Gempa Flores 7,7 SR: 47 Tewas, Ribuan Warga Mengungsi, Tim SAR Berjuang Lawan Longsor
Baca dalam 60 detik
- Guncangan dahsyat berkekuatan 7,7 SR di lepas pantai Flores menewaskan sedikitnya 47 orang dan memicu eksodus massal warga ke dataran tinggi.
- Akses pertolongan terhambat longsor, sementara dua korban masih tertimbun dan enam lainnya luka-luka; peringatan tsunami sempat menyala sebelum dicabut.
- Catatan seismik menunjukkan Indonesia kembali diingatkan pada ancaman gempa besar, dengan rangkaian sejarah destruktif sejak 1992 hingga 2018.

Guncangan seismik berkekuatan 7,7 skala Richter yang berpusat di lepas pantai utara Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, Sabtu pagi, menewaskan sedikitnya 47 orang dan memaksa ribuan warga mengungsi ke tempat yang lebih aman. Tim penyelamat masih berjuang menjangkau korban di tengah reruntuhan, sementara dua orang dilaporkan masih tertimbun hidup-hidup di bawah puing bangunan.
Kepala operasi pencarian dan pertolongan setempat, Fathur Rahman, mengonfirmasi enam korban luka-luka telah dievakuasi ke fasilitas kesehatan terdekat. Namun, upaya penjangkauan lokasi terdampak terkendala longsor yang menutup sejumlah ruas jalan utama, memperlambat proses evakuasi dan distribusi bantuan.
Momen kepanikan terekam jelas dari kesaksian Yulian Juita Ekalia, dosen universitas di Ruteng yang berjarak lebih dari 100 kilometer dari episentrum. Ia menggambarkan getaran terasa seperti berada di atas trampolin raksasa, membuat seluruh isi rumah berhamburan. "Saya belum pernah merasakan gempa sebesar ini. Semua barang jatuh, dari televisi hingga piala anak saya," ujarnya kepada AFP melalui sambungan telepon, seraya menambahkan bahwa dirinya dan tetangga langsung berlarian keluar rumah dalam ketakutan.
Di Nagekeo, wilayah yang lebih dekat ke pusat gempa, warga sempat berlomba menuju bukit ketika air laut surut secara tiba-tiba, sebuah fenomena yang kerap menjadi pertanda datangnya tsunami. Meskipun peringatan tsunami telah dicabut, otoritas tetap mengimbau warga untuk tidak memasuki bangunan yang rusak karena risiko runtuh akibat gempa susulan. Hingga siang hari, puluhan getaran susulan masih terasa, dengan kekuatan terbesar mencapai magnitudo 6,1.
Yohanes Babo, warga Nagekeo berusia 56 tahun, menuturkan kekacauan terjadi saat ia baru tiba di pasar. "Orang-orang panik, berlarian ke sana kemari. Kami mengungsi sementara dan mencoba mencapai perbukitan," katanya. Di Maumere, seorang petugas layanan rumah sakit, Lukas Lotar, menyaksikan dinding-dinding retak dan sejumlah pasien berhamburan keluar untuk menyelamatkan diri.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat pahit akan ancaman seismik yang terus mengintai. Terletak di Cincin Api Pasifik, negeri ini memang langganan gempa. Flores sendiri pernah diguncang gempa 7,7 SR pada 1992 yang memicu tsunami dan menewaskan sekitar 2.500 jiwa. Memori kolektif juga masih merekam tragedi 2004 di Aceh yang menelan 170.000 korban jiwa, serta rentetan gempa Lombok 2018 yang merenggut lebih dari 550 nyawa. Pada tahun yang sama, gempa dan tsunami Palu di Sulawesi menyebabkan lebih dari 4.300 orang tewas atau hilang.
Kesiapsiagaan dan ketahanan infrastruktur menjadi sorotan utama. Wilayah Flores yang didominasi permukiman rural dengan bangunan rendah justru beruntung karena tidak banyak gedung bertingkat yang berisiko runtuh total. Namun, akses jalan yang terputus akibat longsor menunjukkan kerentanan logistik yang masih menjadi pekerjaan rumah. Pemerintah daerah dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kini berlomba mempercepat pembukaan akses dan memastikan kebutuhan dasar pengungsi terpenuhi.
Di tengah upaya penyelamatan, pertanyaan besar mengemuka: apakah sistem peringatan dini dan tata ruang di kawasan rawan gempa sudah cukup adaptif? Gempa susulan yang masih terus terjadi menuntut kewaspadaan warga, sementara tim SAR harus bekerja ekstra untuk menjangkau korban yang belum tertolong. Peristiwa ini sekali lagi menegaskan bahwa mitigasi bencana bukan sekadar dokumen, melainkan aksi nyata yang harus terus diperkuat.



