JFA Beri Sinyal Perpanjang Kontrak Moriyasu Usia 57 Tahun: Target Piala Dunia 2030?
Baca dalam 60 detik
- Asosiasi Sepak Bola Jepang (JFA) berencana mempertahankan Hajime Moriyasu sebagai pelatih timnas meski gagal ke babak 16 besar Piala Dunia 2026.
- Moriyasu, yang menukangi Samurai Blue sejak 2018, dinilai berhasil membangun fondasi permainan meski belum mampu menembus sejarah kemenangan di fase gugur.
- Langkah JFA ini mengindikasikan fokus jangka panjang pada regenerasi pemain dan target ambisius di Piala Dunia 2030, yang bisa menjadi pelajaran bagi PSSI.

Asosiasi Sepak Bola Jepang (JFA) secara terbuka memberi sinyal akan mempertahankan Hajime Moriyasu sebagai pelatih kepala tim nasional, meski Samurai Blue baru saja tersingkir di babak 32 besar Piala Dunia 2026. Presiden JFA, Tsuneyasu Miyamoto, menyatakan bahwa pihaknya akan mulai mempersiapkan perpanjangan kontrak untuk pelatih berusia 57 tahun tersebut.
Miyamoto mengakui bahwa belum ada langkah resmi yang diambil, tetapi ia menegaskan, โKami harus melakukan persiapan ke arah itu.โ Pernyataan ini muncul sehari setelah Jepang dikalahkan Brasil 2-1 di Houston pada babak 32 besar, Senin (2/7) waktu setempat. Kekalahan itu kembali menutup peluang Jepang untuk meraih kemenangan perdana di fase gugur Piala Dunia.
Moriyasu telah menangani Jepang sejak 2018, memimpin tim di dua edisi Piala Dunia (2022 dan 2026). Di turnamen tahun ini, Jepang finis kedua Grup F dengan satu kemenangan dan dua hasil imbang. Meski gagal melaju, performa tim mendapat sambutan positif dalam rapat internal JFA pada Rabu (3/7). Banyak peserta rapat mengapresiasi permainan Jepang, menurut seorang pejabat asosiasi.
Keputusan JFA untuk mempertahankan Moriyasu menunjukkan pendekatan yang berbeda dari kebiasaan banyak federasi yang langsung mengganti pelatih setelah kegagalan di turnamen besar. Analis sepak bola Jepang menilai bahwa Moriyasu berhasil membangun identitas permainan yang solid, meski hasil di Piala Dunia belum memuaskan. โMoriyasu telah meletakkan dasar yang kuat untuk regenerasi pemain. JFA tampaknya lebih fokus pada proyek jangka panjang, bukan hasil instan,โ ujar seorang pengamat sepak bola Asia.
Bagi Indonesia, langkah JFA ini bisa menjadi referensi penting. PSSI yang tengah membangun timnas jangka panjang sering kali tergoda mengganti pelatih saat hasil tidak sesuai harapan. Stabilitas kepelatihan seperti yang dilakukan Jepang justru dinilai lebih efektif untuk membangun budaya sepak bola yang kompetitif. Apalagi, Jepang telah membuktikan diri sebagai kekuatan utama Asia dengan konsistensi lolos ke Piala Dunia dan menembus fase gugur di edisi 2010, 2018, dan 2022.
Tim Samurai Blue dijadwalkan kembali ke Jepang pada Kamis (4/7). Moriyasu akan menggelar konferensi pers untuk merangkum perjalanan tim di Piala Dunia 2026. Pertanyaan besarnya: apakah JFA akan memberi Moriyasu kesempatan ketiga di Piala Dunia 2030, atau justru mencari wajah baru untuk membawa Jepang ke level berikutnya?



