Meksiko Bangkit dari Kutukan 40 Tahun: Siap Hadapi Inggris di Babak 16 Besar
Baca dalam 60 detik
- Meksiko mengakhiri puasa kemenangan di fase gugur Piala Dunia setelah 40 tahun dengan mengalahkan Ekuador di babak 32 besar.
- Di bawah asuhan Javier Aguirre, El Tri mengandalkan pertahanan solid dan dukungan penuh suporter tuan rumah untuk melaju tanpa kebobolan.
- Laga melawan Inggris akan menjadi ujian sesungguhnya bagi skuad yang minim bintang Eropa namun kaya semangat juang.

Meksiko akhirnya memecahkan kutukan 40 tahun tanpa kemenangan di babak gugur Piala Dunia setelah menaklukkan Ekuador 2-0 pada putaran 32 besar. Kini, tim besutan Javier Aguirre bersiap menghadapi Inggris di babak 16 besar, dengan kepercayaan diri yang melonjak berkat rekor empat kemenangan beruntun tanpa kebobolan.
Sebagai tuan rumah bersama, Meksiko memanfaatkan sepenuhnya keuntungan bermain di kandang. Selain dukungan partisan dari puluhan ribu suporter, mereka juga diuntungkan oleh waktu pemulihan yang lebih panjang dan kondisi altitude yang menguras energi lawan. Aguirre, yang kembali menukangi El Tri untuk ketiga kalinya sejak 2024, berhasil memulihkan harmoni tim meski gaya pragmatisnya kerap dikritik.
Di atas kertas, Meksiko bukanlah tim terkuat yang pernah ada. Hanya sedikit pemain mereka yang bermain di lima liga top Eropa, dan bintang utama Raul Jimenez (35 tahun) sudah berada di senja karier. Namun, Aguirre membangun pertahanan yang kokoh berpasangan Johan Vasquez dan Cesar Montes, serta lini depan yang mengandalkan kecepatan sayap. Hasilnya, gawang Meksiko belum kebobolan satu gol pun sepanjang turnamen.
Meski demikian, produktivitas gol masih menjadi pekerjaan rumah. Dari delapan gol yang dicetak, sebagian besar lahir saat melawan lawan yang lebih lemah di fase grup. Jika Inggris mampu memutus jalur umpan dan mengganggu pola serangan Meksiko, tim tuan rumah bisa kehabisan ide. Aguirre sendiri sadar akan keterbatasan ini dan mengandalkan momen-momen krusial dari pemain seperti Jimenez yang sudah dua kali mencetak gol di Piala Dunia ini setelah gagal di tiga edisi sebelumnya.
Yang menarik perhatian adalah munculnya bakat muda Gilberto Mora. Gelandang kreatif asal Tijuana ini baru berusia 17 tahun, namun sudah menjadi starter di final Piala Emas tahun lalu dan kini menjadi harapan baru Meksiko. Ia adalah pemain termuda dalam sejarah Piala Dunia Meksiko, dan juga termuda dari negara mana pun yang memulai laga knockout sejak legenda Brasil Pele pada 1958. Jika Mora mampu tampil gemilang melawan Inggris, ia bisa menjadi simbol kebangkitan sepak bola Meksiko.
Bagi Indonesia, perjalanan Meksiko di Piala Dunia ini memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya konsistensi dan memanfaatkan faktor kandang. Meski tidak diunggulkan, El Tri membuktikan bahwa pertahanan yang solid dan semangat juang bisa mengalahkan prediksi. Di tengah minimnya wakil Asia di fase gugur, kisah Meksiko menjadi inspirasi bagi negara berkembang sepak bola untuk berani bermimpi besar.
Laga melawan Inggris akan menjadi ujian sesungguhnya. Inggris datang dengan skuad penuh bintang dan pengalaman di turnamen besar. Namun, Meksiko memiliki sejarah sebagai tuan rumah yang tangguh: dua kali menjadi tuan rumah (1970 dan 1986) dan dua kali mencapai perempat final. Kini, mereka hanya butuh satu kemenangan lagi untuk mengulang pencapaian tersebut. Pertanyaannya, mampukah El Tri mempertahankan rekor tanpa kebobolan dan menembus pertahanan Inggris yang juga kokoh?



