbang, termasuk besok. Algeria punya kualitas individu, teknis mumpuni, pressing keras. Tapi kami akan bermain sesuai gaya sendiri. Ini akan jadi laga terbuka. Sejak awal kami akan menentukan tempo dan menang."
Bagi Indonesia, laga ini menarik karena menunjukkan bagaimana seorang pelatih yang mengenal betul lawannya bisa menjadi faktor penentu. Petkovic tahu kelemahan dan kekuatan Swiss, sementara Yakin juga paham cara Petkovic bekerja. Ini mengingatkan pada duel taktik di level klub Eropa yang kerap menentukan hasil akhir. Pertandingan ini juga menjadi ajang pembuktian bagi pemain-pemain keturunan Afrika yang memperkuat Swiss, seperti Embolo (ayah Kamerun) dan Xhaka (ayah Kosovo).
Dengan kedua tim sama-sama haus sejarahโSwiss belum pernah menembus perempat final sejak 2014, Algeria ingin melaju lebih jauh setelah terakhir kali lolos ke babak 16 besar pada 2014โlaga ini dipastikan sengit. Siapa yang mampu memanfaatkan pengetahuan tentang lawan dan mengontrol emosi akan melaju. Pertanyaannya, akankah Petkovic kembali menjadi duri bagi Swiss, atau justru Yakin yang membalikkan sejarah?



