Stadion Aztec Jadi 'Pemain Kedua Belas': Meksiko vs Inggris di Fase Gugur Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Meksiko belum terkalahkan di kandang dalam laga Piala Dunia sejak 2013, menjadikan Stadion Kota Meksiko benteng yang menakutkan bagi lawan.
- Pelatih Inggris Thomas Tuchel mengakui atmosfer stadion dan dukungan 80.824 penonton sebagai tantangan terberat timnya di turnamen ini.
- Laga terakhir Piala Dunia 2026 di Meksiko ini akan menjadi ujian mental dan fisik, dengan ketinggian kota yang mempengaruhi performa pemain.

Stadion Kota Meksiko, yang dikenal sebagai 'Aztec', akan menjadi saksi pertarungan sengit antara tuan rumah Meksiko dan Inggris pada babak 16 besar Piala Dunia 2026, Minggu (5/7) nanti. Laga ini bukan sekadar perebutan tiket perempat final, melainkan juga pertarungan melawan sejarah dan atmosfer yang legendaris.
Pelatih Inggris, Thomas Tuchel, menyebut stadion ini sebagai 'entitas hidup' yang bisa memberi ganjaran atau hukuman. "Ini saat yang tepat untuk berdamai dengan stadion... Stadion ini akan memberi kami imbalan. Ini karma," ujar Tuchel usai timnya menang 2-1 atas Kongo DR. Pernyataan itu mencerminkan betapa dalamnya sejarah stadion ini membekas di benak para pemain dan pelatih yang pernah merasakan magisnya.
Terakhir kali stadion ini menjadi tuan rumah laga Piala Dunia adalah pada final 1986, saat Diego Maradona mengantarkan Argentina mengalahkan Jerman Barat. Inggris sendiri pernah merasakan pahitnya tersingkir oleh Argentina di perempat final turnamen yang sama. Kini, dua cerita itu bertemu lagi, dan Tuchel percaya pada 'karma'.
Meksiko belum terkalahkan dalam laga Piala Dunia di kandang sejak 2013, ketika mereka takluk dari Honduras di kualifikasi. Rekor impresif ini tak lepas dari peran suporter yang memadati 80.824 kursi stadion. Pelatih Meksiko, Javier Aguirre, menyebut suporter sebagai 'pemain kedua belas' yang memberikan motivasi ekstra. "Perbedaan besar, tanpa diragukan lagi, adalah bermain di kandang sendiri. Ini pemain kedua belas kami. Kami tahu seluruh negara mendukung kami," kata Aguirre.
Atmosfer stadion yang mencekik telah menjadi topik hangat di kedua kubu. Mantan kiper Inggris, Joe Hart, dan legenda Wayne Rooney memperingatkan bahwa bermain di stadion ikonik ini di hadapan suporter fanatik adalah tantangan terberat Inggris di turnamen ini. Sementara itu, Javier Hernandez, mantan striker Meksiko, menambahkan bahwa ketinggian kota (lebih dari 2.200 meter di atas permukaan laut) membuat fisik pemain terkuras lebih cepat.
Bagi Indonesia, pertandingan ini bisa menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana atmosfer kandang dan dukungan suporter mampu mengangkat performa tim. Meksiko membuktikan bahwa faktor non-teknis seperti kebersamaan dengan fans dan adaptasi terhadap lingkungan bisa menjadi senjata ampuh. Timnas Indonesia, yang kerap bermain di kandang sendiri, bisa meniru semangat 'pemain kedua belas' ini untuk meraih hasil maksimal.
Laga nanti juga akan menjadi pertarungan taktik antara Tuchel yang pragmatis dan Aguirre yang mengandalkan semangat juang. Inggris diunggulkan secara kualitas individu, namun Meksiko memiliki keuntungan bermain di kandang. Pertanyaannya, mampukah Inggris mengatasi tekanan psikologis dan fisik yang sudah menunggu?
Alvaro Fidalgo, gelandang Meksiko, menulis di Instagram setelah mencetak gol pertamanya: "Sekali kau memilihnya, ia tak akan pernah melepaskanmu." Kalimat itu tak hanya merujuk pada tim nasional, tetapi juga pada Stadion Kota Meksiko. Siapa pun yang pernah bermain di sana akan terpesona selamanya. Kini, giliran Inggris yang harus membuktikan diri di hadapan 'raksasa' yang siap menelan mereka.



