Nvidia dan Valar Atomics Uji Coba Pusat Data Bertenaga Nuklir: Jawaban atas Krisis Air dan Energi AI?
Baca dalam 60 detik
- Valar Atomics dan Nvidia berkolaborasi mengoperasikan pusat data kecil di Utah yang ditenagai mikroreaktor nuklir, diklaim sebagai yang pertama di dunia.
- Teknologi ini menggunakan reaktor berpendingin helium dan sistem pendingin cair loop tertutup, mampu menekan konsumsi air hingga mendekati nol.
- Langkah ini menjadi alternatif di tengah meningkatnya tekanan publik terhadap pembangunan pusat data yang boros sumber daya dan listrik.

Valar Atomics, perusahaan rintisan energi nuklir asal California, bersama Nvidia mengumumkan pengoperasian pusat data kecil di Utah yang sepenuhnya ditenagai oleh mikroreaktor nuklir. Kolaborasi ini disebut sebagai yang pertama di dunia dalam menghubungkan reaktor kecil dengan infrastruktur komputasi kecerdasan buatan (AI).
Dalam demonstrasi yang digelar di lokasi reaktor Valar, sistem berhasil menjalankan arsitektur chip AI terbaru Nvidia, Blackwell. Peristiwa ini terjadi hanya beberapa hari sebelum tenggat program percontohan Departemen Energi AS yang menargetkan tiga reaktor kecil mencapai kondisi kritis pada 4 Juli. Valar merupakan satu dari sekitar sepuluh startup yang tergabung dalam program tersebut.
Kemitraan ini muncul di tengah kekhawatiran meluas tentang konsumsi daya dan air oleh pusat data di Amerika Serikat. Jajak pendapat Reuters/Ipsos pada Juni menunjukkan hanya satu dari tiga warga Amerika yang menyetujui percepatan pembangunan pusat data, menjadikannya isu sensitif menjelang pemilu sela November mendatang.
John Josephakis, wakil presiden global Nvidia, menyatakan bahwa kerja sama ini merupakan eksplorasi sistem nuklir tanpa air yang dapat mendukung pabrik AI masa depan. "Melalui kerja sama dengan Valar Atomics, Nvidia tengah menjajaki bagaimana sistem nuklir canggih di belakang meteran dapat mendukung pabrik AI yang dibangun untuk skala dan keandalan yang dibutuhkan komputasi terakselerasi," ujarnya.
Pendiri Valar, Isaiah Taylor, menekankan bahwa proyek ini bertujuan membuktikan pembangkit nuklir dapat dibangun dengan cepat meskipun kerap menghadapi hambatan regulasi. Reaktor suhu tinggi milik Valar yang didinginkan helium menjadi kunci efisiensi air. Di sisi regulasi, Valar bersama negara bagian Texas dan Utah telah menggugat Komisi Regulasi Nuklir AS tahun lalu, menuntut agar kewenangan perizinan mikroreaktor diserahkan kepada negara bagian.
Fenomena ini relevan bagi Indonesia yang tengah gencar membangun pusat data dan mengembangkan energi nuklir. Kebutuhan listrik untuk AI dan komputasi awan diproyeksikan melonjak, sementara ketersediaan air bersih semakin terbatas. Teknologi reaktor kecil tanpa air bisa menjadi solusi potensial, meskipun regulasi dan penerimaan publik masih menjadi tantangan. Langkah Valar dan Nvidia bisa menjadi preseden bagi negara berkembang seperti Indonesia untuk mengadopsi teknologi serupa di masa depan.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah model "behind-the-meter" ini dapat diadopsi secara luas tanpa mengorbankan transparansi dan partisipasi publik. Dengan tekanan politik dan lingkungan yang meningkat, inovasi semacam ini mungkin menjadi kunci untuk menyeimbangkan pertumbuhan AI dengan keberlanjutan sumber daya.



